
Elsa tidak pernah sesuatu yang neko-neko dari Rian selama mereka berdua menjadi suami dan istri. Berapa kali Elsa katakan kalau ia cuma ingin kehidupan rumah tangganya normal seperti rumah tangga orang lain. Baiklah, Elsa paham Rian bukanlah bagian dari orang-orang berpendidikan tinggi. Dari sekian banyak pekerjaan di kampung, kenapa harus menjadi kuli panggul di pasar?
Bisa saja Rian bekerja di pabrik, menjaga toko, dan masih banyak pekerjaan yang lebih menjanjikan daripada menjadi kuli panggul.
"Kamu lelah, Sa? Sama ... aku pun begitu." Rian menurunkan kedua bahu seiring menghela napas. "Bukannya aku tidak mau mencari pekerjaan lebih layak seperti yang kamu katakan. Tapi di zaman ini, yang apa-apa selalu susah, mendapat pekerjaan tuh tidak mudah. Daripada keluarga kita tidak ada pemasukan, kenapa aku tidak bekerja yang ada dulu? Paling tidak, kita tidak sampai kehabisan uang untuk membeli beras. Faqih butuh susu, pampers. Kalau aku tidak bekerja, mau dikasih apa anak kita?" desah Rian menyugar rambutnya ke belakang. "Atau kalau kamu tetap memaksa aku bekerja di tempat lain. Aku terpaksa bekerja di kota, ikut jejaknya Hakim ..."
Kemarahan di dada Elsa seketika menguar, digantikan oleh perasaan tidak rela mendengar suaminya akan bekerja di kota seperti Hakim.
Kalau Rian bekerja di kota, itu artinya mereka akan tinggal terpisah? Elsa menggeleng pelan. Tanpa diminta, perempuan beranak satu itu telah memberikan respons secara tidak sadar.
Rian berbicara lagi. "Setelah aku pikir setiap malam, Sa. Bertahan di kampung dengan pekerjaan seadanya, tidak akan membuat hidup kita berubah. Maka aku harus bergerak, membuat keputusan berat untuk bisa keluar dari kemiskinan. Jujur saja aku sudah muak dihina orang, dipandang setelah mata. Sampai kamu dituduh mencuri makanan di rumah Mak Ratih. Aku malu. Aku merasa rendah diri karena dianggap tidak bisa membuat istriku bahagia. Maafkan aku, Sa ..."
Elsa diam mematung atas kata-kata yang dilontarkan oleh Rian. Elsa meremas ujung bajunya. Seketika hati Elsa mencelos, rasa takut akan kehilangan Rian sontak mengancam.
"Aku sudah bilang ke Hakim bahwa aku ingin sukses seperti dirinya. Tidak masalah apa pun pekerjaannya, aku akan menerimanya. Demi kamu dan Faqih, demi keluarga kecil kita, aku rela hidup terpisah dengan kalian walau cuma sementara."
Tubuh Elsa berubah kaku. Bibirnya mengatup rapat. Elsa menyadari bahwa ia telah menyakiti perasaan Rian terlalu sering. Elsa bukannya jahat, ia hanya menjadikan Rian sebagai pelampiasan kekesalannya atas hidupnya yang ia rasa terlalu malang.
"Sambil menunggu pekerjaan itu datang, aku akan bekerja di pasar dulu." Rian tersenyum tipis.
***
Cuma dua jam saja durasi Hakim tidur tadi malam. Bagaimana tidak, isi kepala Hakim telah dipenuhi oleh rasa takut, ancaman, kehidupan Hakim seolah berada di ujung tanduk setelah seorang teman dari kota menghubungi dirinya.
__ADS_1
Mak Ratih semalam menegur Hakim, namun Hakim berkilah, ia mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Tidak ada masalah. Ia pulang ke kampung karena memang merindukan ibunya.
Hakim ke luar kamar sembari mengusap wajahnya. Hakim menguap, ia bahkan belum mencuci muka dan menggosok giginya. Sampai di ruang makan, Hakim melihat Mak Ratih sedang menata makanan di meja.
"Tumben sekali kamu bangunnya pagi, Kim," sapa Mak Ratih tersenyum. "Cuci muka sama gosok gigi dulu. Terus kita makan sama-sama, ya."
