Dinafkahi Sugar Mommy

Dinafkahi Sugar Mommy
Nasihat Hakim


__ADS_3

Saat hendak menyebrangi jembatan yang memotong sungai, Rian tak sengaja melihat mobil dari arah berlawanan, sehingga ia harus menahan kakinya terlebih dahulu dan membiarkan mobil itu lewat lebih dulu agar dirinya tidak terserempet. Jembatan yang tidak terlalu besar ini memang mengharuskan salah satu penggunaya agar tidak terjadi kecelakaan.


Mobil itu bergerak cukup pelan, hingga setelah turun dari jembatan kendara roda empat itu berhenti tepat di depan Rian. Pria itu mengerutkan dahi, tetapi ketika ia hendak pergi pintu mobil dibuka dan menampilkan pria yang sangat ia kenal.


“Hakim,” lirih Rian.


Hakim tampak memandang Rian dengan tatapan seperti seseorang yang melihat video bencana. Menit berikutnya pria itu mematikan mesin mobil dan langsung turun menghampiri Rian. “Wajah kamu kenapa? Apa kamu habis berkelahi dengan seseorang?” tanya Hakim penasaran.


“Ya, ceritanya panjang,” kata Rian.


“Apa saya boleh tahu? Biasanya warga selalu berisik jika ada kejadian di desa, tapi sejauh ini saya belum mendengar apa-apa. Oleh sebab itu saya ingin tahu kamu kenapa? Wajah kamu tampak parah, loh, kalau kamu membiarkannya nanti takut akan terjadi apa-apa,” nasihatnya.


“Ya bagaimana lagi, aku memang habis berantem dengan temanku karena tiba-tiba saja dia menuduh Elsa mencuri di rumah Mak Ratih. Aku sebenarnya tahu kalau Elsa tidak akan melakukan itu, tapi katanya para tetangga sudah tahu semuanya dan ada bukti yang mengatakan jika Elsa mencuri. Aku yang hendak keluar, tiba-tiba dihentikan oleh temanku dan dia langsung menuduh istriku. Karena aku marah, akhirnya aku langsung memukulnya dan dia balas memukulku hingga kami berkelahi,” jawab Rian dengan jujur.


“Astaga, orang-orang tega sekali mengatakan itu. Terus bagaimana sekarang, apakah kamu sudah menjelaskan bahwa istri kamu tidak melakukannya?” tanya Hakim.


Rian menggeleng pelan, pandangannya menatap nanar ke bawah. “Tidak, karena percuma saja mereka tidak akan percaya padaku atau pun pada Elsa. Kami sama-sama dikucilkan dan tidak disukai oleh mayoritas warga desa, jadi aku memilih pergi sementara dari rumah entah ke mana agar tidak melakukan hal yang mungkin akan melukai Elsa. Dia menangis karena aku marah padanya. Pada awalnya aku bingung harus percaya pada siapa, Elsa atau tetangga yang punya bukti. Tapi melihat Elsa yang menangis dan aku tahu betapa tulusnya wanita itu, aku jadi percaya kalau Elsa tidak akan melakukan hal yang keji,” jelas Rian lagi.

__ADS_1


Hakim memandang iba pria di depannya seraya menepuk-nepuk bahu Rian seakan menghiburnya. “Kamu bersabar, ya. Semoga Tuhan memberikan kalian kesabaran dan bisa keluar dari penjara ini. Nah sekarang, kamu ikut saya ke puskesmas. Luka kamu harus segera diobati agar kamu segera sembuh dan bisa beraktivitas seperti sebelumnya,” ajak Hakim.


“Maaf, tapi—”


“Sudahlah, mari ke pusksemas. Lagi pula saya tidak punya kegiatan hari ini, jadi lebih baik antar kamu ke sana. Orang sakit, kan, tidak enak. Kamu harus segera sembuh dan setelah itu kamu bisa pulang ke rumah lagi. Jangan meninggalkan istri kamu di rumah sendirian, dia lagi terpuruk, jadi harus kamu temani. Kamu sudah menjadi suami, jadi kamu harus bertanggungjawab padanya.” Hakim berkata dengan bijak.


