
Hari demi hari Rian jalani sebagai kuli panggul di pasar, karena jika tidak begitu ia dan Elsa akan makan apa nantinya? Meskipun saat ini Rian dan Elsa masih saling diam karena masalah yang terjadi. Baik Rian maupun Elsa sama sekali tidak ada yang mau mengalah, Rian sendiri masih kesal dengan Elsa yang tidak mau mengerti dirinya. Sementara Elsa juga tidak mau bicara pada Rian sebelum suaminya itu mengatakan padanya kalau ia tidak akan pergi ke luar kota. Meskipun saling diam, tetapi Elsa tetap menyiapkan makanan untuk Rian. Sementara Rian sendiri bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka, mereka saling perhatian walaupun saat ini masih dalam suasana perang diam.
Hakim menemui Rian diam-diam di belakang Elsa, pria itu pergi ke pasar untuk menemui Rian dan berniat mengajak Rian bekerja di kota. Hakim sengaja menemui Rian tanpa sepengetahuan Elsa karena kalau sampai Elsa tahu, maka akan ada pertengkaran lagi antara Rian dan Elsa. Hakim bukannya tidak merasa kasihan pada Elsa yang tak ingin jauh dari suaminya, tetapi karena Hakim kasihan maka dari itu ia menawarkan pekerjaan pada Rian. Hakim tak tega jika harus melihat Elsa yang ikut bekerja karena mereka sedang berada dalam situasi yang sulit. Niat Hakim ingin membantu sahabat serta wanita yang sempat ia cintai, walaupun sebenarnya ada maksud lain di hati Hakim hingga ia terus menawarkan hal itu pada Rian.
"Rian!" panggil Hakim pada Rian yang sedang beristirahat. Pria itu sedang mengelap keringat usai mengangkat barang-barang berat.
"Hakim, ada apa kamu ke sini?" tanya Rian terkejut dengan kedatangan Hakim.
"Aku ingin membicarakan hal yang sempat kita bahas waktu itu," jawab Hakim sambil duduk di samping Rian.
"Tentang apa?" tanya Rian.
"Tentang bekerja ke kota, bagaimana? Apa kamu mau ikut bersamaku ke kota?" tanya Hakim.
Mendengar pertanyaan Hakim, Rian jadi terdiam.Rian bimbang, hati kecilnya malah enggan meninggalkan Elsa. Entah mengapa Rian merasa bimbang seperti ini, padahal awalnya ia begitu ingin pergi ke luar kota dan bahkan ia bertengkar berkali-kali dengan Elsa karena hal ini. Yang jelas Rian merasa kalau perasaannya tidak enak dan begitu berat untuk pergi ke luar kota dan meninggalkan istri serta anaknya. Apa lagi kalau Rian tahu alasan di balik Hakim mengajaknya bekerja di kota. Mungkin Rian pasti akan semakin bimbang dan bisa jadi is batal pergi ke luar kota.
"Rian? Mengapa kamu hanya diam? Apa kamu berubah pikiran?" tanya Hakim. Ada rasa khawatir di hati Hakim kalau Rian nantinya akan batal ikut bersamanya.
"Entah mengapa aku jadi ragu pergi ke kota, aku merasa berat meninggalkan Elsa dsm Faqih. Aku butuh waktu untuk memikirkan ini semua, tolong beri aku waktu ya. Kalau nanti aku jadi pergi, aku akan menemuimu," ucap Rian.
Hakim hanya mengangguk, pria itu akan menunggu kabar dari Rian. Walaupun sebenarnya Hakim ingin agar Rian langsung setuju, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau ia memaksa Rian saat ini, maka Rian akan curiga nantinya dan itu tidak baik. Hingga setelah perbincangan itu, Hakim memutuskan untuk pulang. Sementara itu, Rian kembali bekerja sesekali memikirkan pembicaraannya dengan Hakim.
Rian merenung semalaman. Sejujurnya ia tidak ingin meninggalkanm Elsa dan Faqih. Namun, dia harus pergi untuk mengubah nasib. Hingga akhirnya setelah pulang bekerja pada hari ini, Rian memutuskan pergi ke rumah Mak Ratih untuk menemui Hakim. Beberapa saat Rian menunggu dan bahkan ia bertemu Mak Ratih yang ingin pergi ke warung.
