Dinafkahi Sugar Mommy

Dinafkahi Sugar Mommy
Kebahagiaan Kita


__ADS_3

Rian beristirahat sejenak setelah berhasil memindahkan beberapa karung beras ke gudang, pria itu mengusap peluh yang membasahi dahinya menggunakan punggung tangannya. Napas pria itu terengah-engah karena membawa barang-barang berat itu memang sangatlah melelahkan.


Akan tetapi namanya juga seorang pria, maka ia harus kuat meskipun sebenarnya hanya orang yang kuat fisiknya saja yang bisa tahan dengan pekerjaan seperti ini. Pria itu melihat ke arah seseorang yang tak jauh darinya sedang meminum minuman yang menyegarkan, tanpa sadar Rian menelan ludahnya.


Tenggorakannya kering dan sejujurnya ia merasa haus sekali, tetapi ia tidak mempunyai uang untuk membeli minuman.


“Hei kamu, ayo bantu aku pindahkan barang ini. Jangan duduk saja! Sedari tadi kamu terus beristirahat!” hardik seorang pria yang usianya lebih tua sedikit dari Rian, pria itu juga menjadi kuli panggul sama seperti Rian.


“Iya.” Rian segera menghampiri pria itu untuk membantu, walaupun sebenarnya ia tadi hanyasnya beristirahat sejenak dan ia masih sedikit lelah saat ini. Namun, Rian sama sekali tidak bisa protes karena tak ingin memancing keributan di sini, ia masih membutuhkan uang dan tak boleh cari masalah.


Rian begitu bekerja keras hari ini, pria itu selalu membantu mereka yang membutuhkan tenaganya. Rian merasa senang saat ia membantu seorang pembeli dan pembeli itu memberikan upah padanya, meskipun yang ia dapatkan todak seberapa, tetapi Rian bersyukur kalau tenaganya bisa dihargai oleh orang lain.


Pada siang hari, Rian akhirnya bisa pulang juga walaupun dengan tubuh yang lelah. Dia membawa upah sebagai kuli panggul yang nantinya akan dia berikan kepada Elsa. Saat tadi ia melewati pasar, Rian sempat melihat makanan yang ia ingin makan.


Namun, ketika melihat uang di tangannya yang tak seberapa, Rian harus menahan keinginannya itu. Di saat seperti ini ia tidak boleh egois, ia memiliki istri yang harus dihidupi maka ia tidak boleh memikirkan kesenangannya saja. Yang paling penting dan harus ia pikirkan adalah Elsa, istrinya.


Seharusnya ia juga harus lebih bersyukur karena Elsa bukanlah seorang wanita yang suka menuntut suaminya ini itu. Elsa wanita baik dan pengertian, terkadang Rian merasa menyesal karena suka melampiaskan kekesalannya pada Elsa.


Saat sampai di rumah, tidak ada siapa-siapa. Ia memanggil-manggul Elsa, tetapi tidak ada sahutan. Sepertinya Elsa memang tidak ada di rumah saat ini, lantas ke mana Elsa pergi? Rian pikir Elsa pasti ada di rumah Mak Ratih.

__ADS_1


Maka dari itu pria itu langsung pergi, Rian berniat menyusul istrinya ke rumah wanita itu. Rian tersenyum sepanjang jalan, pria itu berharap kalau Elsa bisa senang karena ia mendapatkan penghasilan dari pekerjaan pertamanya itu.


Di sisi lain, saat ini Elsa masih berbicara dengan Hakim. Wanita itu memohon, bahkan setengah memaksa agar Hakim tidak jadi membantu suaminya mencari pekerjaan di luar kota. Elsa benar-benar tidak bisa jika harus berpisah jauh dari suaminya dan Elsa harap Hakim mau mengerti tentang perasaannya ini.


Hakim tentu mengerti dengan perasaan Elsa, tetapi mau bagaimana jika ini keinginan dari Rian sendiri? Elsa memang wanita yang ia cintai, tetapi Rian adalah temannya. Pria itu tidak bisa melihat Elsa sengsara karena Hakim yang tidak memiliki pekerjaan tetap sehingga Elsa harus hidup dalam kekurangan.


