
Setelah menunggu seharian, tetap saja Rian tak kunjung menghubungi Elsa. Dia sendiri juga tidak berhasil menghubungi suaminya tersebut karena ponselnya masih saja nonaktif.
Hal ini membuat Elsa semakin dirundung kegelisahan. Meski dia mencoba meyakinkan dirinya bahwa suaminya pasti sebentar lagi akan menelponnya, tapi tetap saja rasa cemas menghinggapi dirinya.
Bahkan untuk melakukan pekerjaan rumah saja dia sampai tidak fokus. Contohnya seperti saat ini, dia sedang mengangkat ember berisi baju yang hendak dia cuci.
Seharusnya dia menuangkan cuciannya ke mesin cuci, tapi dia justru menuangkannya ke ember sampah. Elsa yang tersadar terbelalak kaget melihat tingkahnya.
"Astaga! Kenapa aku malah menuangkannya ke sini?!" celetuk Elsa lalu dengan cepat mengambil kembali cucian bajunya dan menaruhnya ke ember cucian.
Karena merasa tidak fokus mengerjakan pekerjaan rumahnya, Elsa memilih duduk sejenak di kursi ruang makan. Dia menghela nafas panjang sambil melamun. Semua ini terjadi karena dia memikirkan suaminya yang sampai detik ini belum ada kabarnya.
'Bagaimana ini? Kenapa Mas Rian belum bisa dihubungi juga? Teman-temannya juga tidak tahu keberadaannya. Siapa lagi yang bisa aku cari informasi tentang Mas Rian?' batin Elsa dengan pikiran kalutnya.
Saking gelisahnya, Elsa bahkan sempat berpikir untuk berangkat ke Jakarta dan mencaritahu kondisi suaminya tersebut. Namun, melihat kondisinya tidak mungkin dia meninggalkan Faqih atau menitipkannya ke orang tuanya. Lebih tidak mungkin lagi jika dia membawa Faqih menempuh perjalanan jauh. Putranya yang masih bayi itu pasti kelelahan.
"Apa yang sebaiknya aku lakukan? Apa aku sanggup menunggu kabarnya hingga besok?" gumam Elsa menimang-nimang keputusan apa yang akan dia ambil.
Saat tengah asyik bergelut dalam pikirannya, terdengar suara tangisan Faqih dari dalam kamarnya. Seakan tersadar dari lamunannya, Elsa pun berlari masuk ke dalam kamar untuk mengecek Faqih.
Elsa langsung menggendong puteranya yang terbangun dari tidurnya dan menangis kencang. "Kenapa menangis, Sayang? Faqih kebangun, ya? Jangan menangis Nak, sudah ada Ibu di sini," ucap Elsa berusaha menenangkan Faqih.
Namun Faqih tidak berhenti menangis, justru dia semakin rewel. Elsa pun mencoba memberikan susu botol yang tadi sempat dia buatkan untuk Faqih saat puteranya itu hendak tidur.
Sayangnya Faqih terlihat tidak mau meminum susunya dan dia masih terus saja menangis kencang. Elsa semakin bingung melihat puteranya yang tak kunjung berhenti menangis.
__ADS_1
'Faqih kenapa ya? Tidak biasanya dia menangis terus seperti ini,' batin Elsa yang kini mulai merasa cemas melihat kondisi puteranya.
Elsa lalu menatap puteranya yang sedang dia gendong. Merasa ada yang janggal, dia pun lalu menyentuh kening Faqih. "Astaga, Faqih demam. Pantas dia menangis terus seperti ini,"
Elsa lalu berjalan keluar kamar dan mengambil sebaskom air yang sudah diberi air dingin. Lalu membawanya kembali ke dalam kamar untuk mengompres Faqih.
Setelah mengompres Faqih beberapa saat, puteranya itu memang tampak sedikit lebih tenang. Namun demamnya masih belum juga turun.
Karena tidak punya persediaan obat di rumah, dan khawatir dengan demam yang tak kunjung turun, Elsa akhirnya memutuskan untuk membawa anaknya ke puskesmas terdekat.
Untungnya masih siang, jadi puskesmas yang ada di dekat rumah Elsa masih beroperasi. Elsa langsung mencegah sebuah becak yang kebetulan melintas di depan rumahnya.
"Pak, bisa antar saya ke puskesmas di ujung gang? Saya mau meriksakan anak saya yang sedang demam," ucap Elsa dengan tergesa-gesa.
