
Elsa menengok pada Faqih yang kini sudah tidur pulas di atas ranjang barunya.
Sedikit demi sedikit Elsa membeli perabotan baru untuk rumahnya. Baru beberapa hari lalu Elsa membeli sebuah kasur berukuran cukup besar untuk ditaruh di kamarnya.
Elsa menempelkan ponselnya ke sebelah telinga. Ia tengah terlibat obrolan dengan Rian.
Ia mengabarkan soal Faqih yang demam tinggi hingga dibawa ke dokter. Beruntung, kondisi kesehatan Faqih tidak ada masalah yang serius. Putra semata wayang mereka langsung diperbolehkan pulang pada hari itu juga.
"Sekarang Faqih-nya di mana, Sa?" Suara Rian menyapa di seberang sana. "Sungguhan tidak ada masalah dengan kesehatan Faqih, kan?" tanyanya masih sangsi.
Elsa memindahkan ponselnya ke sebelah telinga. "Dokter bilang cuma demam biasa kok, Mas. Sudah dikasih obat juga. Sekarang Faqih sedang tidur," jawab Elsa. "Mas Rian mau lihat Faqih? Biar aku aktifkan mode panggilan video."
"Tidak usah, Sa," sergah Rian. "Ini kan sudah malam. Lagi pula Faqih sedang sakit. Biarkan saja Faqih tidur, jangan diganggu."
Elsa mengangguk saja. Ia menuruti semua kata-kata suaminya. "Ya sudah, Mas." Hening menyapa. Elsa tidak mendengar suara apa-apa. "Oh ya, Mas. Mas Rian sedang apa sekarang? Sudah pulang bekerja?"
"Sudah," jawab Rian. "Sekarang aku mau siap-siap pergi ke luar membeli lauk bersama Hakim," tambahnya.
Obrolan Elsa dan Rian terus berlangsung. Elsa secara terbuka membicarakan soal uang yang dikirim oleh Rian. Elsa bercerita kalau ia baru saja membeli ranjang baru, perhiasan, sedangkan sisa uangnya akan ia tabungkan.
"Kamu atur saja uangnya, Sa. Aku percaya sama kamu. Kamu pasti akan menggunakannya dengan bijak," gumam Rian di telepon.
"Oh ya, Mas," ujar Elsa. "Selama ini kamu tidak pernah membahas soal pekerjaan kamu di Jakarta. Kalau boleh tahu, kamu dan Hakim bekerja di mana? Terus, sebagai apa?" tanya Elsa. Rian seketika bungkam, sibuk mencari jawaban.
***
"Halo? Halo, Sa? Apa? Suara kamu tidak kedengaran! Halo, Sa?"
__ADS_1
Klik.
Rian dengan cepat mengakhiri pangilannya bersama Elsa. Rian kemudian menurunkan tangannya, meletakkan benda persegi tersebut ke atas kedua pahanya.
Tante Maya menyusul ke ruang tamu untuk meletakkan segelas air ke atas meja untuk Rian. Rian menyambar segelas airnya. Tante Maya duduk di sebelah Rian, bergelayut manja ke sebelah lengan Rian.
"Telepon dari siapa? Istri kamu, Sayang?" Tante Maya mengangkat wajahnya. "Kenapa? Dia meminta uang tambahan?" tanyanya.
"Tidak, Tante," jawab Rian. "Elsa memang menelpon baru saja. Tapi bukan untuk meminta uang padaku. Dia mengabarka padaku kalau putra Kami sedang demam tinggi."
"Sudah dibawa ke rumah sakit?" Tante Maya menarik dirinya menjauh dari Rian.
"Sudah." Rian menengok sekilas. "Tapi kata dokter tidak ada masalah. Faqih hanya sedang demam biasa saja."
"Syukurlah kalau begitu, Rian ..." Tante Maya menyandarkan kepalanya ke lengan Rian.
"Kamu tidak usah pulang ke apartemen Hakim malam ini, ya? Tante sangat kesepian. Asisten rumah tangga Tante kan masih ada di kampung. Baru pulang mungkin minggu depan, atau lusanya."
"Kamu bisa saja, Rian, jangan menggombal begitulah!" Tante Maya tersipu malu-malu.
