Dinafkahi Sugar Mommy

Dinafkahi Sugar Mommy
Perasaan Terpendam Hakim


__ADS_3

Hakim membawa Rian menuju sebuah taman yang tak jauh dari mereka, karena ia menganggap kalau Rian akan sedikit tenang setelah ia bawa pergi menuju taman. Saat tiba di teman, mereka duduk di sebuah bangku panjang yang ada di sana. Mereka memperhatikan anak-anak yang sedang bermain bola. Anak-anak itu terlihat gembira, seakan tak ada masalah yang mereka lewati seperti para orang dewasa. Melihat anak-anak itu, Rian jadi teringin kembali ke masa kecilnya. Di mana ia tidak perlu memikirkan hal apapun itu, pikirannya hanya tertuju pada main dan main. Namun, nyatanya waktu tidak bisa kembali di masa yang sudah dilewati, waktu hanya bisa bergerak maju dan tak bisa mundur.


“Melihat anak-anak itu bermain dengan riang, terkadang aku merasa iri melihatnya.” Mendengar itu membuat Hakim menoleh ke arah Rian, pria itu nampak memperhatikan anak-anak yang sedang bermain bola dengan seksama.


“Kita sudah pernah mengalami masa-masa itu, untuk apa harus merasa iri?” tanya Hakim.


“Ya, tetapi itu dulu. Aku kesal menjadi dewasa, karena setelah dewasa dan menikah, ada banyak masalah yang menghampiri. Masalah seakan tak ada habisnya menjemputku hingga membuatku sakit kepala,” jawab Ruan yang kembali menumpahkan rasa kesalnya dengan bercerita pada Hakim.


“Sudahlah, Rian. Aku tadi sudah menyarankanmu bicara baik-baik dengan Elsa, tetapi kamu menolaknya. Masalah hadir karena kamu tak mau mencari tahu kebenarannya lebih dulu,” balas Hakim.


“Bukan aku yang mencari masalah, Elsa sendiri yang mencari masalah. Kenapa dia harus mencuri hingga menambah bebanku seperti ini? Rasanya aku menyesal menikah dengannya karena ia tak sebaik yang kukira.” Mendengar perkataan asal Rian membuat Hakim langsung menatap Rian.


“Jangan asal bicara, kamu akan menyesali perkataanmu nantinya.” Hakim langsung menegur Rian yang asal bicara, selain karena kata-kata Rian belum tentu benar, is juga tak suka mendengar pria itu mengatai Elsa. Sudah cukup orang lain yang mengatai Elsa, seharusnya Rian sebagai suami Elsa tidak melakukan itu.


Hakim tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Elsa saat tahu Rian mengatainya seperti ini, wanita itu pasti akan sangat terluka. Hakim jadi berpikir kalau Rian lah bukan suami baik untuk Elsa karena pria itu terus menyalahkan istrinya sendiri. Namun, Hakim hanya menahan itu di hatinya, karena Rian adalah temannya dan ia tak mungkin mengatakan hal itu secara terang-terangan. Rian akan menganggap kalau ia membela Elsa nantinya dan itu bisa membuat hubungan pertemanan mereka renggang.

__ADS_1


Cukup lama mereka duduk di taman, hingga akhirnya Hakim mengajak Rian untuk pulang. Namun, saat hampir menuju rumah Rian, pria itu meminta agar Hakim menghentikan motornya dan secara refleks Hakim pun menghentikan motornya di pinggir jalan.


“Ada apa? Apa kamu tidak mau pulang?” tanya Hakim pada Rian.


“Aku tidak mau pulang untuk saat ini. Aku tidak mau bertemu Elsa lagi sebelum emosiku stabil.” Rian pun mengatakan alasannya dan Hakim pun akhirnya mengiyakan saat Rian tidak mau dipaksa untuk pulang.


“Baiklah, segera lah pulang saat emosimu sudah menurun,” ucap Hakim yang dibalas anggukan oleh Rian.