"Mbak Elsa, siapa yang sakit?" teriak seorang ibu-ibu yang ternyata tetangga sebelah rumah Elsa. Beberapa tetangganya yang lain yang kebetulan sedang di depan rumah jadi penasaran ikut melihat ke arah Elsa.
"Faqih, Bu. Badannya panas, sepertinya dia demam. Saya mau bawa ke puskesmas mumpung masih siang," sahut Elsa dari dalam becak sambil menggendong Faqih yang tertidur.
"Hati-hati, Mbak. Semoga Faqih lekas sembuh ya," sahut ibu-ibu yang lain. Elsa hanya mengangguk lalu meminta tukang becak untuk segera berangkat.
"Kasihan sekali Mbak Elsa. Dia jadi pontang-panting sendirian begitu mengurus anaknya," komen Ibu paruh baya yang rumahnya tepat di sebelah kanan rumah Elsa.
"Memangnya suaminya ke mana? Kenapa sekarang tidak pernah kelihatan ya?" sahut Ibu lain yang terlihat lebih muda, dan kebetulan sedang mengobrol bersamanya.
"Dengar-dengar katanya merantau ke Jakarta mencari kerja," jawab ibu paruh baya tersebut sambil memandangi Elsa yang semakin menjauh dengan tatapan kasihan.
__ADS_1
"Oh ya? Wah, hebat sekali sudah jadi orang kota. Memangnya suami Mbak Elsa kerja apa di kota?" tanya ibu muda yang mulai merasa ingin tahu setelah mendengar bahwa suami Elsa pergi merantau ke ibukota.
"Entahlah, tidak ada yang tahu. Dia juga jarang sekali pulang ke rumah. Mungkin sudah betah hidup di kota," jawab ibu paruh baya tersebut sambil mengedikkan bahunya.
"Sayang sekali ya. Mbak Elsa sekarang memang sudah memiliki banyak uang. Tapi di satu sisi dia kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari pasangannya," komen si ibu muda menatap nanar ke arah becak yang di naiki Elsa dan tampak semakin menjauh.
"Namanya hidup, Bu. Pasti ada kurang dan lebihnya. Sudah, jangan bergosip lagi. Kita hanya bisa mendoakan semoga keluarga mbak Elsa bahagia," ucap ibu paruh baya tersebut mengakhiri perghibahan mereka.
Sebenarnya Elsa sudah pernah mendengar gosip tentang dirinya yang kini harus berjuang sendirian dari para tetangganya. Namun, dia tidak pernah mempedulikan omongan para tetangganya itu.
Dan dia juga tidak pernah sakit hati karena ucapan-ucapan tersebut. Karena kenyataannya memang saat ini dirinya harus berjuang sendiri di saat suaminya merantau ke ibukota.
Elsa sampai di puskesmas dan langsung membawa Faqih ke ruang periksa. Sementara Faqih sedang di periksa, dia menyelesaikan administrasinya.
Elsa masuk kembali ke ruang periksa setelah administrasinya beres. "Dok, bagaimana kondisi putra saya? Tidak ada yang parah, kan?" tanya Elsa dengan mimik wajah khawatirnya.
"Putra Ibu hanya demam biasa, tidak perlu khawatir. Akhir-akhir ini memang sedang musimnya anak balita kena flu. Ini saya kasih antibiotik dan obat penurun panas. Mohon di minumkan sampai habis ya Bu," ucap dokter puskesmas tersebut menjelaskan.
Elsa mengangguk paham lalu menggendong Faqih yang tertidur kembali keluar dari ruang periksa menuju bagian pengambilan obat. Sambil menunggu obatnya jadi, Elsa duduk termenung sambil menatap dan membelai kepala Faqih.
'Padahal kemarin dia masih baik-baik saja. Apa Faqih demam karena bisa merasakan kegelisahanku tentang Mas Rian ya?' batin Elsa menatap nanar putranya yang tertidur pulas dalam gendongannya.
Dia merasa putranya demam karena akhir-akhir ini dirinya terlalu gelisah mencemaskan suaminya. Bagaimana pun karena Faqih bayi, terkadang masih meminum ASI-nya walau lebih sering minum susu formula, jadi pasti bisa merasakan apa yang si Ibu rasakan karena ikatan batin mereka yang kuat.
'Aku tidak boleh gelisah begini terus. Faqih masih membutuhkan aku. Aku harus kuat demi Faqih. Aku yakin sebentar lagi juga Mas Rian pasti akan segera memberi kabar,' batin Elsa menguatkan dirinya kembali.
__ADS_1