"Tante belum menjawab pertanyaan dariku. Ke mana anak-anak Tante?" tanya Rian lagi. "Rumah ini sangat besar kalau cuma ditinggali berdua bersama asisten rumah tangga saja."
"Anak-anak Tante tinggal di rumahnya sendiri, Sayang. Karena sebagian dari mereka sudah menikah, sedangkan sisanya ingin hidup mandiri dengan tinggal sendiri di apartemen. Jadi, ya ... Tante di rumah sendirian."
"Tante sering kesepian dong?" celetuk Rian.
"Itu dulu sih. Sekarang kan tidak ada lagi. Sudah ada kamu," bisik Tante Maya.
__ADS_1
Di balik kecantikan Tante Maya di usia yang sudah tidak muda lagi, orang-orang mengenal Tante Maya sebagai pribadi yang baik, sopan, juga setia kepada mendiang suaminya. Dikabakan ada banyak pria yang ingin meminang Tante Maya. Namun Tante Maya menolak, ia selalu memberi alibi bahwa ia masih mencintai mendiang suaminya. Padahal, Tante Maya hanya sibuk mencari brondong di sana-sini.
Tante Maya seorang wanita yang penuh tipu muslihat. Di hadapan orang-orang saja ia kelihatan baik, membangun sebuah image bahwa dirinya adalah wanita paling setia kepada suaminya yang sudah tiada.
"Kalau aku sering menginap di sini, apa tidak masalah, Tante? Bagaimana kalau ada anak Tante yang melihat. Mereka pasti tidak akan senang melihat keberadaanku di sini ..."
Tante Maya meletakkan kedua tangannya ke bahu Rian. "Jangan khawatirkan itu, Sayang. Mereka tidak akan berani mengganggu kesenangan ibunya. Mungkin mereka akan melarang pada awalnya. Tapi setelah mereka tahu bahwa Tante jauh lebih bahagia bertemu kamu, mereka pasti akan berterima kasih setelahnya sama kamu, Rian," ujar Tante Maya meyakinkan.
***
Uang simpanan Elsa di rumah sudah terkumpul cukup banyak. Tadinya Elsa akan menyimpan uangnya ke dalam lemari saja. Namun, beberapa hari lalu ada kejadian perampokan di lampung sebelah, semua harta benda diambil oleh perampok. Jadi Elsa menerima saran dari Mak Ratih agar ia membuat nomor rekening sendiri.
"Kita mau naik ke apa ke sana, Mak?" tanya Elsa berjalan beriringan dengan Mak Ratih.
"Naik becak saja, Sa." Mak Ratih kemudian menambahkan, "Kalau naik angkutan umum, kita akan menunggu terlalu lama."
Lagi-lagi Elsa mengiyakan saja. Kedua perempuan berbeda usia itu berjalan menuju ke jalan raya.
Penampilan Elsa yang kini jauh berbeda telah menarik perhatian banyak orang. Khususnya para tetangga. Semula Elsa takut. Tapi semakin ke sini, Elsa sudah terbiasa.
"Wah, Mak Ratih mau ke mana nih?" Di tengah jalan, Mak Ratih dan Elsa berpapasan. "Mau jalan-jalan, ya?" Gina melirik Elsa sinis. Tatapannya terarah pada kalung emas yang melingkar di leher Elsa.
Mulanya Elsa enggan menjawab. Ia takut dinyinyiri oleh perempuan itu. Mengingat dulunya ia pernah difitnah habis-habisan oleh Gina.
"Ini, Gin. Mak mau mengantar Elsa membuat rekening," jawab Mak Ratih.
"Banyak uang dong Elsa sekarang!" sindir Gina.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Gin. Sekarang kan Rian sudah kerja di kota. Semua uangnya dia kirim ke Elsa. Zaman sekarang jangan menaruh uang banyak-banyak di rumah. Takut ada maling," gumam Mak Ratih. "Makanya Mak suruh Elsa bikin rekening saja. Kan, lebih aman."
Gina tambah nyinyir. Ia tidak percaya kalau Rian menghasilkan banyak uang di kota. "Berapa sih banyaknya, Mak? Maling mau ambil uang orang juga lihat dulu, kali. Mana mungkin mau maling di rumah Elsa yang reyot itu!"