
Mak Ratih merasa bersalah kepada keluarga Rian. Tidak ada maksud jahat saat Mak Ratih tanpa sengaja membahas soal Rian yang akan pergi ke kota untuk bekerja bersama Hakim.
Mak Ratih bercerita ke Hakim, ia merasa menyesal karena ia yang tidak sengaja, malah membuat Elsa dan Rian lagi-lagi harus bertengkar.
"Ibu kayak baru pertama kali melihat Elsa dan Rian bertengkar saja. Cuma karena masalah sepele saja, mereka akan bertengkar habis-habisan. Jadi, tidak usah merasa bersalah. Toh, Ibu cerita atau tidak ke Elsa, pada akhirnya Elsa tetap akan tahu saat tiba di hari keberangkatan Rian." Hakim menanggapi dengan amat santai.
"Kim, kamu kok bicaranya begitu sih? Seolah kata-kata kamu seperti bukan orang terdekat mereka saja." Mak Ratih menegur putranya.
Hakim mengibaskan tangan ke udara. "Sudahlah, Bu. Ibu sama Elsa kan dekat. Coba nasihati Elsa, kasih penjelasan kalau Rian berangkat ke kota juga demi anak dan istri. Memangnya uang Rian buat siapa kalau bukan untuk Elsa dan Faqih? Lagi pula, aku merasa kasihan sama Rian, Bu. Sudah sewajarnya aku membantu temanku."
Mak Ratih menghela napas panjang. Hakim bersikeras akan membawa Rian ikut serta ke kota dalam dua hari lagi.
Bukan Hakim yang mengajak Rian pada awalnya. Tapi Rian sendiri-lah yang datang kepada Hakim untuk meminta bantuan. Saat ada kesempatan untuk Rian bisa mengubah nasib, kenapa tidak, kan? Hakim pun membantu temannya tanpa pamrih.
"Assalamualaikum ..."
Obrolan pasangan anak dan Ibu tersebut berhenti kala mendengar suara Elsa di luar. Mak Ratih pun berkesempatan untuk menemui Elsa lebih dulu, sebelum Hakim ke luar menyusul sang Ibu.
"Waalaikumsalam, Elsa." Mak Ratih setengah lari tergopoh-gopoh menuju ke pintu. "Ada apa, Sa? Ayo, sini duduk. Mak buatin kamu minum, ya?"
"Tidak udah, Mak. Aku ke sini mau bertemu sama Hakim. Apa dia ada di rumah?" tanya Elsa celingukkan.
__ADS_1
"Aku di sini, Sa. Ada apa kamu mencari aku?" sahut Hakim melangkah ke arah teras menyapa Elsa.
Tanpa menghiraukan tatapan Mak Ratih, Elsa mendekat ke arah Hakim. Ia lantas berkata, "Tolong bantu aku, Kim ... tolong bilang ke Mas Rian kalau pekerjaan di kota itu batal. Aku mohon sama kamu," pinta Elsa memegangi tangan Hakim.
Hakim melepas tangan Elsa perlahan. "Maaf, Sa. Aku sudah berjanji ke atasanku. Kalau aku tidak jadi membawa Rian, bisa-bisa aku kehilangan pekerjaan."
"Tolong aku, Kim! Aku akan melakukan apa saja supaya kamu mau membantu." Elsa memasang wajah memelas. "Kalau bukan kamu, siapa lagi yang akan membantuku?" bujuk Elsa.
"Lalu, siapa yang akan membantuku juga kalau aku kehilangan pekerjaan karena tidak membawa Rian? Kamu mau tanggung jawab, Sa?" balas Hakim.
Elsa mengatupkan bibirnya rapat. Ia tertegun mendengar jawaban pria di depannya. Benar, Elsa tidak akan bisa membantu Hakim ketika pria itu kehilangan pekerjaan karena dirinya.
"Jangan egois, Sa. Biarkan Rian pergi mencari pekerjaan yang layak. Kalau Rian yang sukses, siapa yang menikmati uangnya? Kamu, kan?" cecar Hakim.
"Lalu apa?" sela Hakim kesal. "Selama ini kamu sendiri yang mengeluh sering dihina tetangga karena miskin. Tapi kamu tidak mengizinkan Rian bekerja di kota. Rian bekerja jadi kuli panggul, reaksi kamu pun juga mengecewakan. Rian harus apa kalau begitu? Rian menganggur pun lebih salah di mata kamu dan para tetangga!"
