Dinafkahi Sugar Mommy

Dinafkahi Sugar Mommy
Mobil Baru


__ADS_3

Tante Maya mengajak Rian ke sebuah showroom mobil. Begitu Rian dan Tante Maya selesai bicara di telepon, Rian segera siap-siap. Karena kurang dari lima belas menit, Tante Maya tiba di depan gedung apartemen Hakim.


Hakim melihat kepergian Rian dan Tante Maya sontak bersorak senang dalam hatinya. Tidak pernah ia kira jika menjebak Rian dalam kesenangan duniawi sangatlah mudah sekali. Dalam hitungan hari saja, Rian sudah lupa dengan prinsip, serta keluarganya di kampung.


Hakim duduk santai di meja makan sendirian sembari menggigit ujung roti panggangnya. Di atas meja makannya juga terdapat secangkir kopi buatan Rian sebelum pergi tadi.


Hakim mengunyah sisa roti panggangnya. Ia menggenggam ponsel, berusaha menghubungi Mak Ratih. Hakim memang terbiasa menelpon sang Ibu saat sedang sarapan. Hakim sebenarnya anak yang baik, tapi karena rasa putus asa yang ia alami, membuat Hakim akhirnya menceburkan dirinya ke jalan yang salah.


Ia mengaktifkan mode loudspeaker pada ponselnya. Sambil bicara dengan ibunya, Hakim menghabiskan sisa kopi di cangkirnya.


"Oh ya, Bu. Kabarnya Elsa dan Faqih di kampung bagaimana?" tanya Hakim ingin tahu.


"Ah, ya. Beruntung kamu ingatkan Ibu, Kim. Sekarang kehidupan Elsa dan Faqih jauh lebih bahagia! Ibu jadi ikut senang. Elsa bisa membeli perabotan baru untuk rumahnya. Baru kemarin juga Ibu mengantar Elsa membeli perhiasan, dan membuka rekening baru." Hakim manggut-manggut. Dari cara ibunya bercerita, Mak Ratih tampak ikut senang secara tulus.


Kedekatan Mak Ratih dan Elsa semakin menambah keyakinan Hakim, kalau suatu hari ia akan menggantikan posisi Rian di hidup Elsa.


Rian itu tidak berguna sebagai pria. Jika saja Hakim tidak mengajak Rian pergi ke kota, dan bekerja bersama Tante Maya, sekarang Rian cuma seorang kuli panggul dengan upah rendah.


"Baguslah kalau begitu, Bu. Aku jadi ikut sedih kalau ada yang meremehkan Elsa di kampung. Beruntung ada Ibu yang selalu ada di pihak Elsa." Hakim menarik napas lega.


"Kamu tidak berangkat kerja, Kim? Rian ke mana?" tanya Mak Ratih.


"Sebentar lagi, Bu. Kalau Rian sudah berangkat dari tadi dijemput sama—"


"Rian dijemput?" sela Mak Ratih.


Hakim menundukkan punggung. Baru saja ia keceplosan dengan mengatakan Rian dijemput. Walau Hakim belum sampai selesai, apa lagi menjemput Tante Maya.


"Maksudnya, dijemput sama teman kerjanya, Bu. Ya, Rian biasa numpang kendaraan temannya, Bu." Hakim membuat alibi.

__ADS_1


"Oh, begitu." Mak Ratih memberi beda sebentar. "Ya sudah, Kim. Ibu sudah selesai sarapan. Sekarang mau cuci piring, sekalian lanjut membuat menu catering. Kamu jangan lupa makan, jangan sampai telat ya. Hati-hati kalau mau berangkat bekerja," pesan Mak Ratih.


"Iya, Bu. Ibu juga, ya." Setelah saling memberi pesan, pasangan anak dan Ibu tersebut mengakhiri panggilan.


***


Rian hampir tidak bisa mengedipkan matanya. Ini pertama kalinya ia pergi ke sebuah showroom mobil. Di tempat itu banyak mobil berjajar. Dari berbagai model, sampai warna pun ada.


"Kapan ya aku bisa punya mobil sendiri?" gumam Rian dalam hati. "Sebenarnya aku bisa sih. Tapi kan sebagian uangnya aku kirim ke kampung. Kalau aku pakai untuk beli mobil, Elsa dan Faqih tidak makan di kampung."


"Rian, jangan melamun terus dong!" tegur Tante Maya.


"Iya, Tante!" seru Rian setengah lari-lari.


Tante Maya berkeliling sambil mengamati mobil di sekitarnya. Rian cuma mengikuti di belakang, menatap penuh binar pada kendaraan di situ.


"Tante Maya mau membeli mobil baru ya?" tanya Rian.


