
Elsa mengajak Hakim mengobrol di teras rumah demi menghindari fitnah. Elsa sudah kenyang difitnah sana-sini. Baru-baru ini ia malah difitnah mencuri makanan di rumah Mak Ratih. Daripada menambah sakit hati Elsa, lebih baik ia mencegahnya.
Perempuan beranak satu itu ke luar dapur membawa segelas air untuk Hakim. "Diminum dulu, Kim. Maaf seadanya, ya."
Satu gelas air putih tersebut diangsurkan kepada Hakim. Putra bungsu Mak Ratih pun menerimanya. Elsa lantas kembali duduk di kursi seberang tempat Hakim duduk.
"Terima kasih, Sa. Air putih saja sudah cukup, kok. Aku malah takut merepotkan kamu." Hakim meneguk air dari gelas.
Elsa menggeleng. "Sama sekali tidak merepotkan kok, Kim."
Hari semakin larut, namun Rian tidak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Elsa khawatir kalau Rian kabur-kaburan seperti ini. Sampai kapan Rian mau bersikap seperti anak kecil? Setiap kali marah lalu pergi menghindar. Elsa mengerti jika Rian ingin meredam amarahnya, tapi apa Rian tidak tahu kalau Elsa takut Rian kenapa-kenapa?
Sebagai seorang istri, sangat wajar kalau Elsa khawatir tentang Rian. Jika Rian bukan siapa-siapanya Elsa, ia pun tidak peduli. Jika terjadi sesuatu kepada Rian, bukankah Elsa juga yang kesulitan?
Hakim berdeham mencairkan suasana di antara mereka berdua. Sudah hal biasa bagi Hakim kesulitan mencari topik obrolan saat berdua bersama Elsa. Mau dulu atau sekarang, Hakim masih saja salah tingkah. Sudah bertahun-tahun berlalu, perasaan Hakim tidak pernah berubah.
"Maaf jika aku menyinggung perasaan kamu, Sa. Tapi aku tahu soal ini dari cerita Rian ..." Hakim membuka percakapan setelah cukup lama diam.
Elsa mengangguk paham, ia mengerti ke mana arah pembicaraan Hakim sekarang.
Apa lagi kalau bukan masalah pertengkaran Rian dan dirinya? Semua bermula karena Elsa ketahuan makan di dapur Mak Ratih. Jika saja Gina tidak menyebarkan rumor buruk tentang Elsa, tidak akan seperti ini kejadiannya. Tidak mungkin Rian sampai marah-marah sambil pulang dengan wajah yang biru-biru akibat baku hantam dengan sesama tetangga.
"Aku tahunya bukan dari Rian, Sa ..." Hakim seolah tahu apa yang ada di pikiran Elsa sekarang. "Sebenarnya aku sudah dengar soal rumor ini beberapa hari lalu. Cuma aku mengabaikannya. Aku pikir seiring berjalannya waktu orang akan lupa. Dan aku yakin yang dikatakan orang-orang tentang kamu yang mencuri makanan ibuku, itu tidak benar adanya."
Elsa menarik napas lega. Setidaknya ada satu orang yang percaya kepada dirinya. Walau orang itu bukan Rian, suaminya, tapi tidak apa-apa. Elsa sudah cukup senang.
__ADS_1
Hanya saja ... Elsa agak kecewa karena Rian tidak seperti Hakim. Suaminya malah sibuk membicarakan harga diri, daripada melindungi Elsa. Kalau saja Rian bisa bersikap dewasa dan bijak, Rian tidak perlu pulang dengan amarah yang meledak-ledak. Bisa saja Rian mengajak Elsa bicara empat mata, lalu mencari jalan keluar sama-sama.
"Maaf kalau membuat kamu kecewa. Aku tidak bisa membantu kamu menyuruh Rian pulang. Mungkin saja Rian ingin menenangkan dirinya." Hakim memberi jeda sebentar. "Walau aku dan kamu tidak sedekat itu. Tapi aku selalu percaya bahwa kamu orang yang baik. Tidak mungkin kami mencuri hanya karena kelaparan sekali pun."
Elsa menghela napas lebih panjang. Tatapannya perlahan turun ke bawah lalu berubah kosong. Entahlah, sekarang Elsa hanya bisa pasrah. Marah pun percuma. Keadaan Elsa yang sekarang adalah jalan dari Tuhan. Elsa hanya manusia biasa yang hanya bisa berencana.
