Dinafkahi Sugar Mommy

Dinafkahi Sugar Mommy
Mulai Nyaman


__ADS_3

"Kamu jadi pergi sama Tante Maya, Yan?" Hakim mengeluarkan botol air minum dari dalam kulkas.


Pagi-pagi sekali Rian sudah bangun duluan daripada Hakim. Pria itu sudah duduk manis di kursi makan sembari menikmati sarapannya yang baru diantar.


Sementara Hakim baru saja bangun tidur. Pria itu mengenakan kaus singlet, celana pendek sepanjang lutut.


"Jadi." Rian mengangguk. Ia kemudian menelan makanannya. "Satu jam lagi Tante Maya mau kemari. Dia yang jemput," jawab Rian.


Hakim menarik kursi makan di seberang Rian. "Gimana, Yan? Enak kan kerja sama Tante Maya? Bisa mendatangkan pundi-pundi uang! Kalau kamu setia, dan pintar mengambil hati Tante Maya, tidak akan lama lagi kamu bisa membeli rumah untuk Elsa dan Faqih di kampung!"


Masalahnya ini bertentangan dengan prinsip Rian selama ini. Uang yang diberikan Tante Maya memang cukup menjanjikan sekali. Rian tengah mengumpulkan pundi-pundi yang nantinya akan ia kirim ke kampung.


Lewat dua minggu Rian tinggal di Jakarta, bekerja bersama Hakim sebagai ... bagaimana menyebutnya? Pekerjaan Rian bukan hanya tidak keren. Tapi layaknya aib yang harus ditutupi rapat-rapat.


"Sudahlah, Yan. Dinikmati saja selagi bisa menghasilkan. Toh, tetap dapat enaknya juga, kan? Di mana lagi kamu bisa mendapatkan pekerjaan seperti ini. Kamu tidak perlu panas-panasan, dimarahi, dibentak, bandingkan saja dengan upah kamu sebagai kuli panggul, dengan bekerja sama Tante Maya! Jauh beda, kan?"


Tapi bekerja bersama Tante Maya sama halnya seperti Rian mengumpulkan dosa setiap harinya. Wanita setengah baya itu sangat tertarik kepada Rian. Tante Maya rela mengeluarkan banyak uang untuk pria yang ia sukai. Uang berapapun akan Tante Maya keluarkan, asal Rian tidak pergi ke wanita mana pun. Selama Rian di kota, Rian hanya boleh bekerja bersama dirinya.


"Aku pun awalnya kaget, Yan. Mulanya takut dosa, tapi lama-lama aku menikmati. Aku bisa beli apa pun yang aku mau. Tidak masalah menjadi simpanan wanita kaya raya. Toh, tidak akan ada yang mengenaliku."


“Tapi–”


“Halah, tidak perlu tapi-tapi, Yan. Nikmati saja sekarang kehidupanmu. Yang penting uang lancar, lama-lama kamu senang,” jelas Hakim terus membujuk Rian.


Rian mematung di tempatnya, merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan, tetapi dia pun tidak punya pilihan lain selain menerima. Rian butuh uang, tetapi prinsipnya mengatakan tidak boleh bekerja dengan memupuk dosa, akan tetapi sudah begini jadinya, mau mundur bukanlah keputusan yang bagus.


“Lihat dirimu, bajumu sekarang bagus, uang di dompet kamu tebal. Keluargamu di kampung juga bahagia. Bayangkan senyum bahagia mereka saat kamu berhasil membuatkan mereka rumah,” ujar Hakim lagi.


Rian mengangguk-anggukan kepala. Kalau dipikir-pikir benar apa yang dikatakan Hakim. Rian bekerja demi membuatkan rumah keluarganya, jadi apapun yang terjadi dia harus melakukannya.


Suara bel berbunyi membuat kedua pria itu menoleh. Hakim lah yang akhirnya membukakan pintu untuk sang tamu. Saat membuka, Hakim melihat seorang perempuan yang baru mereka bicarakan berdiri menjulang di depannya.

__ADS_1


“Hai, Tante Maya,” sapa Hakim.


“Di mana Rian?” tanya Tante Maya celingak-celinguk mencari orang yang disukainya.


“Masuk saja, Tante!” suruh Hakim membuka lebar pintu apartemennya. Tante Maya pun masuk untuk menjemput Rian.


Hakim mengedipkan sebelah matanya kepada Rian, sedangkan Rian hanya menghela napasnya. Kendati demikian, pria itu tetap tersenyum untuk menyenangkan Tante Maya.


