Dinafkahi Sugar Mommy

Dinafkahi Sugar Mommy
Akal Bulus Hakim


__ADS_3

“Mengapa kamu malah membawa orang lain dalam masalah ini? Aku sama sekali tidak pernah berpikir begitu. Kamu selalu saja begini, melibatkan orang lain di saat kita bertengkar!” balas Elsa mengomentari ucapan Rian padanya.


“Aku sama sekali tidak menyesal menikah denganmu, mengapa kamu malah membandingkan dirimu dengan orang lain? Yang aku mau itu kamu tidak jadi pergi ke kota, mengapa kamu tidak mau mengerti itu?” tanya Elsa menatap sedih suaminya.


“Yang tidak mau mengerti itu kamu, Elsa. Aku melakukan semua ini juga ada alasannya. Aku mau agar kondisi ekonomi kita membaik, tetapi kamu kersen kepala dan tetap ingin aku berada di sini. Apa kamu senang kalau kita menjadi bahan pembicaraan tetangga? Apa kamu merasa gembira saat suamimu ini menjadi bahan gunjingan mereka? Kamu suka kita dihina terus menerus oleh mereka? Aku tidak mau itu, Elsa. Aku ingin bahagia dengan ekonomi yang cukup!” tukas Rian untuk kesekian kalinya ia ingin membuka pikiran Elsa agar wanita itu mau mengerti bahwa ini semua demi kebahagiaan mereka.


“Bahagia itu nggak mesti dihitung dengan materi, Rian, kata siapa saat ini aku tidak bahagia? Aku sangat bahagia meskipun kita hidup seperti ini. Aku tidak pernah mengeluh, aku tidak pernah meminta kamu memberiku harta, aku hanya ingin kita bersama-sama tanpa harus terpisah jauh. Hanya itu, Rian,” ucap Elsa. Elsa mau agar Rian mengerti bahwa yang ia inginkan itu bukan harta, melainkan tetap bersama apapun yang terjadi.


Rian menghela napas panjang, Elsa benar-benar keras kepala. Ia tidak percaya kalau Elsa akan sekeras kepala ini, awalnya Rian berpikir kalau Elsa mungkin akan mengerti setelah pertengkaran mereka. Namun, ternyata Elsa tidak mau mengerti, wanita itu malah semakin menekannya agar tidak pergi. Justru, saat semakin ditekan seperti ini maka ia akan lebih memiliki tekad untuk pergi ke kota apapun rintangannya. Apalagi saat tadi ia sempat mendengar cibiran dari tetangga tentang keluarganya yang membuat naluri Rian semakin terpacu untuk mencari rezeki di luar kota. Dengan harapan kalau ekonomi keluarganya akan berubah saat ia bekerja di kota nantinya.


“Elsa, kamu hanya memikirkan perasaanmu saja. Apa kamu tidak berpikir kalau saat ini kita tidak tinggal berdua saja? Ada Faqih di antara kita, sebagai seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab aku harus mempersiapkan masa depan untuk kalian, khususnya Faqih. Mungkin saat ini Faqih masih bayi dan tidak terlalu perlu biaya lainnya. Tetapi semakin dia bertumbuh, maka aku perlu mempersiapkan dana untuk susu dan juga keperluan Faqih lainnya. Ketika nanti Faqih sudah mulai bersekolah, ada banyak biaya yang harus dikeluarkan. Uang dari mana untuk membayar semua itu jika aku tidak bekerja, Elsa?” Meskipun perjalanan Faqih masih panjang karena saat ini ia masih bayi, tetapi Rian sudah memikirkan hal sejauh itu untuk putranya. Rian ingin menyekolahkan Faqih tinggi-tinggi agar putranya itu bisa sukses dan tidak seperti dirinya.


