
Rian menghela napasnya panjang, Karena ia merasa bingung harus mengatakan apa kepada istrinya, Elma.
“Dengarkan aku, biarkan orang lain berkata apa pun yang mereka inginkan. Yang jelas di sini, aku berusaha keras untuk membangkitkan perekonomian keluarga kita. Aku berusaha keras, agar kita bisa melakukan apa yang kita inginkan nantinya. Aku sedang mengumpulkan pundi-pundi rupiah di sini. Apa kau mau terus-terusan hidup susah, dengan aku yang tidak memiliki pekerjaan?” ujar Rian, membuat Elma mengangguk kecil mendengarnya.
“Ya, aku pasti akan tahan. Tapi kapan kau pulang dari dinas luar kotamu itu? Aku dan Faqih sudah menunggu kau pulang ke sini.” Elma mulai menanyakan hal yang tidak bisa Rian jawab lagi.
Namun, sebisa mungkin Rian berusaha untuk mengelak dari yang Elma katakan itu.
“Entahlah, aku masih belum pasti kapan bisa pulang untuk menemuimu dan juga Faqih. Aku di sini jarang memegang handphone, karena kesibukan yang lain-lain yang membuatku tidak bisa memegang handphone. Jadi, aku tidak bisa memberikanmu kabar setiap saat. Namun, nanti setelah aku pulang dari sini, aku janji akan memberikanmu uang yang banyak dan kita akan jalan-jalan dengan Faqih,” ujar Rian, membuat Elma merasa tenang mendengarnya.
“Apa kau janji akan hal itu?” tanya Elma.
“Ya, tentu saja. Aku akan mengabulkannya setelah aku kembali ke sana,” jawab Rian, membuat Elma merasa sangat senang mendengarnya.
“Baiklah, aku akan menunggumu untuk kembali ke rumah. Hati-hati di sana, dan jaga kesehatanmu,” ujar Elma yang memesan untuk Rian agar menjaga kesehatannya di sana.
“Ya, aku pasti tidak akan melupakan apa yang kau katakan. Aku tidak bisa setiap saat memberikanmu kabar, jadi tolong tunggu aku di rumah, aku pasti kembali,” ujar Rian, yang berusaha untuk meyakinkan Elma dengan hal ini.
“Baiklah, tidak masalah. Yang penting aku mohon, tolong jaga keselamatanmu dan juga kesehatanmu,” ujar Elma meminta kepada Rian untuk melakukan apa yang ia pinta.
“Ya, tentu saja aku akan melakukannya tanpa kau pinta. Aku akan berhati-hati di mana pun aku berada,” ujar Rian, membuat Elma tersenyum kecil mendengarnya.
“Ya, terima kasih. Aku akan menutup sambungan telepon ini,” ujar Elma.
__ADS_1
“Baiklah, sampai jumpa nanti.”
Mereka pun menyudahi sambungan telepon tersebut, dengan Ryan yang merasa lega karena Elma yang sudah tidak menanyakan lagi, kabar tentang hilangnya dirinya selama tiga hari tidak memberikan kabar. Rian menghela napasnya panjang, karena merasa lega saat ini.
“Aku sudah lega sekarang ... jangan sampai dia melakukan sesuatu yang bisa merusak semuanya. Aku tidak akan menjamin, jika ia mengetahui hal ini, pastinya semua yang aku miliki dari yang Tante Maya berikan, pasti akan hilang dan lenyap begitu saja. Aku tidak mau itu terjadi. Karena aku sudah nyaman hidup seperti ini, tanpa harus bekerja keras. Aku bisa menghasilkan uang hanya dengan melayaninya di ranjang saja,” gumam Rian, yang merasa harus memikirkan sesuatu untuk mencegah hal yang tidak diinginkan terjadi.
“Sayang ...,” panggil Tante Maya dari arah luar kamarnya, membuat Rian merasa sangat terkejut mendengarnya.
Rian lekas meletakkan kembali handphone-nya, kemudian bersikap seolah-olah ia baru saja keluar dari dalam toilet.
Mereka pun bertemu dan saling memandang satu sama lain. Tante Maya pun memandang ke arah Rian dengan heran.
