
“Memangnya benar, ya, kalau Elsa itu suka mencuri makanan di rumah Mak Ratih? Pantas, sih, karena dia, kan, tidak kerja begitu pun dengan suaminya. Tidak mengemis, tidak mengamen, tidak bekerja, ya menurutmu akan mendapatkan uang dari mana lagi kalau bukan mencuri.” Seorang wanita paruh baya berspekulasi membenarkan gosip yang tengah ramai di kalangan para warga sekitar.
“Benar tuh, Bu, bilangnya selalu diserahkan pada yang di atas, tapi dia sendiri mencuri. Mulutnya saja yang beragama tapi hatinya benar-benar busuk,” sahut yang lain.
Suasana di desa telah ramai oleh spekulasi yang belum terbukti kebenarannya. Gosip itu benar-benar telah menyebar luas tanpa Elsa dan Rian ketahui. Mereka yang selalu berada di dalam rumah tidak tahu bahwa warga sedang menggunjingnya habis-habisan siang dan malam. Sementara keluarga mereka hanya menikmati kehidupan apa adanya di dalam rumah dengan sang anak juga.
“Aku keluar dulu.” Rian terlihat memakai jaket lusuhnya ketika Elsa sedang memasak sayur kangkung untuk makan siang dan sore nanti.
“Mau ke mana, Mas?” tanya Elsa.
__ADS_1
Namun sebelum dijawab, Rian sudah keluar terlebih dahulu. Pria itu berjalan meninggalkan rumah dengan langkah yang sangat buru-buru tak seperti biasanya. Elsa yang semula di dapur, mengikuti langkah suaminya ke depan, tetapi langkah kaki Rian terlalu cepat hingga Elsa sudah tak melihatnya lagi, karena pria itu telah hilang di perbelokan.
“Hei Rian,” tegur pria seusianya yang sedang menjemur baju di depan halaman rumahnya.
Rian menghentikan langkah refleks, kemudian menoleh. “Ada apa?” tanyanya dengan sedikit ketus. Ia terlihat tak sabar dengan apa yang akan dikatakan oleh pria itu, tetapi barangkali ada yang penting maka ia menunggunya barang sebentar.
“Kamu sampai kapan mau jadi pengangguran, Bro? Apa kamu tidak tahu kalau istrimu sekarang jadi bahan gunjingan warga karena sudah mencuri banyak makanan di rumah Mak Ratih?” ujarnya dengan nada merendahkan. Pria itu menaruh ranjang bajunya yang telah kosong, dan menaruhnya di teras.
“Apa maksudmu? Kamu tak boleh menebar fitnah begitu saja, karena keluarga kami tidak pernah mencuri, apa lagi Elsa. Jaga mulut kamu, sialan. Kamu tidak sadar dengan apa yang kamu katakan? Apa kamu sedang mabuk? Tapi mustahil siang-siang ini kamu mabuk.” Rian mengeraskan suaranya tak terima dengan tuduhan yang mengarah padanya. Pikirnya mereka adalah keluarga yang baik dan fitnah yang mengarah padanya seperti petasan yang diarahkan ke depan matanya.
__ADS_1
“Untuk apa pula aku memfitnah kamu dan keluarga kamu, Rian. Aku tidak pernah berbicara bohong padamu, ‘kan? Yang aku katakan memang benar, kalau fitnah itu apa yang dituduhkan tidak ada bukti, tapi jika ada bukti, itu namanya bukan fitnah tapi fakta. Kamu harus tahu perbedaannya walau pendidikan kamu rendah,” sinis temannya itu.
Rian merasa tak terima. Emosinya makin menyala karena ia merasa bahwa harga dirinya telah diinjak-injak oleh kawannya. Lelaki itu terlihat mengepalkan kedua tangannya hingga terlihat bahwa baku-baku tangannya memutih. “Tetap saja fitnah karena keluarga kami tidak pernah mencuri,” sentaknya.
“Ya, memang itulah kamu tidak bisa membahagiakan istri dan anak. Kalau belum siap menikah, tak usahlah menikah. Lihat, akhirnya seperti ini, ‘kan? Kesusahan kamu menular pada anak dan istri kamu, sampai-sampai untuk makan saja dia harus mencuri,” sinisnya lagi.
Kali ini Rian benar-benar tak bisa menahan emosinya, akhirnya pria itu melayangkan tinjunya pada pipi kanan temannya hingga pria di depannya tersungkur. Tak sampai situ saja, temannya langsung bangkit dan memberikan bogeman mentah pada pipi Rian merasa tak terima dengan tindakan pria itu yang menyakiti dirinya.
“Sial. Aku benar-benar memberitahumu, kamu malah memukulku, bajingan!” Temannya itu terlihat membabi-buta dan memukuli perut Rian berulangkali.
__ADS_1
BERSAMBUNG....