
Semakin hari rasanya semakin membaik, itulah yang Elsa rasakan setelah apa yang dia terima dari Rian membuatnya tidak perlu kebingungan lagi untuk makan dan membeli keperluan yang lainnya.
Ya, rasa khawatir yang dia rasakan digantikan dengan kebahagiaan dari suaminya karena jelas berkat Rian semua hutang-hutangnya bisa lunas tanpa membuat Elsa kebingungan bagaimana cara membayarnya seperti dulu.
Melihat apa yang terjadi pada Elsa jelas membuat Mak Ratih ikut senang, dia bahkan disuruh oleh Elsa untuk mengantar ke toko emas karena wanita itu ingin membeli emas dari hasil jerih payah suaminya.
"Ini bagus tidak, Mak? Apa cocok buat aku pakai?" Elsa memakai kalung mewah yang harganya tentu saja mahal, namun bukannya iri Mak Ratih malah terlihat senang jika Elsa bisa bangkit dari rasa terpuruknya.
"Bagus buat kamu, Elsa. Kamu cocok mengenakan kalung apa pun."
"Benarkah?" Mendengar hal itu tentu saja Elsa senang, pujian dari Mak Ratih bahkan hampir dia dengar setiap hari, rasanya Elsa semakin membaik karena di kelilingi oleh orang-orang yang tidak iri sama sekali dengan apa yang dia dapatkan dari hasil jerih payah suaminya.
Mungkin terdengar salah jika Elsa beranggapan dengan begitu sederhana. Orang-orang bukannya tidak iri melainkan mereka belum tahu jika kehidupan Elsa berubah, dia tidak lagi kesusahan dari segi ekonomi.
Tepat setelah dia pulang dari toko emas, Elsa dan Mak Ratih mendapati orang-orang tengah menatap mereka dengan tatapan iri sesekali mereka berbisik-bisik.
Menyadari hal itu Elsa sedikit merasa tidak enak apa lagi pusat perhatian mereka adalah kalung yang baru saja dia beli di toko emas bersama Mak Ratih tadi.
"Bagaimana ini, Mak? Kenapa orang-orang menatapku dengan tatapan seperti itu?" tanya Elsa menundukkan kepalanya dan berusaha untuk mengabaikan apa yang orang-orang itu lakukan padanya.
"Sudah biarkan saja, Elsa. Kamu tidak perlu mencemaskan hal yang tidak penting seperti itu, anggap saja mereka tidak ada," jawab Mak Ratih dengan sungguh-sungguh karena bagaimanapun juga menjadi Elsa bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.
"Tapi tatapan mereka benar-benar membuatku merasa tidak nyaman, apakah mereka iri? Ini semua 'kan hasil dari suamiku bekerja di kota, Mak," sahut Elsa seperti membela dirinya, namun itulah yang diperbincangkan oleh orang-orang. Ya, mengenai sosok Rian yang bisa dengan cepat mengirimkan uang pada Elsa padahal dia baru bekerja di kota beberapa hari.
__ADS_1
Terlepas dari hal itu, Elsa sama sekali tidak mau memikirkannya karena dia beranggapan jika semua yang dia pakai adalah hasil dari jerih payah suaminya, dia berpikir Rian bekerja keras di kota sana membuat Elsa tidak mau berpikiran yang tidak-tidak tentang suaminya.
***
Faqih terus menangis, apa lagi Elsa merasa jika anaknya itu tengah demam, jelas dia merasa panik karena hari sudah semakin malam dan tidak mungkin ada kendaraan umum yang bisa mengantarnya ke rumah sakit.
Beberapa kali Elsa menepuk-nepuk punggung Faqih dengan pelan, demamnya semakin naik membuat dia harus memutar cara agar bisa mengantar anaknya itu ke rumah sakit.
Mendengar tangisan dari anak Elsa membuat Mak Ratih seketika langsung datang meskipun dia harus terbangun dari tidurnya, melihat Elsa yang hanya hidup bersama putranya membuat Mak Ratih tidak bisa untuk tidak peduli.
"Kenapa, Elsa? Apa Faqih baik-baik saja?" tanya Mak Ratih yang baru saja datang.