“Kenapa kau di sini? Katamu kau ingin memakai kamar kecil untuk buang air? Kenapa sekarang kau malah di sini?” tanya Tante Maya, yang mulai mencurigai Rian.
“Oh gitu ... tapi kenapa wajahmu tidak ada yang basah? Tanganmu juga tidak ada yang basah?” tanya Tante Maya lagi, karena melihat keadaan kondisi Rian yang sama sekali tidak basah, tidak seperti habis ke toilet.
Rian pun hampir saja tergagap, tetapi ia berusaha untuk menahannya agar tidak merasa gagap di hadapan Tante Maya.
“Aku sudah mengeringkannya menggunakan tisu toilet. Jadi terlihat tidak basah,” jawab Rian seadanya, karena ia tidak ingin membuat Tante Maya merasa curiga dengannya.
Tante Maya pun mengangguk kecil mendengarnya, “Baiklah, kalau memang itu kenyataannya, mau bagaimana lagi?” ujar Tante Maya, membuat Rian pun mengangguk kecil dengan senyumannya yang aneh di hadapan Tante Maya.
Tante Maya pun mengulurkan lengan tangannya ke arah Rian, membuat Rian bingung memandangnya. “Apa maksudnya?” tanya Rian heran.
__ADS_1
“Mana hadiahku?” tanya Tante Maya, yang ternyata benar-benar menginginkan Rian untuk memberikannya sebuah hadiah.
‘Ah? Dia benar-benar meminta sebuah hadiah?’ batin Rian, yang tidak percaya dengan apa yang Tante Maya inginkan itu.
Namun pada kenyataannya, Rian sama sekali tidak mempersiapkan sebuah hadiah untuk Tante Maya. Rian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, melihat barang-barang yang ada di sekitarnya.
Pandangannya tertuju ke arah sebuah gantungan kunci, yang entah milik siapa itu. Ia langsung mengambilnya, dan memperlihatkannya kepada Tante Maya. Ia menunjukkannya dengan cara bersimpuh di hadapan Tante Maya, membuat Tante Maya bingung melihat sikapnya itu.
“Ada apa kau sampai bersimpuh seperti itu, hanya untuk sebuah gantungan kunci?” tanya Tante Maya heran, dengan apa yang Rian berikan padanya.
Rian menghela napasnya panjang. “Ini aku persiapkan khusus untukmu, Sayang” ujar Rian membuat Tante Maya menjadi kebingungan mendengarnya.
“Kau memberikan aku gantungan kunci? Hanya sebuah gantungan kunci saja? Itu pun tidak baru alias bekas?” tanya Tante Maya, tidak percaya dengan yang berikan padanya.
Rian pun tersenyum di hadapan Tante Maya, “Habisnya aku bingung ingin memberikanmu apa, karena aku lihat semua benda dari yang termahal sampai yang termurah, kau sudah memilikinya. Tapi benda ini, aku yakin kau pasti tidak memilikinya, bukan?” tanya Rian yang merasa sangat yakin dengan hal itu.
Tante Maya pun menghela napasnya panjang, karena ia merasa harus menerima pemberian dari Rian padanya.
“Ya sudah, aku terima hadiah unik pemberianmu ini. Terima kasih karena kau sudah memberikan sebuah gantungan kunci untukku. Aku senang menerima. Apa pun itu, yang kau berikan aku pasti akan sangat senang menerimanya,” ujar Tante Maya yang terdengar mirip seperti sebuah gombalan.
Rian memandangnya dengan senyuman yang khas, “Baiklah Tante Maya. Nanti jika kita sudah pulang ke rumah, akan kupastikan aku akan mengganti hadiah yang aku berikan ini padamu. Aku akan menggantinya dengan yang lebih bagus lagi. Kau harus menantikan apa yang akan aku berikan padamu nanti,” ujar Rian, membuat semangat Tante Maya terpacu mendengarnya.
Matanya mendelik bahagia, “Apa kau benar-benar akan melakukannya?” tanya Tante Maya, merasa harus memastikan tentang hal itu.
__ADS_1