Elsa membisu sejenak ketika mendengar ucapan panjang lebar dari suaminya, ia mencerna setiap kata yang Rian lontarkan. Elsa tak menyangka kalau Rian akan berpikir sejauh itu untuk masa depan mereka, khususnya masa depan Faqih. Namun, meskipun begitu, pintu hati Elsa masih belum terbuka untuk mengizinkan suaminya bekerja ke luar kota. Elsa masih takut dan belum siap jika harus hidup berdua saja dengan Faqih di sini tanpa adanya sang suami. Elsa takut kalau yang ia takutkan bisa saja terjadi, ia benar-benar tidak mau kalau Rian pergi. Anggap saja saat ini ia egois karena di saat Rian memikirkan masa depan mereka, ia justru memikirkan perasaannya sendiri.

__ADS_1


“Aku juga sebenarnya tidak ingin pergi, Elsa, tetapi aku terpaksa melakukan hal ini demi kalian. Aku terpaksa harus pergi mencari pekerjaan di luar kota, semua itu semata untuk masa depan kita yang cerah.” Rian menurunkan nada suaranya, kali ini Rian berharap kalau Elsa mau mengerti dan mengizinkannya pergi.


“Aku tetap tidak mengizinkanmu pergi,” ucap Elsa di luar dugaan Rian kalau ia akan menjawab demikian.


“Terserah kamu saja lah! Aku muak karena kamu terlalu keras kepala!” tukas Rian kemudian pergi dari rumah, meninggalkan Elsa yang menatap kepergian suaminya dalam diam.


Rian keluar dari rumah, saat ia berjalan pergi ia melihat para tetangga yang berdiri di dekat rumahnya sambil terus menatap ke arahnya, mereka berbisik seakan sedang membicarakannya. Bukan seakan lagi, melainkan mereka memang sedang membicarakan Rian dan Elsa saat ini. Mereka mengatakan kalau rumah tangga Elsa dan Rian sangat kacau, mereka menghina dan mencibir Rian yang tidak becus mendidik istri yang keras kepala seperti Elsa.


“Padahal miskin, tetapi suaminya ingin bekerja ke luar kota saja tidak diizinkan. Bagaimana itu si Elsa?”


“Memang dasar saja mereka hobi bertengkar, kalau aku jadi Elsa lebih baik minta cerai saja dari suami yang tidak memiliki pekerjaan tetap seperti Rian.”


“Iya benar sekali itu. Elsa itu lumayan cantik, menurutku meskipun ia menjadi janda, pasti masih ada pria kaya yang mau sama dia.”

__ADS_1


“Duh, kalian ini bagaimana sih? Mereka itu menikah karena cinta, kalian bisa membayangkan sendiri bagaimana orang yang menikah karena cinta? Mereka mana mungkin memikirkan ke depannya.”


“Ah iya, cinta itu ‘kan buta. Saat menikah tidak berpikir kalau kehidupan rumah tangga akan seperti apa jika tanpa harta.”


“Menurutku Elsa begitu bodoh karena memilih Rian sebagai pendamping hidupnya, Rian kurang bertanggungjawab sebagai seorang suami dan juga ayah bagi anak mereka.”


Mereka terus mengomentari rumah tangga Rian dan Elsa, seakan rumah tangga mereka lebih baik dari Rian dsn Elsa. Bahkan, saat Rian baru saja keluar dari rumahnya, mereka tidak menghentikan cibiran itu. Justru mereka semakin bersemangat mencibir agar Rian mendengarnya, dasar tetangga tidak punya hati memang.


“Eh, Rian, kamu mau ke mana? Sudah selesai pertengkaranmu dengan Elsa?” Saat mendengar pertanyaan itu, Rian yang hendak pergi pun menghentikan langkahnya.


“Rian, kamu ini bagaimana mau jadi kepala rumah tangga yang bertanggungjawab kalau membahagiakan istri dan anak saja tidak becus?” Mendengar itu membuat Rian mengepalkan tangannya kuat-kuat, para tetangga ternyata tidak ada habisnya mencibir rumah tangganya.


“Seharusnya kamu itu bisa bekerja lebih giat lagi, bahagiakan istri kamu itu. Kalau tidak begitu lama-lama dia bosan juga hidup dengan kamu, bisa saja kamu ditinggal oleh Elsa nantinya.’

__ADS_1


Rian hanya diam saat mendengar semua itu, pria itu sama sekali tidak berniat membalas kata-kata mereka. Rian semakin bertekad untuk pergi merantau ke kota.


__ADS_2