Rian mengangguk-anggukkan kepalanya. Jika dinasihati dengan cara yang lembut seperti ini, Rian memang mudah menerimanya dengan baik. Namun jika seseorang menasihatinya dengan penuh amarah, maka ia pun mudah tersulut emosinya. Ia benar-benar menyukai karakter Hakim yang lembut.


“Mari masuk ke dalam mobil,” ajak Hakim lagi.


“Kamu tidak perlu mengingat perkataan para tetangga, masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri saja. Biarkan mereka mengatakan apa pun sampai lelah, nanti juga akan berhenti sendiri,” kata Hakim seraya fokus menatap jalanan di depan.


“Tapi tetap saja kadang telinga ini terasa panas,” ungkap Rian.


Hakim mengangguk, ia mencoba mengerti dengan apa yang terjadi pada Rian. Kehidupannya memang dikelilingi banyak orang toxic, sulit baginya untuk bergerak lebih leluasa jika masih berada di sini.


Sekitar lima belas menit kemudian, mereka sudah sampai di puskesmas. Hakim menunggunya di luar, sementara Rian langsung ke meja pendaftran untuk mengambil nomor antrean dan diperiksa setelahnya. Dari kejauhan, Hakim merasa iba terhadap kehidupan dan finansial Rian saat ini. Bahkan saking susahnya mereka, orang-orang tak ragu menuduh istrinya sebagai pencuri di rumah Mak Ratih, ibu Hakim sendiri. Padahal Hakim juga tahu bahwa Elsa tidak akan melakukan hal itu. Melihat kepribadian Elsa, rasanya mustahil jika dia melakukan keburukan tersebut.

__ADS_1


“Ibuku tidak akan salah menilai orang lain, jadi ketika dia sudah mempercayai Elsa, itu berrarti karena Elsa memang baik dan ia tak mungkin mengecewakannya dengan mencuri,” batin Hakim.


Setelah sekitar sepuluh menit kemudian, Rian tampak kembali seraya membawa kantung plastik berisi obat dan salep. “Sudah selesai, terima kasih sudah mengantarku kemari,” ujarnya seraya duduk di sebelah Hakim.


“Sama-sama. Semoga kamu cepat sembuh setelah ini dan dimudahkan rezekinya agar kamu bisa menghidupi keluarga kamu dengan baik. Kamu tidak boleh putus asa, karena ada keluarga kamu yang harus kamu bahagiakan,” kata Hakim.


“Eh, aku juga mau. Tapi apa aku boleh meminta bantuan kamu?” tanya Rian.


Hakim mengangguk. “Boleh kalau saya bisa membantu kamu,” jawabnya.


“Aku minta tolong padamu untuk mengajakku bekerja di kota. Kamu tahu, ‘kan, bagaimana kehidupan aku sekarang. Aku benar-benar tidak bisa mendapat pekerjaan di sini. Sulit untuk mencari kerja di sini karena jarang dari mereka yang mau menerimaku. Sedangkan aku butuh uang untuk istriku dan anakku, jadi bantulah aku. Berikan aku pekerjaan karena aku tidak ingin hidup seperti ini terus.” Rian menjeda sebentar ucapannya, kedua tangannya meremas kresek yang dipegang dengan kuat-kuat.


“Aku ingin keluar dan pergi yang jauh untuk memulai hidup baru agar aku bisa mengangkat derajat keluarga. Aku bosan dihina oleh orang-orang bahkan mereka sampai membuat fitnah yang membuat kami tidak punya harga diri. Jadi, kalau kamu bersedia dan mau menolongku, aku memohon pada kamu agar mengajakku juga. Tidak apa-apa kerja jadi apa pun aku terima asalkan aku bisa memberikan Elsa dan anakku uang setiap bulannya. Aku ingin memenuhi kebutuhan mereka, aku ingin menjadi suami yang baik bagi Elsa dan ayah yang baik bagi anakku. Aku mohon.” Rian berkata dengan sangat tulus, karena ia telah sampai pada keinginann untuk benar-benar berubah dari kehidupannya yang berantakan saat ini.


Ia berpikir bahwa jika dirinya sudah bekerja, mungkin kehidupan mereka pun akan lebih baik daripada saat ini.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2