“Rian, aku merindukanmu,” aku Tante Maya jujur langsung memeluk lengan Rian dengan manja.


“Bagaimana kabar, Tante Maya?” tanya Rian mengelus lengan Maya dengan lembut.


Elusan dari Rian membuat Tante Maya sangat senang, apalagi tangan Rian yang lembut. “Baik banget, apalagi setelah bertemu kamu. Baiknya bertambah,” jawab Maya sembari mengusung senyumnya.


“Aku juga bertambah senang saat bertemu Tante,” ujar Rian berbohong.


Tante Maya masih mengelus-elus tangan Rian. Setelah bertemu Rian, Tante Maya hanya menginginkan pria muda itu. Tidak ingin pria yang lain dan hanya Rian seorang.


“Kemana?” tanya Rian bingung.


“Sudah, ikut saja!” Maya menarik tangan Rian paksa agar mengikutinya.


“Selamat bersenang-senang!” pekik Hakim melambaikan tangannya kepada Rian dan Tante Maya. Sedangkan Rian, dalam hati pria itu merutuki Hakim yang membuatnya terjerat dengan Tante Maya.


Rian ikut saja kemana Maya mengajaknya. Mereka menaiki mobil mahal Maya dengan disopiri perempuan itu. Hingga setelah perjalanan beberapa menit mereka sampai di sebuah mall yang sangat megah.


Maya memaksa Rian untuk turun dan belanja dengannya. Kalau Maya sudah menyukai satu orang, dia akan melakukan berbagai cara untuk membuat orang yang disukainya nyaman, termasuk memberikan apapun yang diinginkan.


“Rian, kamu suka baju yang seperti bagaimana?” tanya Tante Maya.


“Tidak usah, Tante,” jawab Rian menolak halus.

__ADS_1


“Jangan menolak, Tante akan membelikanmu banyak baju,” kata Maya mengajak Rian untuk melihat-lihat.


Rian sedikit canggung saat berjalan bersama Tante Maya di tempat umum, tetapi sepertinya di kota besar hal ini sudah terjadi. Seorang perempuan genit dengan brondong di sampingnya adalah hal yang biasa.


“Rian, baju ini bagus untukmu.” Tante Maya mengambil kemeja dan mendekatkan ke tubuh Rian.


Rian melihat tax harga dan segera mengembalikan baju itu, “Tidak perlu, Tante,” kata Rian lagi menolak.


“Kelihatannya kamu suka baju ini, Tante akan ambil yang ini,” ujar Tante Maya dengan kukuh. Perempuan itu tidak mau dibantah kalau memiliki keinginan.


Tidak hanya satu baju, nyatanya Maya terus mengajak Rian berkeliling untuk belanja baju-baju yang lain. Tante Maya menghamburkan uang Rian.


Lebih dari sepuluh baju yang dibawa Tante Maya ke kasir, saat dijumlah harganya bahkan Rian ingin pingsan.


“Rian, bagaimana? Kamu senang kan?” tanya Tante Maya kepada Rian.


“Senang,” jawab Rian.


“Ayo kita ke toko ponsel, ponsel kamu harus ganti!” ajak Tante Maya setelah membayar pakaian Rian.


Rian membawa paper bag dengan berbagai merk yang bagus. Jujur ini pertama kalinya Rian mendapatkan hadiah yang mewah.


“Tante, ponselku masih layak pakai,” ujar Rian.


“Ini zaman sudah modern, Rian. Kamu harus ganti,” kata Maya dengan kukuh hingga mereka benar-benar sampai di store hp.


Kalau begini terus, Rian pun mengesampingkan prinsipnya bekerja demi keluarga karena semakin lama Rian semakin terlena dengan kemewahan yang diberikan oleh Tante Maya. Baju bagus yang jumlahnya banyak, dan kini hp keluaran terbaru. Meski bekerja lama di kampung, Rian belum tentu bisa mendapatkan benda itu.


Rian tersenyum saat dibelikan hp Tante Maya, pria itu pun menggandeng lengan Maya dengan mesra. “Terima kasih, Sayang,” ujar Rian membuat Maya senang bukan main.


“Apa pun yang kamu sukai, Tante akan berikan kepada kamu,” ucap Tante Maya meyakinkan Rian.

__ADS_1


Rian mengusung senyumnya, dia menawarkan kenikmatan sedangkan Maya menawarkan kemewahan. Bukankah itu menguntungkan untuk dirinya dan Maya?


__ADS_2