Dinafkahi Sugar Mommy

Dinafkahi Sugar Mommy
Pamer Hadiah


__ADS_3

Malam harinya, Rian bergegas untuk kembali ke apartemen Hakim. Ia ingin memamerkan apa yang baru saja ia dapatkan dari Tante Maya.


"Hakim … kamu di mana?" teriak Rian memanggil temannya itu setelah masuk ke dalam apartemen. Si empunya nama pun muncul dari dalam kamarnya.


"Apa sih? Kenapa pakai teriak-teriak segala? Ada apa?" sahut Hakim dengan sikap malasnya karena terganggu dengan suara berisik Rian.


"Kamu pasti tidak percaya apa yang aku dapatkan hari ini," ujar Rian dengan mata berbinar senang mendekati Hakim dengan wajah sumringah.


"Apa? Uang segepok? Atau pelanggan lain selain Tante Maya?" Hakim yang bingung justru bertanya dengan slengekan.


"Kamu gila, huh? Mana berani aku mencari wanita lain selain Tante Maya. Hidupku ada di tangannya sekarang," tukas Rian sambil menggeplak kepala Hakim tak habis pikir dengan pemikiran temannya itu.


"Terus apa? Apa yang bikin kamu manggil namaku sampai teriak-teriak seperti orang kesetanan?" tanya Hakim sambil mengelus kepalanya yang kena geplakan Rian.


"Aku ingin menunjukkan sesuatu sama kamu. Kamu pasti terkejut, ikut aku!" ajak Rian berjalan ke arah balkon apartemen. Hakim mau tak mau mengekor dari belakang Rian.


"Lihat ke bawah!" perintah Rian sambil menunjuk ke arah halaman teras depan apartemen, dimana sudah terparkir dengan rapi sebuah mobil yang terlihat berkelas disana.


"Hm? Mobil siapa itu? Punya kamu, Yan? Kamu dipinjami oleh Tante Maya?" tanya Hakim sambil mengernyitkan keningnya bingung karena ada sebuah mobil sport mewah di depan apartemennya.


"Bukan dipinjami … tapi dikasih secara ratis pula!" sahut Rian mengkoreksi ucapan Hakim sambil berbangga diri.


Hakim yang mendengar secara reflek membulatkan matanya dengan sempurna. "Apa?! Serius? Gratis? Aku tidak salah dengar, kan?" pekik Hakim tidak percaya.


"Betul sekali. Kamu tidak salah dengar. Tante Maya benar-benar memberi diriku mobil itu secara cuma-cuma," jawab Rian membenarkan. Ia yakin saat ini temannya itu pasti tidak percaya.

__ADS_1


"Gila, ada angin apa Tante Maya mau memberikan mobil secara cuma-cuma untuk kamu. Kamu yakin tidak suruh membayarnya? Siapa tahu kan tiba-tiba kamu disuruh mencicil," ucap Hakim mencoba memastikan.


"Tidak, bahkan sepeserpun. Mobil itu diberikan benar-benar secara gratis untuk aku dari Tante Maya. Bahkan kepemilikan mobil itu sudah atas namaku," sela Rian sambil menunjukkan STNK mobilnya di mana nama yang terpampang pemiliknya adalah dirinya.


"Itu berarti service kamu benar-benar memuaskan Tante Maya, karena dia sampai mau memberikan barang mewah untukmu tanpa dipungut biaya," goda Hakim sambil cekikikan.


Rian yang mendengarnya jadi malu salah tingkah. Karena baginya obrolan ini masih terdengar sedikit dewasa. "Hmm … mungkin begitu," komennya singkat.


"Kamu benar-benar gila dan beruntung Rian," decak Hakim sambil geleng-geleng dan bertepuk tangan tak menyangka faktor keberuntungan temannya itu sangat tinggi.


"Itu semua hanya faktor keberuntungan. Kebetulan aku bertemunya dengan Tante Maya. Belum tentu aku mendapatkan keberuntungan ini dari orang lain," sahut Rian berbangga diri.


"Kalau begitu kamu harus berterima kasih padaku," gumam Hakim secara tiba-tiba. Dan sontak membuat Rian reflek menatap ke arahnya.


"Kenapa? Aku mendapatkan mobil itu dari Tante Maya, kenapa berterima kasihnya sama kamu?" tanya Rian bingung sendiri, tidak paham maksud ucapan temannya itu.