Elsa menggelengkan kepalanya lalu menjawab, "Faqih demam, Mak. Aku tidak tahu bagaimana caranya membawa dia ke rumah sakit karena hari sudah semakin malam, tidak mungkin ada kendaraan yang lewat."
"Apa tidak sebaiknya kita meminta bantuan tetangga untuk membawa Faqih ke rumah sakit?" Ide dari Mak Ratih jelas membuat Elsa seketika langsung menggelengkan kepalanya, dia tahu jika para tetangga di samping rumahnya sama sekali tidak menyukai dirinya.
"Maka dari itu kita tidak memiliki pilihan lain, Elsa. Jangan memikirkan hal yang itu, pikirkanlah kesehatan Faqih." Dengan ragu Elsa menatap ke arah pintu rumahnya, dia sangat ragu untuk meminta bantuan pada tetangga di samping atau depan rumahnya, apalagi kejadian tadi membuatnya yakin jika tidak akan ada yang mau menolongnya.
Namun, tidak ada salahnya mencoba kan? Elsa memberanikan diri karena semua yang dia lakukan demi Faqih, dia tidak mau anaknya kenapa-kenapa.
Dia pun mengetuk pintu satu ke pintu yang lain, namun sama sekali tidak ada yang mau membukakan pintu untuk Elsa membuat wanita itu seketika langsung meneteskan air matanya.
"Bagaimana ini, Mak? Tidak ada yang mau menolongku." Elsa hampir menyerah, namun tiba-tiba ada satu tetangga yang membukakan pintu untuk Elsa dan mempersilakannya masuk.
__ADS_1
"Ada apa, Elsa? Kenapa malam-malam seperti ini mengetuk pintu rumah kami?" tanya tetangga Elsa itu dengan ramah.
"Begini, Bu. Saya ingin meminta bantuan Ibu untuk membawa anak saya ke rumah sakit dengan mobil milik kalian, saya akan membayar berapapun asal anak saya bisa ditangani cepat oleh dokter," jawab Elsa menjelaskan keadaannya.
"Kenapa dengan Faqih? Apa dia sakit?"
Elsa menganggukkan kepalanya. "Demam, apa lagi demamnya tidak turun- turun, Bu. Saya sangat khawatir."
"Baiklah saya akan mengantar kalian ke rumah sakit, cepat siapkan barang-barang Faqih." Elsa yang mendengar hal itu seketika langsung tersenyum, dia berharap jika anaknya itu akan baik-baik saja.
***
Elsa hampir putus asa karena sebelumnya tidak ada tetangga yang mau menolong dirinya. Beruntung, masih ada orang baik yang mau mengantar dirinya ke rumah sakit untuk memeriksakan Faqih.
"Bagaimana, Dokter? Apa anak saya baik-baik saja?" tanya Elsa dengan tatapan berharap.
"Hanya demam biasa, tidak perlu terlalu khawatir karena saya sudah menyiapkan obat untuk anak Anda minum nanti," jawab dokter yang memeriksa keadaan Faqih.
Tentu saja Elsa senang dengan hal itu, dia beberapa kali berterima kasih pada tetangga yang mau membantunya membawa mereka ke rumah sakit, jelas jika Faqih tidak segera di bawa ke rumah sakit maka anaknya itu akan semakin parah.
"Bu, terima kasih sudah mau membantu saya, berkat Anda anak saya baik-baik saja," ucap Elsa bersimpuh di depan tetangganya itu.
"Sudah sepantasnya kita saling membantu, Elsa. Jika ada apa-apa kamu boleh meminta bantuan saya lagi," ujar tetangga Elsa dengan begitu tulus.
__ADS_1
Elsa menganggukkan kepalanya, dia tentu saja tidak percaya ada tetangga yang mau membantunya, apalagi di saat-saat genting seperti sekarang ini.
Namun, sejak tadi Mak Ratih malah memperhatikan tetangga yang dengan baik hati membawa mereka ke rumah sakit, Mak Ratih seperti merasa jika wanita paruh baya itu sedang memanfaatkan Elsa untuk kepentingan cepat atau lambat, namun Mak Ratih tidak bisa mengatakannya sekarang pada Elsa karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.