
Keesokan harinya, Rian mengendarai mobil barunya menuju perusahaan Tante Maya. Rian berjanji akan menjemput wanita setengah baya itu saat kemarin Tante Maya memaksa minta dijemput olehnya, dan sekarang dia menepati janjinya.
Rian berjalan ke arah ruangan Tante Maya, lalu mengetuk pintunya sebelum masuk ke dalam. Ketika dia membuka pintu, Tante Maya yang sedang duduk di kursi kerjanya tampak sumringah melihat kehadiran Rian.
"Rian, Sayang! Kamu sudah datang," sapa Tante Maya girang sambil berlari menghampiri lalu memeluk pria tersebut. Rian bisa menghirup wangi mewah yang terpancar dari tubuh Tante Maya, dan dia sangat menyukai wangi tersebut.
"Sesuai janjiku, aku datang menjemput Tante. Apa Tante sudah selesai? Atau masih ada pekerjaan?" tanya Rian dengan full senyumnya.
"Tante sudah menyelesaikan semua pekerjaan hari ini. Jadi, kita pulang sekarang?" ajak Tante Maya dengan tatapan menggoda. Tak lupa dengan dirinya yang masih bermanja-manja dalam pelukan Rian.
"Hm … tapi aku lapar, Tan. Gimana kalau kita makan dulu? Setelah itu baru pulang," tawar Rian bernegosiasi. Rasanya dia ingin menikmati makan malam berdua bersama Tante Maya.
Mendengar ucapan Rian, muncul ide jahil dari diri Tante Maya untuk menggoda Rian. "Kalau makan Tante saja, gimana?" bisik Tante Maya mendekatkan bibirnya ke telinga pria tersebut.
Rian yang tahu kalau dirinya digoda, berusaha membalas dengan menggoda balik Tante Maya. "Hm … kurang kenyang Tan. Kenyangnya hanya sesaat saja."
"Dasar kamu ini. Jadi menurutmu service Tante kurang?" rutuk Tante Maya dengan sedikit kesal. Dia tidak menyangka akan dapat respon begitu dari Rian.
"Bukan begitu, Tante selalu bisa memuaskanku. Tapi soal goda-menggoda, Tante tetap kalah dariku. Makanya jangan menggoda aku, Tante! Cukup aku saja yang menggodamu," tutur Rian dengan tatapan seduktifnya yang paling Tante Maya suka.
"Dasar nakal. Ya sudah, ayo kita makan malam dulu," ujar Tante Maya sambil memukul pelan dada bidang Rian. Lalu setelahnya mereka pun berjalan keluar meninggalkan kantor.
Jangan heran kenapa Rian bisa keluar masuk dengan mudah di perusahaan Tante Maya. Sebelumnya Tante Maya memperkenalkan Rian kepada para staff, sebagai keponakannya dari jauh. Jadi setiap kali Rian diajak ke kantor, mereka semua tidak ada yang menaruh curiga.
__ADS_1
Mereka pun sampai di sebuah restoran yang terbilang cukup elit di kawasan ibu kota. Setelah memesan makanan, mereka melanjutkan mengobrol selagi makanan pesanan mereka datang.
"Jadi, gimana … suka sama mobilnya?" tanya Tante Maya penasaran dengan pemberiannya tempo hari.
"Suka sekali, Tan. Aku tidak menyangka akan diberi Tante mobil baru yang mewah seperti itu. Tapi, apa itu tidak berlebihan Tan?" tanya Rian yang sebenarnya merasa tidak enak karena di beri barang mewah.
"Tidak ada yang berlebihan buat Tante, Sayang. Tante senang kalau kamu menikmati pemberian Tante. Kalau perlu, semua keinginan dan kebutuhanmu akan Tante penuhi," jawab Tante Maya cuek.
"Tapi, Tante jadi harus mengeluarkan uang banyak. Ditambah Tante kasih mobil itu gratis ke aku. Aku sedikit merasa tidak enak saja," celetuk Rian yang akhirnya mengeluarkan uneg-unegnya.
"Sayang, kamu tidak perlu memikirkan itu. Biar itu jadi urusan Tante. Anggap saja itu imbalan karena kamu sudah mau menemani Tante," sahut Tante Maya berusaha membuat hati Rian merasa nyaman atas pemberiannya.