"Tapi mobil Tante Maya juga masih baru. Kata Hakim, itu mobil keluaran yang sekarang. Harganya pun sangat mahal," kata Rian lagi.


"Tante beli mobil bukan buat Tante sendiri kok, Yan." Tante Maya berhenti. Memutar badannya ke belakang menatap Rian sekilas. "Alasan Tante ajak kamu kemari supaya bisa pilih mobil yang kamu suka," gumamnya.


Rian sampai melongo mendengarnya. Sepasang mata Rian mengerjap, antara percaya dan tidak. "Maksud Tante Maya bagaimana, sih? Maksudnya Tante, saya diminta membantu Tante pilih mobil?"


"Bukan." Tante Maya menggeleng. "Tante berniat membelikan kamu mobil terbaru. Gimana? Kamu suka, kan? Karena Tante tidak tahu mobil yang kamu sukai kayak gimana. Makanya Tante ajak kamu saja sekalian."


"Aku ... tidak salah dengar kan, Tante?" cicit Rian masih belum percaya.


"Memangnya Tante pernah berbohong sama kamu, Yan? Tidak, kan? Jadi kamu tidak salah dengar! Tante yakin kamu pasti butuh mobil untuk tinggal di kota. Ya, sesekali Tante pengin kamu jemput Tante ke kantor, kita pergi jalan-jalan, kamu yang bawa mobilnya." Tante Maya terkekeh kecil.

__ADS_1


Sepasang mata Rian penuh binar ketika menatap Tante Maya. "Tante Maya ... kenapa baik sekali padaku? Mobil ini harganya tidak murah. Memangnya Tante tidak sayang uangnya?"


Tante Maya mencubit pipi Rian. "Tante lebih sayang sama kamu, Rian! Uang yang Tante keluarkan tidak seberapa."


***


Mina pada akhirnya kembali ke rumah majikannya setelah mengambil cuti lebih dari satu bulan lamanya.


Satu bulan yang lalu Mina mendapat kabar kalau anak pertamanya jatuh sakit. Karena kondisi kesehatan putrinya cukup parah, Mina akhirnya memutuskan mengambil cuti. Beruntung, majikan Mina sangat baik hati. Bahkan saat ia pulang, Mina diberi uang dalam jumlah cukup besar. Awalnya Mina mengira itu uang pesangon, tapi majikannya meyakinkan kalau itu uang untuk membantu biaya rumah sakit anaknya Mina.


Karena sekarang anak sulung Mina sudah sembuh, Mina memutuskan untuk kembali—walau majikannya tidak menyuruhnya buru-buru bekerja lagi.


"Pak Ujang," sapa Mina di depan pagar.


Seperti kebiasaan Pak Ujang, pria itu sering sekali ketiduran di pos satpam. Pria setengah baya itu terbangun, membukakan pagar rumah untuk Mina yang baru tiba.


"Ya ampun, Bi Mina! Kenapa tidak bilang-bilang kalau mau kembali?" tanya Pak Ujang. "Gimana sama kesehatan anak Bi Mina? Sudah baikan?"


"Sudah dong, Pak! Kalau belum sembuh, mana mungkin saya kembali ke Jakarta hari ini." Mina melirik garasi mobil. Ia menemukan satu buah mobil warna hitam yang di parkir. "Bu Maya ada di rumah, Pak? Terus, itu mobil siapa? Mobil baru Bu Maya, ya?" tunjuk Mina.


"Bukan, Bi," jawab Pak Ujang pelan. Mina merasa aneh karena Pak Ujang kelihatan seperti orang yang waspada dengan sekitar. "Tapi mobil baru pacarnya Bu Maya," beritahunya.


"Bu Maya punya pacar lagi?" sahut Mina terkejut.


"Iya, Bi." Pak Ujang mengangguk. "Hampir setiap hari pacarnya Bu Maya ada di rumah ini, Bi. Sudah kayak pasangan suami dan istri saja. Saya sebenarnya risi, tapi mau bagaimana lagi. Saya kan cuma bekerja jadi satpam. Sedangkan yang punya rumah kan Bu Maya."


Mina sudah tidak heran lagi dengan tabiat majikannya itu. Sebelumnya sang majikan sering memasukkan pria ke dalam rumahnya. Sama seperti komentar Pak Ujang, Mina memilih untuk diam dan membiarkannya saja.


"Sini, Bi. Biar saya bantu bawa barang-barang Bi Mina ke dalam ya." Pak Ujang mengangkat salah satu tas Mina.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak Ujang," ujar Mina.


"Sama-sama, Bi." Pak Ujang masuk ke dalam rumah lebih dulu.


__ADS_2