Rian berpamitan pada Hakim kemudian berjalan menuju arah lain, sementara itu Hakim masih terdiam di tempatnya sambil menunggu tubuh Rian yang tak terlihat lagi. Setelah menurunkan Rian di sebuah jalan, bukannya langsung pergi pulang ke rumahnya, Hakim justru pergi ke rumah Elsa. Hakim berniat bicara pada Elsa karena ia merasa kasihan pada wanita yang sempat mengisi hatinya itu dan mungkin perasaan itu masih ada hingga sekarang.


Di rumahnya, Elsa sedang berdiri di teras depan rumah. Wanita itu sedang menunggu kepulangan Ria, sampai jam segini Rian belum juga pulang dan itu membuat Elsa khawatir. Elsa berharap setelah Rian pulang, maka suaminya itu mau mendengar penjelasannya.


“Elsa....” panggil Hakim.


“Kamu ingin bertemu suamiku? Dia belum pulang sekarang,” ucap Elsa yang mengira kalau Hakim datang untuk menemui suaminya.

__ADS_1


“Tidak, aku datang bukan untuk menemui Rian. Aku justru tadi sudah bertemu dengan Rian di jalan.” Hakim mulai brcerita tentang pertemuannya dengan Rian di jalan tadi, termasuk ia yang mengajak pria itu pergi untuk menenangkan dirinya.


“Hakim terlihat kesal tadi, maka dari itu aku mengajaknya ke taman sebentar. Setelah itu, dia meminta diturunkan di pinggir jalan karena ingin pergi ke tempat lain,” jelas Hakim.


“Kalau tadi kamu sempat bertemu dengan Rian, lantas mengapa kamu tidak mencoba membujuk Rian untuk pulang? Sedari tadi aku sudah menunggunya. Ada pembicaraan penting yang harus kami lakukan,” ucap Elsa.


“Aku sudah membujuknya, bahkan berkali-kali. Saat dia bercerita kalau kalian sedang ada masalah, saat di taman dan saat Rian minta diturunkan di pinggir jalan, tetapi Rian menolak.” Mendengar penjelasan Hakim membuat Elsa menghela napas.


“Aku turut prihatin dengan apa yang kamu alami saat ini, Elsa. Aku tahu kalau kamu adalah wanita yang baik, kamu tidak akan mungkin melakukan hal itu.”


Tiba-tiba saja Hakim memegang kedua bahu Elsa, hal itu membuat Elsa tidak nyaman. Wanita itu memilih mundur, tetapi Hakim justru maju. Pria itu menatap mata Elsa dan kini Elsa menyadari bahwa sikap Hakim tidak biasa. Entah kalau tidak salah lihat, dari sorot mata Hakim. Pria itu menatapnya tak seperti seorang teman yang sedang menatap temannya yang lain.


“Kamu bukan pencuri, tidak mungkin wanita sebaik kamu mencuri. Meskipun kondisi ekonomi kamu dan Rian mungkin sedang tidak baik, kamu tidak akan pernah melakukan hal yang bisa merugikan dirimu sendiri dan orang lain.” Elsa tak terlalu memperhatikan apa yang Hakim katakan karena wanita itu fokus dengan tangan Hakim yang berada di bahunya, itu benar-benar membuatnya tak nyaman.


Diam-diam Hakim selama ini menyukai Elsa, tetapi malah Rian-lah yang mendapatkan hati Elsa. Saat mengetahui kalau Elsa justru menikah dengan Rian, hal itu membuat Hakim benar-benar kecewa. Pria itu patah hati, hatinya sakit karena sang pujaan hati memilih menikah dengan pria lain. Namun, Hakim tidak bisa berbuat apa-apa karena itu sudah menjadi keputusan Elsa, hati tidak bisa dipaksakan saat sudah berlabuh.

__ADS_1


Dan alasan sebenarnya mengapa Hakim pergi ke kota adalah karena ia patah hati sebab Elsa menikah dengan Rian. Meskipun berusaha ikhlas, tetapi ternyata tidak bisa. Mengatakan ikhlas memang mudah, tetapi menjalaninya lah yang sulit. Ia mengatakan hal ini karena ia sudah merasakannya sendiri, ikhlas itu tak semudah kata. Hanya orang yang kuat saja yang bisa ikhlas menerima seorang wanita yang dicintai menikah dengan teman sendiri dan menerima itu dengan lapang dada.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2