'Bahaya ini. Bisa-bisa aku terlena dengan semua pemberian dari Tante Maya. Tapi … aku sendiri juga senang dengan semua pemberiannya. Bagaimana ya?' batin Rian yang tanpa sadar jadi diam dan merubah ekspresinya.
"Hei, apa yang sedang kamu pikirkan? Rian, kamu harus ingat … selama bersama Tante, kamu tidak boleh banyak berpikir. Tante tidak suka melihat kamu banyak pikiran begitu. Kamu cukup menikmatinya saja. Dan yang terpenting selalu bisa menemani Tante," ujar Tante Maya menasehati Rian yang jelas masih kepikiran.
'Ah sial. Sudah terlanjur basah. Jalani saja,' rutuk Rian menepis kegelisahannya. Dia pun merubah ekspresinya kembali dan tersenyum lebar.
"Baiklah, aku anggap pemberian dari Tante adalah rezekiku. Rezeki tidak boleh ditolak, kan?" timpal Rian sambil slengekan. Dia sudah memutuskan untuk menikmati apa yang ada di hadapannya saat ini.
"Baguslah, akhirnya kamu mengerti. Itu benar sekali, pamali nolak rezeki, Sayang," balas Tante Maya dengan tersenyum puas. Dia lega karena Rian akhirnya menepis kegelisahan yang sedari tadi menggelayuti diri pria tersebut.
Setelah makan malam selesai, Tante Maya mengajak Rian bermalam di rumahnya. Awalnya Rian menolak, tapi karena sudah larut malam dan Tante Maya bilang ingin tidur dengannya, akhirnya dia menuruti keinginan wanita paruh baya itu.
__ADS_1
Saat mereka berdua berjalan memasuki rumah, mereka tidak menyadari bahwa Mina kebetulan sedang mengambil air ke dapur. Mina melihat majikannya pulang, dan hendak menghampirinya. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti.
Matanya membulat sempurna ketika melihat pria yang jalan bersama majikannya itu adalah sosok pria yang dia kenal. "Loh … itu kan …" Belum selesai Mina berkomentar, kedua orang tersebut menoleh ke arah dapur.
Mina langsung bersembunyi sambil membekap mulutnya sendiri, tak ingin keberadaannya ketahuan oleh majikannya itu.
"Ada apa, Sayang?" tanya Tante Maya melihat kekasihnya berhenti berjalan dan menoleh ke arah dapur.
"Sepertinya aku mendengar suara orang dari dapur, Tante," sahut pria di sampingnya sambil terus mengamati kondisi dapur.
"Suara? Tante tidak dengar suara apa pun dari tadi," ujar Tante Maya bingung sendiri. Karena dia tidak dengar apa-apa sedari tadi.
"Mau aku periksa? Takutnya ada penyusup masuk," jawab pria tersebut lalu hendak berjalan ke dapur, namun dengan cepat di cegah oleh Tante Maya.
"Tidak perlu. Paling Mina atau Pak Ujang. Kita langsung ke kamar saja yuk, Tante sudah lelah dan ingin segera berduaan denganmu," sahut Tante Maya dengan manja merangkul lengan kekasihnya.
"Ya ampun manja sekali tanteku ini. Baiklah kita istirahat sekarang," sahut pria tersebut lalu merangkul Tante Maya dan membawanya masuk ke dalam kamar mereka di lantai dua.
Sementara Mina terus mengamati kedua orang tersebut dari jauh. Setelah memastikan kedua orang itu naik ke lantai atas dan masuk ke kamar mereka, Mina baru bisa melampiaskan keterkejutannya.
"Astaga! Itu kan … Rian, suami Elsa. Jadi, dia kekasih Bu Maya? Apa sih yang ada dipikirannya? Dia kan punya keluarga di kampung. Kenapa malah memilih jadi simpanan Bu Maya?!" cerocos Mina tidak habis pikir.
Tak bisa tinggal diam, Mina memutuskan untuk mengawasi Rian selama pria tersebut ada di rumah majikannya ini. Dia merasa tidak terima, tetangganya di kampung dikhianati oleh suaminya sendiri.
__ADS_1
'Lihat saja … aku akan mengawasimu Rian. Kalau sampai terbukti kau melakukan yang aneh-aneh, aku akan melaporkannya ke Elsa. Dia berhak tahu, apa yang di lakukan suaminya disini,' batin Mina penuh tekad kuat.