“Ini permintaan Rian sendiri, Elsa, sebagai teman yang baik aku harus membantunya mencari pekerjaan. Aku merasa kasihan pada Rian yang kesusahan saat ini, mungkin dengan bekerja di luar kota maka kehidupan kalian akan jauh lebih baik dari ini,” ucap Hakim mencoba memberi pengertian pada Elsa.


“Aku tidak mau! Aku lebih baik hidup seperti ini daripada berpisah dari suamiku. Aku tidak butuh kekayaan yang berlimpah, aku rasa kehidupanku saat ini sudah lebih baik.” Elsa tidak setuju dengan perkataan Hakim, yang seakan mengatakan kalau dirinya saat ini serba kekurangan, khususnya keuangan. Elsa sudah merasa lebih dari cukup dengan kehidupannya saat ini tanpa perlu uang yang berlimpah. Ia lebih mensyukuri kehidupannya saat ini.


“Elsa, dengarkan aku dulu. Aku tidak bermaksud merendahkan kalian, aku hanya ingin membuka mata hatimu kalau Rian melakukan hal ini karena dia sangat menyayangimu. Kamu jangan salah paham dengan kata-kataku.”


Rian akhirnya tiba di rumah Mak Ratih, di sana dia melihat Elsa dengan ngobrol bersama Hakim di teras rumah. Kalau Rian tidak salah dengar, ada sedikit perdebatan di antara keduanya.


“Elsa, ternyata kamu di sini. Ayo kita pulang!” Rian mengajak Elsa pulang, ka tidak mau ada rumor yang aneh-aneh lagi tentang istrinya. Sudah cukup rumor aneh tentang istrinya waktu itu, ia tidak mau rumor aneh itu terulang lagi.


Elsa berteriak, “Aku tidak mau pulang! Aku sengaja pergi ke sini untuk bertemu Hakim, dan meminta pria itu agar tidak membantumu mencari pekerjaan di kota.” Mendengar perkataan Elsa, Rian pun tersentak, lalu diam.


“Mengapa kamu hanya diam? Kamu tidak ingin bertanya dari mana aku tahu ini?” tanya Elsa yang kini menatap Hakim.

__ADS_1


“Untuk apa kamu melakukan itu?” Bukannya menjawab pertanyaan Elsa, Rian malah balik bertanya.


“Apanya?”


“Untuk apa kamu meminta Hakim untuk berhenti? Atas dasar hak apa kamu melakukan itu!?” Suara Rian sedikit meninggi, merasa marah karena tindakan Elsa.


“Jelas aku tidak mau kamu pergi, makanya aku melakukan hal ini!” Elsa sedikit berteriak.


“Kamu mau kita terus dihina tetangga karena aku tidak becus mencari uang? Kamu mau suami kamu ini selalu dihina oleh mereka? Kamu mau mereka terus merendahkan kita, kamu maunya begitu, hah!?” teriak Rian.


“Tidak, aku—“


“Aku berniat mencari pekerjaan karena aku sadar diri, di sini aku tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Aku sadar diri kalau seharusnya aku bisa memberimu kehidupan yang layak sebagai seorang istri, aku berharap dengan bekerja di luar kota maka kehidupan kita akan lebih baik. Mengapa kamu malah menghalangi niat baikku?” Rian sedikit menurunkan nada suaranya, berharap kalau Elsa mau mengerti.


“Aku tidak butuh harta, aku tidak butuh kekayaan itu. Yang aku butuhkan itu hanya berada di sisimu, apa aku salah meminta ini? Aku tidak masalah dengan kehidupan kita yang sekarang, asal kamu tetap di sini. Aku ingin tetap melihat kamu dalam jarak yang dekat, aku tidak izinkan kamu pergi ke luar kota.”


“Sudah kukatakan ini semua demi kebahagiaan aku dan kamu, Elsa! Kamu harus mengerti itu!”


Hakim sedari tadi hanya terdiam, pria itu menjadi saksi atas pertengkaran Elsa dan Rian di rumah ibunya.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2