"Rian, kamu ke sini? Ada apa?" tanya Mak Ratih saat keluar dari rumah.
__ADS_1
"Saya ingin bertemu dengan Hakim, Mak," jawab Rian.
"Oh begitu, ada perlu apa kalau Mak boleh tahu?"
"Itu saya ingin pergi bekerja bersama Hakim, kemarin Hakim sempat menawari saya pekerjaan, Mak."
"Tunggu saja di sini ya, sebentar lagi Hakim keluar. Mak keluar dulu, mau pergi ke warung."
"Iya, Mak." Rian membiarkan Mak Ratih pergi, sementara ia tetap berada di sini untuk menunggu Hakim.
Hingga tak lama kemudian akhirnya Hakim keluar dari rumah. Hakim sedikit terkejut melihat Rian yang ada di sini.
"Rian, ayo silakan duduk." Rian mengangguk, ia duduk di salah satu bangku yang ada di sana.
"Aku setuju ikut bersamamu ke kota untuk bekerja," jawab Rian mantap.
Sementara itu, di sisi lain Mak Ratih sedang berjalan menuju warung yang di mana itu berarti ia harus melewati rumah Elsa. Mak Ratih melihat Elsa yang sedang menggendong Faqih sambil menyuapi anak itu, sontak saja Mak Ratih menghampiri Elsa untuk menyapanya.
"Mak Ratih, mau pergi ke mana?" tanya Elsa menyapa Mak Ratih lebih dulu.
"Ini, Mak mau pergi ke warung. Lagi menyuapi Faqih ya?"
"Iya, Mak."
"Faqih makannya lahap sekali ya, cepat bertumbuhnya nanti dia ini."
__ADS_1
"Aamiin, Mak."
"Oh iya, tadi suamimu pergi ke rumah untuk menemui Rian. Sepertinya mereka sedang membahas kapan pergi ke kotanya." Mak Ratih tanpa sengaja mengatakan kalau Rian akan bekerja bersama Hakim. Mak Ratih tidak tahu kalau Rian belum memberitahu Elsa.
"Oh iya, Mak harus pergi ke warung ya. Mak pergi dulu," ucap Mak Ratih kemudian pergi.
Elsa sendiri masih terdiam di tempatnya, wanita itu mencerna setiap perkataan Mak Ratih. Hingga akhirnya Elsa paham, itu berarti Rian masih tetap nekat ingin pergi ke kota bersama Hakim bahkan tanpa izin darinya. Tanpa sadar Elsa menitikkan air matanya, merasa kecewa pada suaminya.
Hingga saat di siang hari, ketika Rian baru saja pulang ke rumah. Elsa yang selesai menidurkan Faqih pun langsung menghampiri Rian, ia mencerca suaminya yang tidak membutuhkan izin darinya untuk pergi. Elsa mengatakan kekecewaan pada Rian yang tidak mau mengerti isi hatinya.
"Kudengar kamu menemui Hakim dan berniat pergi ke luar kota," ucap Elsa yang berupa pernyataan.
Rian sendiri terkejut, dalam hati pria itu bertanya-tanya bagaimana Elsa bisa mengetahui hal ini?
"Kamu bahkan tidak mau membicarakan hal ini padaku dan tetap ingin pergi, apa kamu tidak menganggapku istri lagi?"
"Elsa, dengar.... Kita sudah membicarakan hal ini kemarin, kamu sendiri yang tidak mau mendengarku."
"Kamu egois, Rian! Kamu tetap ingin pergi padahal aku sama sekali tidak mengizinkan! Kamu sungguh egois!" teriak Elsa begitu emosi.
Pasangan suami istri itu kembali bertengkar dan saling berteriak satu sama lainnya seperti kejadian kemarin.
"Terserah kamu mau mengatakan apa, Elsa, aku tetap akan pergi ke kota!
"Mau kamu memberi izin atau tidak, aku akan tetap pergi!" tukas Rian.
__ADS_1