Dinafkahi Sugar Mommy

Dinafkahi Sugar Mommy
Bujukan Hakim


__ADS_3

Selama perjalanan menuju ke tempat yang entah di mana Rian sama sekali tidak tahu, pria itu memilih diam usai mendengar perkataan Hakim. Sejujurnya saat unu Rian jadi kepikiran, sebenarnya jenis pekerjaan apa yang Hakim berikan padanya? Ia menaruh rasa curiga pada Hakim karena pria itu selalu saja mengelak ketika ia bertanya tentang pekerjaan seperti apa yang akan ia lakukan. Rian berusaha percaya pada Hakim, meskipun dalam lubuk hatinya ia kini meragukan Hakim. Namun, tidak ada yang bisa ia lakukan selain percaya pada Hakim karena ia sudah terlanjur pergi ke Jakarta bersama Hakim. Ia hanya bisa berharap dan berdoa semoga saja ia mendapatkan pekerjaan yang layak, hanya doa itu yang saat ini terselip dalam hatinya.


"Apa masih lama?" tanya Rian usai beberapa saat mereka saling terdiam.


"Tidak kok, sebentar lagi kita sampai. Kamu sepertinya sangat tidak sabar ya untuk mulai bekerja?" Mendengar pertanyaan itu membuat Rian terdiam.


Rian bukannya tidak sabar bekerja, tetapi ia sangat penasaran dengan pekerjaan apa yang diberikan Hakim untuknya. Apakah sesuai ekspektasinya atau tidak, karena gelagat Hakim sedikit mencurigakan mulai dari pria itu yang tidak mau menjelaskan pekerjaan itu secara rinci padanya. Padahal ia sudah sangat penasaran dan ingin mengetahui pekerjaan itu, tetapi Hakim tidak mau menjelaskan. Seakan jika Hakim menjelaskan itu, maka Rian akan langsung menolak pekerjaan yang ditawarkan.


"Iya, aku ingin bisa mengirimkan uang untuk Elsa dan Faqih." Setiap waktu Rian pasti selalu memikirkan istri serta putranya, pria itu memang mementingkan mereka di atas segalanya. Alasan dirinya berada di sini juga karena Elsa dan Faqih, ia ingin memberikan kedua orang yang disayanginya itu kebahagiaan berupa materi yang selama ini tak pernah ia dapatkan.


"Kamu tenang saja, aku yakin dengan pekerjaan ini kamu bisa langsung mengirim uang untuk keluarga yang ada di luar kota." Hakim begitu mantap saat mengatakan hal itu, seakan ia begitu menjamin kalau dengan pekerjaan ini Rian benar-benar bisa menghidupi keluarganya dan memberi mereka kehidupan yang lebih layak lagi.


Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka tiba juga di sebuah tempat. Rian sebelumya tidak tahu Hakim membawanya pergi ke mana, tetapi saat ia turun dari mobil akhirnya ia jadi tahu ke mana mereka saat ini pergi. Ternyata Hakim membawanya ke sebuah hotel yang terlihat sangat mewah dan sepertinya hanya orang-orang kaya saja yang pergi ke tempat seperti ini.


"Mengapa kita ke sini?" tanya Rian saat mereka akhirnya turun dari mobil.


"Karena pekerjaanmu ada di sini, Rian," jawab Hakim yang membuat Rian mengerutkan alisnya.

__ADS_1


"Aku akan bekerja di sini? Sebagai apa?" tanya Rian.


"Apa aku akan bekerja sebesar seorang penjaga atau pelayan di hotel ini?" tanya Rian lagi.


Hakim hsnya tersenyum, pria itu justru meminta agar Hakim ikut saja dengannya memasuki hotel ini. Rian awalnya tidak mau karena Hakim tidak menjelaskan dengan detail pekerjaannya dan bahkan pria itu tak mau menjawab pertanyaannya.


"Setelah kita sampai kamu akan tahu sendiri apa pekerjaanmu nanti. Kenapa sekarang kamu meragukanku? Kamu tidak percaya lagi padaku? Kamu mencurigaiku? Padahal, aku sudah sangat peduli dan bahkan mencarikan pekerjaan ini untukmu, tetapi kamu malah seperti itu. Aku kecewa padamu, Rian." Rian gelagapan ketika mendengar perkataan Hakim, ia jadi merasa bersalah karena meragukan Hakim.