Mak Ratih terkejut melihat Hakim mengucapkan kata-kata pedas kepada Elsa. Mak Ratih merasa Hakim sudah kelewatan sekali. Wanita setengah baya itu pun mencoba menengahinya.
"Kim, cukup. Jangan kelewatan pada Elsa. Kami tidak berhak mengakhiri seorang pun, apa lagi kamu dan Elsa tidak memiliki hubungan apa-apa. Kamu boleh saja berteman baik sama Rian, tapi juga harus sadar kapasitan kamu." Mak Ratih lantas menarik Elsa menjauh dari Hakim. "Sa, Mak minta maaf soal kejadian kemarin. Mak bukannya mau mengadu domba kamu dan Rian. Tapi Mak sungguh tidak tahu kalau Rian dan Hakim sengaja menyembunyikan hal ini sama kamu."
"Tidak apa-apa, Mak. Aku tidak menyalahkan Mak Ratih, kok. Mungkin aku saja yang terlalu percaya sama Mas Rian dan Hakim," sindirnya. "Padahal sebelum aku tahu Mas Rian kau pergi ke kota, aku sudah kemari untuk minta Hakim tidak mencarikan pekerjaan untuk Mas Rian di kota. Tapi aku lupa kalah mereka terlalu dekat. Aku sama sekali tidak kepikiran Mas Rian dan Hakim akan bersekongkol membohongi aku."
__ADS_1
Hakim merasakan dadanya mencelos. Ucapan Elsa menghujam jantung Hakim. Ia terpaksa pura-pura membela Rian di depan Elsa. Hakim melakukan ini semata-mata ingin menjauhkan dari Rian yang tidak memiliki tanggung jawab sebagai suami. Hakim akan membuat Elsa dan Hakim menjauh dengan sendirinya. Hakim akan mengajari Rian bagaimana menikmati hidup sampai lupa anak dan istrinya di kampung.
Saat Hakim berhasil membuat Elsa dan Rian berpisah, maka di situlah Hakim akan mendekati Elsa dengan cara yang paling aman, tanpa ketahuan oleh Elsa—bahwa ini semua adalah rencana Hakim.
Lagi pula Hakim tidak tega kepada perempuan itu. Setiap hari Elsa harus mendapat sindiran, hinaan, cacian cuma karena Elsa berasal dari keluarga kurang mampu. Hakim berjanji suatu hari nanti akan membuat Elsa hidup bahagia tanpa rasa khawatir tidak bisa membeli beras.
"Terserah apa kata kamu, Sa. Aku tidak mau bicara apa-apa lagi sama kamu. Lebih baik sekarang kamu pulang, lalu bantu Hakim menyiapkan barang-barangnya. Kamu tahu kan, kalau Rian akan berangkat dua hari lagi?" gumam Hakim.
***
Rian telah bertekad akan mengubah hidupnya menjadi ke yang lebih baik. Rian berjanji kepada dirinya sendiri untuk membahagiakan Elsa dan Faqih ketika ia berhasil menjadi orang yang sukses. Rian akan tunjukkan kepada semua orang di kampung ini, kalau Rian adalah pria yang bertanggung jawab atas hidup istri dan anaknya. Tidak seperti yang dikatakan orang-orang selama ini.
Hakim secara khusus membelikan Rian sebuah koper berukuran sedang. Cukup lah kalau cuma diisi baju-baju. Rian sangat berterima kasih kepada Hakim, karena pria itulah yang mendorong dirinya untuk pergi ke kota. Malahan Hakim yang akan menanggung biaya transportasi Rian dari kampung, ke Jakarta.
Rian tidak memiliki banyak baju. Koper ukuran kecil pun masih terasa longgar untuk Rian.
Elsa tiba di rumah. Ia baru saja dari rumah Mak Ratih—untuk bicara kepada dengan Hakim. Bangun reaksi Hakim mengecewakan Elsa. Ia tidak berhasil membujuk pria itu.
"Sini, aku bantu masukan baju-baju kamu, Mas."
Rian mengerutkan dahinya. "Kamu yakin, Sa? Bukannya kamu tidak suka kalau aku—"
__ADS_1
Elsa tanpa banyak bicara memasukkan sisa baju Rian ke dalam koper. Tidak seperti kemarin, perempuan itu kelihatan lebih pendiam, tanpa melakukan protes apa pun.