"Kenapa kamu bisa percaya sama aku, Kim? Kalau Rian lebih percaya sama mulut orang lain ..." Terbit senyum masam di bibir Elsa. "Kamu tidak perlu repot-repot menghiburku, kok. Aku sudah biasa dipandang sebelah mata sama tetangga."
"Tidak, Sa. Aku bicara dari dalam lubuk hatiku yang paling dalam ..." Hakim menggeleng cepat, ia buru-buru meyakinkan kalau ia tidak berbohong kepada Elsa.
Untuk beberapa saat, Elsa termenung. Ia terhipnotis kata-kata serta cara Hakim menatap dirinya.
Deg!
Sepasang mata Elsa mengerjap. Terlintas di dalam benaknya kalau Hakim kelihatan beda daripada biasanya. Elsa menggelengkan kepalanya, mengabaikan apa yang mampir di kepalanya.
Di tengah keheningan teras rumah Elsa, suasana berubah mencair kala ponsel di dalam saku celana Hakim berdering. Elsa sontak tersentak, lamunannya buyar kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Dari Ibu, Sa." Hakim mengangkat benda persegi itu ke udara menunjukkan layar yang menyala-nyala. "Aku angkat telepon Ibu dulu ya."
"Iya. Silakan," timpal Elsa mengangguk.
Panggilan masuk ke nomornya berasal dari nomor Mak Ratih. Hakim menggeser layar ponselnya sebelum menempelkan benda itu ke sebelah telinganya.
"Halo, assalamualaikum, Bu ..." Hakim menyapa Mak Ratih dengan suara lembut.
__ADS_1
"Iya, Kim. Halo," balas Mak Ratih. Berbeda dari suara Hakim yang lembut, Mak Ratih sedikit meninggikan suaranya. Maklum saja namanya orang tua. "Kamu lagi di mana, Kim? Apa kamu tidak mau pulang? Ini sudah malam. Ibu khawatir kamu kenapa-kenapa di jalan."
Hakim tersenyum. Ia menjejalkan satu tangannya ke saku celana. "Aku tidak ke mana-mana kok, Bu. Ini sedang di rumah Elsa. Dia lagi menunggu Rian pulang."
"Rian ke mana memangnya?" Ada jeda selama dua detik. Mak Ratih lantas mengatakan, "Pulang, Kim. Jangan ke rumah Elsa selama Rian tidak ada di rumah. Ibu cuma tidak ingin kamu menjadi bahan gunjingan warga kampung. Lagi pula, kasihan Elsa kalau kena rumor lagi."
Hakim manggut-manggut. "Iya kok, Bu. Ini Hakim sudah mau pulang. Hakim pamit dulu ke Elsa ya, Bu."
"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan ya, Kim ..."
"Baik, Bu. Hakim pulang sekarang. Assalamualaikum ..."
Mak Ratih membalas, "Waalaikumsalam, Kim."
Selama Hakim mengangkat panggilan dari Mak Ratih, rupanya Elsa sempat meninggalkan Hakim ke dalam untuk menggendong Faqih. Bayi berjenis kelamin lelaki tersebut tahu-tahu terbangun lalu menangis. Namun tidak lama berada digendongan Elsa, Faqih langsung diam dan berhenti menangis.
"Kenapa, Kim? Mak Ratih nyuruh kamu pulang, ya?" tanya Elsa.
"Iya nih, Sa." Hakim memasukkan kembali benda persegi itu ke dalam saku celananya. "Kamu tahu sendirilah, Sa. Ibu kayak gimana kalau aku sudah pulang. Rasanya aku ini masih balita di matanya."
Elsa tertawa kecil. "Itu tandanya Mak Ratih sayang sama kamu. Pengin menghabiskan waktu berdua selama kamu pulang kampung." Hakim manggut-manggut. "Sudah sana pulang, Kim. Mak Ratih pasti khawatir menunggu kamu tiba di rumah."
Hakim tidak bisa lama-lama berada di rumah Elsa. Benar kata ibunya, Elsa dan Hakim bisa saja menjadi korban rumor dari mulut jahat para tetangga. Hakim sih tidak takut, namun Hakim memikirkan perasaan Elsa. Hakim tahu Elsa adalah perempuan baik-baik.
Sekali pun Hakim menginginkan Elsa menjadi pasangannya, Hakim lebih baik menunggu janda Elsa, daripada harus merebut Elsa dari Rian.
__ADS_1
BERSAMBUNG....