"Maafkan aku, aku bukannya meragukanmu, tetapi aku hanya penasaran saja karena kamu tidak memberitahu aku," ucap Rian.


"Kamu akan tahu setelah kita sampai di sana, aku akan memberimu pilihan. Kalau kau percaya padaku, maka ikuti aku. Tetapi kalau kau tak percaya padaku, kamu bisa pulang lebih dulu dan meninggalkanku." Usai mengatakan itu, Hakim pergi meninggalkan Rian yang masih dalam kondisi bimbang.


"Yang aku kenal di sini hanya kamu, aku tidak bisa jika tak mempercayaimu."


"Ayo, ikut aku! Kita harus naik lift terlebih dulu baru sampai." Rian hanya menurut, ia pun mengikuti Hakim.


Mereka keluar dari lift setelah tiba di lantai tujuh, kemudian Hakim mengajak Rian pergi ke sebuah ruangan. Rian terkejut saat ia dan Hakim memasuki ruangan itu, karena di ruangan itu ada banyak sekali wanita setengah baya, mereka bersorak girang saat melihat Hakim dan Rian masuk ke sana. Perasaan Rian mulai tak enak, apalagi saat melihat tatapan dari mereka. Hakim beranggapan kalau wanita di sini pasti berasal dari kalangan atas, semua itu Rian ketahui saat melihat barang-barang mahal yang mereka bawa dan kenakan. Untuk saat ini Rian masih belum mengerti pekerjaan jenis apa yang Hakim berikan padanya.

__ADS_1


"Wah, Hakim. Jadi ini orangnya?" tanya seorang wanita tua yang di usianya sudah tua, tetapi aura cantiknya masih terlihat.


Hakim tersenyum, pria itu berjalan kemudian duduk di sebuah sofa yang ada di sana, membuat Rian mau tak mau ikut duduk di samping Hakim. Karena sedari tadi pria itu mengekori Hakim, ia juga bingung ingin apa kalau tidak mengikuti Hakim.


"Iya, Tante, perkenalkan namanya Rian. Sesuai dengan perkataanku kalau dia ini memang tampan, bukankah kalian melihatnya sendiri?" Semua mata wanita setengah baya itu melihat ke arah Rian, seakan mengagumi ketampanan Rian.


Rian merasa risih karena ditatap seperti itu oleh mereka, apalagi Hakim seolah menyodorkan dirinya kepada para wanita itu. Rian bangkit, lantas menarik tangan Hakim, ia pun langsung bicara pada Hakim dengan jarak yang sedikit jauh dari mereka.


"Hakim, mengapa kamu membawaku le sini? Bukankah kamu mengatakan kalau kita datang ke sini karena kamu ingin memberiku pekerjaan? Lantas mengapa kamu mengajakku ke sini?" tanya Rian.


"Ini memang pekerjaanmu mulai malam ini, Rian. Kamu harus menemani mereka semalaman di sini d#! na!ti kamu akan mendapatkan uang," ucap Hakim.


Mendengar perkataan Hakim, Rian jadi terkejut. Pria itu tak menyangka kalau pekerjaan ini yang Rian berikan padanya.


"Aku tidak mau melakukannya, pekerjaan jenis apa ini?" Rian langsung menolak mentah-mentah, ia tidak mungkin melakukan pekerjaan macam ini.


"Kamu harus melakukannya, Rian."

__ADS_1


"Aku tidak bisa, aku tak terbiasa."


Hakim mencoba membujuk Rian dengan mengatakan, "Kamu lama-lama akan biasa, kok. Kapan lagi dapat pekerjaan enak, uangnya juga banyak? Kamu cuma perlu temani mereka ngobrol, minum. Bikin mereka senang lah." Rian terdiam sejenak, pria itu merasa ragu. Ia baru tahu jenis pekerjaan seperti apa yang diberikan oleh Hakim kepadanya, nyatanya pekerjaan yang diberikan Hakim padanya tak sesuai dengan ekpektasinya. Ia tak menyangka pekerjaan seperti ini yang harus ia lakukan di kota besar seperti ini.


__ADS_2