
Saat ini, ia hanya bisa memandang ke arah tepi pantai dengan lengan yang ia gunakan untuk menyanggah tengkuk lehernya. Ia merasa rindu sentuhan Rian yang dulu, membuatnya merasa harus melakukan hal lain yang bisa mengalihkan pikirannya saat ini dari Rian.
Tante Maya menepuk tangannya tiga kali, sehingga membuat seorang pelayan pun datang ke hadapannya. Dengan membawakan sebotol wine, pelayan itu lantas menuangkan wine tersebut ke dalam gelas yang ia bawa juga. Ia pun segera mengambil gelas yang sudah terisi wine, dan ia pun menenggak wine tersebut dengan sekali tegak.
Rasa alkohol di tenggorokannya sangatlah kuat, membuatnya sampai memejamkan matanya karena merasa sangat tersiksa pada tenggakkan pertamanya.
Pelayan itu pun meletakkan buah-buahan pada meja, yang berada di sebelah tempat duduknya. Setelah menenggak wine yang ada pada gelasnya, Tante Maya pun segera meraih beberapa buah anggur untuk pelampiasan. Karena ia yang merasa haus dengan sentuhan Rian. Ia segera melupakan pemikirannya itu dan obsesinya terhadap Rian, karena Tante Maya adalah seorang wanita yang sangat memiliki obsesi yang tinggi, tetapi jika ada menemukan kesalahan sedikitpun dia langsung segera menghilangkan obsesi tersebut secepat membalikkan telapak tangan.
“Rasanya aku benar-benar tidak bisa lagi bersama dengan Rian. Ia sudah tidak seperti dulu lagi. Aku tidak bisa bersamanya lagi. Aku harus bisa mencari pengganti, untuk menghilangkan obsesiku terhadapnya,” ujar Tante Maya, membuat dirinya merasa aneh dengan keadaan yang ia hadapi saat ini.
Sementara itu, ketika Rian terbangun dari tidurnya, ia sama sekali tidak melihat keberadaan Tante Maya. Ia menoleh ke arah kiri dan kanan, tetapi tetap saja ia tidak menemukan keberadaan Tante Maya.
“Ke mana dia pergi? Kenapa dia tidak menungguku?” gumam Rian, yang merasa sangat heran karena tidak biasanya Maya pergi meninggalkannya setelah melakukan hubungan intim bersamanya.
Biasanya setelah melakukan hubungan intim, mereka akan tidur bersama dengan Tante Maya yang memeluknya dengan erat. Namun, kali ini berbeda, membuat Rian merasa sangat aneh.
“Biasanya dia memelukku sampai aku bangun. Kenapa saat ini dia tidak memelukku?” gumam Rian lagi yang merasa sangat heran, dengan apa yang Tante Maya lakukan saat ini.
Rian pun keluar dengan memakai celana pendeknya saja seperti sebelumnya. Ia berjalan keluar villa, dan langkahnya menuntunnya untuk menuju ke arah pantai. Ternyata di sana, sudah ada Maya yang masih duduk di pinggir pantai.
__ADS_1
‘Ternyata dia di pantai,’ batin Rian.
Karena melihat Maya yang ada di sana, Rian pun segera melangkah ke arahnya kemudian dengan sangat hati-hati melingkarkan lengannya pada perut Tante Maya. Mengetahui sepasang lengan yang melingkar, Maya pun merasa sedikit kaget karenanya.
“Kamu sudah bangun ternyata,” ujar Tante Maya, membuat Rian mengangguk mendengarnya.
Rian pun duduk di tempat duduk, yang berada di samping tempat duduk Maya. Tangannya memberikan sebuah kode kepada Maya, agar Maya dapat melangkah ke arahnya.
“Kemarilah, aku ingin kau duduk di pangkuanku,” suruh Rian.
Maya yang merasa sedang tidak mood, hanya bisa diam tetapi ia berpikir ulang untuk tidak melakukan hal ini, sampai Hakim menemukan pengganti dari Rian. Jadi ia kembali mengubah sikapnya, kemudian segera duduk di pangkuan Rian.