Hakim mengangguk saja mengikuti perintah ibunya. Setelah mencuci wajah dan menggosok gigi, Hakim kembali ke meja makan. Mak Ratih pergi ke dapur untuk mengambil air minum, serta alat makan mereka.
Hati Mak Ratih selalu tenang kalau Hakim ada di rumah. Ia akan lebih bahagia lagi kalau semua anak-anaknya pulang ke kampung.
Mak Ratih memiliki lebih dari dua orang anak. Si bungsu sendiri adalah Hakim, anak kesayangan Mak Ratih—kalau kata anak-anak Mak Ratih yang lain. Namun saudara Hakim tidak pernah merasa iri. Karena ketika Hakim lahir ke dunia, Ayah mereka telah dipanggil oleh Tuhan. Maka dari itu semua saudara Hakim menyayangi si bungsu. Lebih banyak mengalah kepada Hakim dari sejak kecil.
"Asaalamualaikum, Mak ... Hakim ..."
"Kayak suara Elsa ya, Kim?" tanya Mak Ratih.
Hakim mengangguk. "Iya, Bu. Ada apa Elsa ke sini pagi-pagi begini ya?"
Mak Ratih menggeleng. "Ibu tidak tahu. Tunggu di sini kalau begitu, Ibu ke luar sebentar buat ketemu sama Elsa, ya."
"Waalaikumsalam ..." Mak Ratih membalas salam Elsa.
Mak Ratih mendapati Elsa berdiri di ambang pintu rumahnya sembari menggendong Faqih. Mak Ratih menghampiri perempuan itu, mengajak Elsa masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
"Tidak usah, Mak. Aku ke sini cuma mau ketemu sama Hakim. Hakim ada di rumah, Mak?" tanya Elsa setengah mendesak.
"Ada ... dia lagi di dalam sedang sarapan." Mak Ratih mengangkat sebelah alisnya. "Tumben kamu ke sini cari Hakim, Sa. Kenapa? Kamu sama Rian lagi ada masalah? Rian kabur lagi?" tebak Mak Ratih.
"Tidak, Mak," jawab Elsa. "Ada yang ingin aku bicarakan sama Hakim, Mak. Ini tentang Mas Rian," tambahnya.
Mak Ratih pikir Elsa ingin bicara serius kepada Hakim. Mak Ratih memilih menahan diri agar tidak bertanya lebih banyak.
"Duduk dulu, Sa. Mak ambilkan minum ya, sekalian panggil Hakim." Mak Ratih menunjuk ke kursi teras.
"Iya, Mak. Terima kasih." Elsa duduk dengan hati-hati karena Faqih tengah tidur dalam gendongannya.
***
Ia sama sekali tidak berselera makan. Andai saja ia berada di kota, Hakim akan lebih memilih menyendiri di dalam kamar. Tidak makan, minum. Hakim selalu begitu setiap kali ia berada dalam masalah. Namun berhubung di sini ia diawasi oleh Mak Ratih, Hakim tetap makan demi menghargai ibunya yang telah susah payah memasak untuk dirinya.
"Kim," panggil Mak Ratih kembali ke ruang makan. "Di luar ada Elsa lagi dari kamu. Katanya ini tentang Rian ..." Wanita setengah baya itu mendekat ke kursi putranya. "Mereka kenapa lagi, Kim? Elsa sama Rian masih bertengkar?" desak Mak Ratih agar Hakim mau bercerita.
Hakim agak bingung. Masalahnya ia tidak tahu apa-apa tentang masalah rumah tangga temannya. Terakhir kali Hakim pergi ke rima Elsa, katanya Rian sedang pergi mencari kerja.
"Kamu temui Elsa saja dulu. Kasihan dia menunggu lama. Apa lagi Elsa bawa Faqih," bujuk Mak Ratih.
Tanpa diminta Mak Ratih pun, Hakim sudah berniat akan beranjak dari tempat duduknya. Mak Ratih menghela napas, sejujurnya ia penasaran apa yang akan Elsa bicarakan dengan Hakim.
__ADS_1
"Semoga saja tidak ada masalah dengan Elsa dan Rian." Mak Ratih menarik kursi, lantas duduk di sana sendirian.