Rian yang mendengarnya jadi salah tingkah sendiri. Dia malu jika mengingat saat awal dia ikut Hakim ke Jakarta dengan ekspektasi akan mendapatkan pekerjaan dengan mapan agar dapat menghidupi anak dan istrinya di kampung.


Rian memang mendapatkan penghasilan yang mapan, hanya saja kategori pekerjaannya di luar ekspektasinya. Dan nyatanya dia justru menikmatinya sekarang. Ditambah lagi Tante Maya selalu memanjakannya dengan barang-barang mewah.


Sebelumnya Tante Maya membelikan keperluan sehari-hari. Seperti pakaian, jam tangan, sampai Rian pun dibelikan skincare—setelah ia dibawa ke sebuah klinik kecantikan.


"Apa sih kamu ini, itu kan sudah berlalu. Kenapa masih di bahas-bahas? Sudahlah, aku sudah mengantuk, mau tidur," ujar Rian yang salah tingkah lalu ngacir pergi ke dalam kamarnya.


Hakim hanya terkekeh geli melihat temannya yang malu itu. "Pria macam apa dia, digoda sedikit langsung berubah jadi kepiting rebus," ejek Hakim yang masih cekikikan.

__ADS_1


Rian berjalan ke kamarnya dengan wajah merah dan merasa panas saking malunya. Dia bukannya tidak tahu berterima kasih atas bantuan orang lain. Dia tahu tanggung jawabnya, hanya saja dia sedikit kurang suka jika hal memalukan tersebut di ungkit-ungkit. Kalau mengingat kejadian waktu itu, lalu membandingkan dengan sekarang, dirinya benar-benar memalukan.


Setibanya di kamar, Rian tak lupa menelpon Elsa, istrinya. Itu sudah menjadi rutinitasnya sebelum tidur. Walaupun kini dia sudah bekerja dan jarang pulang ke desa, jalinan komunikasinya dengan istrinya terbilang cukup bagus.


Rian tak pernah sekalipun luput memberi kabarnya, dan begitu pun dengan Elsa. Mereka saling memberi kabar setiap harinya. Karena nya Elsa tenang membiarkan suaminya itu bekerja di ibukota.


"Halo, Sa. Sudah tidur?" sapa Rian begitu telepon tersambung dengan istrinya.


"Baru mau menidurkan Faqih," jawab Elsa dari seberang sana.


"Bagaimana Faqih hari ini? Sudah bisa apa saja dia? Tidak rewel, kan?" Sudah menjadi kebiasaan Rian untuk bawel mengecek kondisi keluarga kecilnya itu.


Rian terlihat menikmati obrolannya dengan Elsa. Mereka banyak mengobrol tentang keseharian mereka dan tentang Faqih, anak mereka.


Kalau boleh jujur, Rian merindukan istri dan anaknya. Hanya saja dia belum bisa pulang saat ini. Tante Maya masih menempel padanya, dan dia masih bergantung pada wanita tersebut, karena wanita itu lah sumber pendapatannya.


"Mas, ada kalanya mungkin sesekali saat kamu ada waktu luang, pulanglah kemari barang sehari saja. Cobalah tengok Faqih, kalian belum bertemu lagi semenjak Mas pergi merantau ke Jakarta. Aku hanya tidak ingin Faqih lupa sosok ayahnya," usul Elsa yang sempat membuat Rian terdiam sejenak untuk berfikir.


"Baiklah, aku akan coba cari waktu untuk pulang sebentar ke kampung. Ya sudah kalau begitu. Ini sudah malam, sebaiknya kalian tidur. Aku juga sudah mengantuk," kata Rian mengakhiri panggilannya.


Rian tampak termenung sesaat. Semua pemikiran-pemikiran yang ada, kini berkecamuk dalam kepalanya. Ucapan Elsa memang benar, dia sudah lama sekali tidak pulang ke desa.


Anaknya pasti sudah tumbuh besar dari saat terakhir bertemu dengannya. Tapi, di satu sisi dia bingung harus beralasan apa ke Tante Maya jika dia harus pulang ke kampung sejenak.


Rian hanya takut membuat Tante Maya kecewa, karena itu akan mempengaruhi penghasilannya. Dia pun mengusap wajahnya alih-alih berusaha menghilangkan penat dalam pikirannya.

__ADS_1


'Kamu hanya perlu bersabar Rian. Semua pasti ada jalannya,' batinnya menyemangati diri sendiri. Lalu dia pun beranjak dari duduknya dan pergi tidur karena sudah sangat mengantuk.


__ADS_2