
"Sa, kamu kenapa tegang begitu? Kamu sudah selesai makan?"
Mak Ratih baru kembali membeli garam dan penyedap rasa di warung. Jadi Mak Ratih menitipkan rumahnya kepada Elsa. Namun Mak Ratih tidak tahu menahu kalau Gina baru saja datang kemari, tapi salah paham cuma karena melihat Elsa ada di dapur Mak Ratih sembari makan makanan enak.
Mak Ratih menemukan wajah Elsa pucat seolah tengah menahan panik. Perasaan Mak Ratih mengatakan ada sesuatu yang terjadi ketika ia sedang pergi membeli garam.
Elsa menggigit dalam pipinya. Ia tengah berdialog dengan isi kepalanya sampai Elsa menjadi tidak fokus ketika diajak bicara. Mak Ratih memegangi sebelah bahu Elsa, menanyakan hal yang sama tapi perempuan beranak satu tersebut tidak mau menjawab. Malah diam bak patung.
"Sa," tegur Mak Ratih untuk kesekian kalinya.
Barulah setelah itu Elsa tersadar. Elsa menengok pada Mak Ratih yang kini tengah menatap ke arahnya dengan pandangan bingung sekaligus khawatir.
"Tadi Mbak Gina ke sini cari Mak Ratih ..." Elsa menggigit bawah bibirnya. Suaranya agak terbata kala menjelaskan kronologinya. "Terus Mbak Gina melihat aku makan di dapur, Mak. Cuma ...,"
Sebelah alis Mak Ratih terangkat tinggi. "Cuma apa, Sa? Kamu kalau cerita pelan-pelan saja. Sebenarnya ada apa? Kamu diapain sama Gina?" desak Mak Ratih.
Bisa dibilang Mak Ratih adalah satu-satunya orang terdekat Elsa di kampung ini. Kebanyakan orang-orang memandang remeh kepada Rian dan Elsa yang dianggapnya sebagai pasangan muda yang miskin, tapi berani mempunyai anak. Tidak jarang Elsa disindir habis-habisan oleh para tetangga. Mereka selalu bergosip tentang Elsa dan Rian yang menumpuk utang di sana-sini, namun tidak ada satu orang pun yang mau membantu. Cuma Mak Ratih yang peduli, sisanya kebagian mencemooh Elsa tanpa rasa belas kasih.
Tangan dan kaki Elsa gemetaran hebat akibat dituduh menjadi maling makanan di rumah Mak Ratih. Gina tidak mau mendengar penjelasan Elsa lebih dulu. Perempuan berdandan menor itu sibuk dengan asumsi diri sendiri. Alhasil, Gina berlari ke luar sembari koar-koar tidak jelas.
"Sa, bilang saja yang sebenarnya tidak apa-apa. Kamu diapain sama Gina? Kamu dihina sama dia?" tanya Mak Ratih khawatir.
Elsa menggeleng lemah.
__ADS_1
"Terus? Kamu dipukul sama Gina? Kamu jangan bikin Mak khawtir, Sa ..."
Ada lelehan air mata yang mampir di pipi Elsa. Mak Ratih tertegun dibuatnya karena terkejut Elsa tahu-tahu menangis sampai bahunya gemetaran.
"Mbak Gina ... Mbak Gina menuduh aku mencuri makanan di rumah Mak. Tadi aku sudah berusaha menjelaskan ke Mbak Gina, Mak. Tapi Mbak Gina tiba-tiba lari. Aku takut dia membuat gosip yang tidak-tidak! Aku tidak mencuri, Mak!" seru Elsa terisak-isak.
"Iya, kamu tidak mencuri. Kan Mak sendiri yang menyuruh kamu makan, Sa," timpal Mak Ratih. Ia ikut geram atas ulah Gina kepada Elsa. "Jahat sekali Gina menuduh kamu mencuri makanan! Sudah, sudah. Jangan menangis lagi. Nanti Mak akan tegur Gina kalau ketemu ya."
Mak Ratih mencoba menghibur Elsa yang masih menangis. Mak Ratih memeluk Elsa sembari mengusap punggung perempuan itu.
Mak Ratih ikut prihatin atas sikap orang-orang kepada Elsa. Kenapa jahat sekali mulut mereka, tidak bisakah bersikap sedikit lebih baik kepada Elsa? Toh, Elsa tidak merugikan orang lain. Walau Elsa miskin, sering kesulitan makan, tapi Elsa tidak pernah menyakiti perasaan orang lain. Elsa perempuan yang baik, setia kepada suami, pun tidak neko-neko.
