Dinafkahi Sugar Mommy

Dinafkahi Sugar Mommy
Kabar Berita


__ADS_3

Di sana, Mak Ratih pun berjalan ke arah rumah Elma, sembari membawa semangkuk sayur lodeh buatannya. Ia tahu, Elma pasti tidak bisa mengurus diri sendiri, karena ia yang sedang mengurus Faqih yang masih demam.


Dengan langkah yang cukup cepat, Mak Ratih pun segera melangkah masuk ke dalam rumah Elma.


Di dalam, Elma baru saja meletakkan Faqih ke atas ranjang tidurnya, karena ia baru saja selesai memberikan ASI untuk Faqih. Mak Ratih yang baru saja datang, sampai terhenti langkahnya karena ia khawatir langkah kakinya membuat Faqih terbangun kembali.


Elma dengan tenang meletakkan Faqih, setelahnya menghela napasnya dengan panjang. Selama kurang dari 1 jam ini, Elma menggendong Faqih yang masih rewel, membuatnya merasa sangat lelah karenanya.


“Elma,” panggil Mak Ratih dengan berbisik-bisik.


Elma menoleh dengan senyuman, “Iya, Mak?” jawabnya juga dengan berbisik-bisik, khawatir mengganggu Faqih yang baru saja tidur.


“Ayo, makan dulu,” ajak Mak Ratih, Elma pun mengangguk kecil mendengarnya, lalu mereka pun segera pergi dari ruangan kamar untuk sekadar berbincang.

__ADS_1


Mereka duduk pada kursi dekat meja makan, dengan Mak Ratih yang sudah meletakkan sayur lodeh di atas meja makan. Elma memandangnya bingung, karena ternyata Mak Ratih yang sudah berbaik hati untuk memasakkan makanan untuknya.


“Mak, ini Mak buat untuk Elma?” tanyanya, membuat Mak Ratih mengangguk kecil mendengarnya.


“Ayo, dimakan, Nak. Mak sudah buatkan untuk kamu. Maaf, hanya sekadar sayur lodeh sederhana,” ujarnya, membuat Elma tersenyum mendengarnya.


“Ini sungguh sangat istimewa, Mak. Terima kasih sudah membuatkan sayur ini,” ujar Elma, dengan senyuman yang khas yang ia miliki.


Elma pun segera mengambil nasi yang ada di dalam rice cooker, dan segera mengambil telur ceplok yang baru saja ia goreng, sebelum Faqih terbangun meminta ASI. Ia kembali duduk di kursi, dengan sajian sederhana yang ada di hadapannya.


“Mak sudah makan. Kamu makanlah yang banyak, kalau kurang, nanti Mak ambilkan sayur yang baru,” ujarnya, membuat Elma tersenyum mendengarnya.


“Ini saja sudah berlebih, Mak.” Elma mengambil makanan yang ada di hadapannya, kemudian menyuap suapan pertamanya.

__ADS_1


Senyumannya merekah di wajahnya, “Ini enak, Mak!” ujar Elma, memuji masakan Mak Ratih dengan bangganya.


“Habiskan, Nak. Setelah ini, Mak ingin bicara dengan kamu,” ujar Mak Ratih, membuat Elma mengangguk mendengarnya.


Elma dengan lahapnya menyantap hidangan yang ada di hadapannya, membuatnya merasa sangat senang karena Mak Ratih yang memerhatikannya seperti itu.


Setelah menghabiskan makanannya, Elma pun menenggak air mineral yang ada pada gelas, yang berada di hadapannya. Ia merasa lapar dan dahaganya telah hilang, dan kini ia pun merasa lebih bersemangat lagi.


“Akhirnya selesai juga, makanannya enak,” ujar Elma lagi, Mak Ratih hanya tersenyum mendengarnya.


“Elma, bisa kita bicara sekarang?” tanya Mak Ratih, membuat Elma memandangnya dengan serius.


“Ada apa, Mak? Apa ada hal penting yang ingin Mak bicarakan?” tanya balik Elma, Mak Ratih mengangguk mendengarnya.

__ADS_1


“Tadi Mak ke warung sebentar untuk beli garam, Mak gak sengaja dengar ibu-ibu sedang bicarakan tentang kecelakaan beruntun yang terjadi di Jakarta. Gak sengaja ada berita tentang kejadian kecelakaan itu, dan muncul di TV. Ada nama Rian tertera di sana. Apa kamu sudah bertukar kabar dengan Rian sore ini?” ujar Mak Ratih, sontak membuat Elma mendelik kaget mendengarnya.


“Apa?!”


__ADS_2