“Sayang, kenapa kau bangun tanpa aku? Kenapa kau tidak memelukku seperti biasanya? Apa aku membuat kesalahan padamu?” tanya Rian.
Maya pun hanya diam mendengarnya. “Kau tidak melakukan kesalahan apa pun,” jawab Maya untuk menghilangkan rasa penasaran Rian saja.
“Apa benar itu? Aku tidak bisa melakukan apa pun saat ini. Aku hanya bisa meminta maaf jika aku membuat kesalahan padamu,” ujar Rian, memohon kepada Tante Maya untuk tidak melakukan hal itu.
Sikapnya bisa Rian baca, karena tidak biasanya Tante Maya melakukan hal seperti itu kepadanya.
__ADS_1
“Jika aku ada salah kepadamu, aku minta maaf. Tapi tolong jangan sampai hal itu mengubah sikapmu saat ini terhadapku,” ujar Rian yang menyadari perubahan sikap Maya terhadapnya.
Walau demikian, Maya tetaplah tidak akan mengubah pendiriannya dan ia ingin segera mencari pengganti Rian dari Rian yang sangat cocok dan menjadi kriteria idamannya.
Maya mengangguk kecil mendengarnya. “Aku tidak kenapa-napa. Kau tidak melakukan salah apa pun terhadapku. Aku memang sedang lelah saja, dan ingin menikmati suasana tenang dan tentram ini sementara waktu,” ujar Maya membuat Rian merasa masih cemas karenanya.
Rian berusaha menggenggam erat tangan Maya, dengan pandangan mata yang selalu tertuju padanya. “Kita harus menikmati suasana pemandangan di sini. Sayang sekali jika kau sudah menyewa seluruh pulau ini untuk kita berdua, tetapi kau malah menyia-nyiakannya membuat Maya mengangguk kecil mendengarnya.
“Ya, aku pasti akan menikmati suasana di pinggir pantai ini. Aku juga tak mau rugi, karena aku sedang menyewa satu minggu penuh tempat ini agar bisa melakukan hal itu bersama denganmu,” ujar Maya, membuat Rian pun mengangguk kecil mendengarnya.
“Baiklah, sekarang apa yang kau butuhkan?” tanya Rian yang merasa harus segera menanyakan hal yang dibutuhkan Maya.
Hal itu karena ia tidak ingin mengecewakan Tante Maya. Ia juga masih memerlukan Tante Maya untuk memberikan uang kepadanya, agar ia bisa mengirimkan uang tersebut untuk Elma dan juga Faqih. Ia tidak bisa membayangkan, jika ia pulang dari sini tetapi ia tidak membawa uang sama sekali. Karena ia sudah berjanji untuk mengajak Elma dan juga faqih, berjalan-jalan setelah ini. Jika ia tidak mendapatkan uang sepeser pun dari Tante Maya kali ini, ia tidak akan mungkin bisa mengajak Elma dan juga faqih berjalan-jalan, dan itu pasti akan membuat mereka sangat kecewa dengannya.
Rian tidak mau membuat hal itu sampai terjadi. Ia tidak bisa melakukan hal itu. Dia tidak bisa kehilangan pekerjaan ini, hanya karena sebuah kesalahannya. Ia menyadari bahwa apa yang ia lakukan sudahlah salah tadi.
Maya menggelengkan kepalanya kecil, “Aku tidak butuh apa pun saat ini. Aku hanya ingin duduk di sini sembari menikmati angin pantai yang sepoi-sepoi ini. Aku tidak ingin membutuhkan apa pun lagi saat ini,” jawab Tante Maya, membuat Rian merasa tidak puas mendengarnya.
“Kenapa jawabanmu seperti itu? Kenapa kau tidak menjawab seperti biasanya, yang mengatakan bahwa kau membutuhkanku?” tanya Rian, merasa ada yang aneh dengan Tante Maya.
__ADS_1
Maya pun hanya menggelengkan kecil kepalanya, “Entahlah. Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi padaku. Ada yang aneh denganku setelah melakukan hubungan. Apalagi tadi aku sudah terlalu lelah, jadi aku tidak bisa fokus saat ini untuk berbicara padamu,” ujar Tante Maya, membela diri di hadapan Rian.