***
Elsa meniup tehnya sebentar sebelum menyesapnya sedikit demi sedikit karena masih panas. Elsa menarik gelasnya menjauh dari bibir, lantas Mak Ratih mengambil alih gelasnya.
"Bagaimana, Sa? Perasaan kamu sudah lebih baik?" tanya Mak Ratih penuh perhatian. Elsa sudah dianggapnya layak anak sendiri.
"Lumayan, Mak. Terima kasih ya." Elsa mengusap kedua sudut bibirnya yang basah terkena air teh. "Maaf ya, Mak. Aku jadi membuat Mak khawatir seperti tadi."
"Tidak apa-apa, Sa. Kalau ada sesuatu tolong beritahu, Mak. Supaya Mak tahu, dan tidak menerka-nerka." Elsa mengangguk patuh.
Mak Ratih beranjak dari tempat duduknya untuk meletakkan gelas teh milik Elsa ke atas meja. Merasa dirinya jauh lebih tenang, Elsa kembali membantu Mak Ratih memasak.
__ADS_1
"Sudah siang, Sa. Lebih baik kamu pulang saja. Takut Rian mencari kamu. Apa lagi kamu tidak sempat pamit sama suami kamu, kan?" bujuk Mak Ratih. Ia menatap ke arah jam dinding di luar dapur. "Kapan-kapan kamu bisa bantu Mak lagi."
Elsa masih ingin membantu Mak Ratih memasak. Setidaknya sampai beberapa menu sudah selesai sebelum diantar untuk sore hari. Namun Elsa mematuhi permintaan Mak Ratih agar pulang. Bagaimanapun Elsa memang belum sempat pamit kepada suaminya. Tadi kan Elsa pamitnya cuma mengantar rantang susun milik Mak Ratih. Tidak tahunya Elsa membantu wanita setengah baya itu memasak sampai menjelang siang.
"Ini buat kamu makan bersama Rian, ya." Mak Ratih mengangsurkan bungkusan kepada Elsa. Isinya ada nasi, lauk-pauk serta potongan buah. Mak Ratih merogoh saku dasternya. Mak Ratih menjelaskan selembar uang ke tangan Elsa.
Elsa membeliakkan matanya lebar. Ia lantas menolak uang pemberian Mak Ratih. "Tidak, Mak! Jangan! Kemarin Mak sudah memberiku uang. Aku tidak enak untuk menerimanya. Nasi dan lauk-pauk ini saja yang aku terima."
Mak Ratih tetap memaksa Elsa supaya mau menerima uang pemberiannya. "Anggap saja ini hasil upah kamu membantu Mak memasak. Kalau kamu tidak mau menerimanya, Mak tidak akan bersedia kamu bantu lagi. Mungkin memang tidak banyak, tapi semoga berguna ya, Sa."
Elsa menatap uang pemberian Mak Ratih. Tidak besar apanya? Walau cuma satu lembar, setidaknya bisa Elsa berikan tiga kilogram beras untuk makan sehari-hari.
"Mak, terima kasih banyak! Aku tidak tahu lagi caranya membalas semua kebaikan Mak Raith." Elsa meraih punggung tangan Mak Ratih, lantas menciumi punggung tangannya.
Mak Ratih menepuk-nepuk puncak kepala Elsa. "Sudah, Sa. Kamu segera pulang sana. Rian dan Faqih pasti sudah menunggu kamu pulang. Jangan sampai membuat Rian marah."
"Iya, Mak. Aku pamit pulang sekarang ya." Elsa melepas tangan Mak Ratih, lantas melangkahkan kaki menuju ke luar rumah dengan membawa makanan dan uang.
Elsa mengucap syukur dalam hatinya. Ia pulang membawa makanan untuk dibaginya kepada Rian. Hari ini mereka tidak perlu puasa karena mendapat makanan dari Mak Ratih. Perasaan Elsa jauh lebih lega, ia pulang dengan hati yang riang.
"Uang pemberian Mak Ratih bisa aku belikan beras," gumam Elsa. "Kalau soal lauk untuk besok, makan pakai garam pun tidak masalah asal tidak kelaparan."
Di saat seperti ini Elsa merasa tidak berhak memilih-milih makanan. Ia sudah sering merasakan menahan lapar karena tidak memiliki uang. Bisa makan besok saja, Elsa sudah sangat bersyukur.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....