Dinafkahi Sugar Mommy

Dinafkahi Sugar Mommy
Membela Elsa


__ADS_3

Rian pergi meninggalkan Elsa setelah mengatsi istrinya, pria itu benar-benar kecewa sekaligus marah pada Elsa. Rian tahu kalau mereka memang miskin, tetapi tak sepantasnya Elsa melakukan hal jahat itu. Mencuri? Rian benar-benar marah ketika kembali mengingat kembali omongan para warga tentang Elsa. Rian sadar kalau ia sendiri belum bisa memberi harta kekayaan pada Elsa, tetapi hal itu tak lantas membuat Elsa menjadi pencuri. Pria itu memutuskan pergi berjalan-jalan, asal tidak di rumah, yang penting ia pergi keluar. Ia tak betah berada di rumah bersama Elsa setelah pertengkarannya dengan sang istri.


Beberapa saat kemudian, saat sedang menyusuri jalan, Rian bertemu dengan Hakim, saat itu Hakim sedang mengendarai motornya. Pria itu langsung menyapa Rian sambil memberhentikan motornya tepat di samping tubuh pria itu, Hakim keheranan ketika melihat Rian yang wajahnya babak belur.


“Ada apa dengan wajahmu itu?” tanya Hakim yang tak dijawab oleh Rian.


“Aku sangat kesal hari ini, warga mengatakan kalau Elsa sudah mencuri makanan di rumah Mak Ratih. Aku benar-benar kecewa padanya, bisa-bisanya dia melakukan hal seperti itu. Akun tahu kalau kami ini memang miskin, tetapi hal itu tidak lantas membuat dia harus mencuri.” Rian mulai menceritakan kekesalannya hari ini pada Hakim.


“Daripada kamu kesal seperti itu, lebih baik kamu ikut aku.” Hakim tiba-tiba saja berdiri dan mengajak Rian agar ikut dengannya.


“Ke mana?” tanya Hakim.


“Sudah, ikut saja.” Meskipun bingung, Rian tetap ikut. Pria itu naik di jok motor belakang hakim, setelah itu Hakim mengendarai motornya menuju jalanan.


Hakim membawa Rian jalan-jalan untuk mengurangi kekesalannya, ia tahu kalau rasa kesal itu pasti akan hilang seiring berjalannya waktu. Saat ini Rian masih disulut oleh emosinya sehingga tidak bisa berpikir dengan jernih, maka dari itu Hakim mengajak Rian jalan-jalan agar pikirannya bisa jernih lagi. Sepanjang jalan, Rian mulai menceritakan rasa kesalnya lagi pada Hakim tentang Elsa. Hakim mendengarkan sejenak untuk mencerna setiap kata yang terlontar dari Rian.


“Aku rasa kamu salah paham, tidak mungkin Elsa mencuri makanan di rumah Mak Ratih. Pasti ada kesalahpahaman di sini.” Setelah mencerna semua yang diceritakan Rian, Hakim pun mulai bersuara. Ia mengenal Elsa, Elsa adalah wanita baik-baik yang tidak akan mungkin melakukan hal jahat seperti itu hanya demi makanan. Hakim sendiri tidak habis pikir mengapa bisa Rian justru percaya pada omongan orang lain ketimbang istrinya sendiri. Kalau jadi Rian, sudah dipastikan kalau ia lebih mempercayai istrinya ketimbang orang lain.


“Bukankah kamu mengenal Elsa? Elsa adalah wanita yang baik. Hanya karena hal itu, tak mungkin Elsa mengambil milik orang lain. Aku rasa kamu seharusnya bicara baik-baik padanya dan katakan apa yang terjadi. Aku yakin sekali kalau ada titik terang di sini,” ucap Hakim lagi.

__ADS_1


Rian hanya diam, ia enggan mendengarkan perkataan Hakim. Rian sudah buta dengan perkataan orang lain sehingga ia malah lebih percaya dengan gosip yang beredar ketimbang penjelasan istri sendiri. Tadi saja Rian malah mengatai Elsa, walaupun wanita itu sudah menjelaskan semuanya. Namun, Rian sama sekali tidak mempercayai perkataan Elsa, pria itu justru meniggalkan Elsa setelah pertengkaran di antara mereka. Rian memang suka kabur saat sedang ada masalah, padahal seharusnya sebagai kepala keluarga ia harus memiliki kepala yang dingin. Namun, ia tidak bisa berpikir dengan kepala dingin setelah yang terjadi pada dirinya ditambah Elsa yang semakin menambah masalahnya.


“Jangan bicara tentang ini lagi, akumalas membahas masalah rumah tanggaku dengan Elsa,” ucap Rian yang membuat Hakim langsung diam.


Pria itu sadar kalau rumah tangga Rian dan Elsa memang bukanlah urusannya, tetapi ia sangat kasihan pada Elsa yang tertuduh begitu. Padahal, ia sangat yakin kalau Elsa tidak akan pernah melakukan hal itu, tetapi Rian juga tak mau mendengarkannya. Pria itu justru percaya pada persepsi dirinya sendiri tentang Elsa yang seharusnya dudah sangat dikenal olehnya.


Sore hari, Mak Ratih pergi ke warung Bu Marni untuk membeli minyak goreng, serta kebutuhan dapur lainnya. Ibu-ibu yang semula sedang asyik mengghibah lamgsung berhenti ketika melihat kedatangan Mak Ratih. Mereka langsung menghampiri Mak Ratih hingga membuat wanita paruh baya itu terkejut, sangat tidak paham dengan apa yang ingin dilakukan oleh ibu-ibu ini padanya.


“Mak Ratih, apa benar kabar yang beredar kalau si Elsa itu suka mencuri makanan di rumahmu?”


“Makanan apa yang sudah dicuri oleh Elsa, Mak?”


“Apa Mak Ratih sudah meminta ganti rugi pada Elsa?”


“Mak Ratih kenapa hanya diam saja? Ayo laporkan saja dia ke polisi.”


Ibu-ibu memberondong Mak Ratih tentang Elsa, mereka mengatakan hal buruk tentang Elsa dan meminta Mak Ratih melaporkan Elsa ke polisi saja. Mak Ratih yang tidak tahu apa-apa kebingungan dengan dua perkataan ibu-ibu itu.


“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Mak Ratih.

__ADS_1


“Loh? Mak Ratih ini gimana sih? Kita ini sedang membicarakan kelakuan Elsa yang mencuri di rumahmu.” Mereka keheranan dengan respon Mak Ratih yang tak sesuai keinginan mereka.


“Apa yang kalian bicarakan? Elsa mana yang kalian maksud?”


“Mak Ratih ingin membela Elsa apa bagaimana? Jelas-jelas yang kami maksud itu Elsa istrinya Rian. Memangnya siapa lagi Elsa di sini?”


“Yang saya tanyakan itu Elsa mana yang kalian sebut mencuri, kalau Elsa istrinya Rian itu tidak pernah mencuri. Dia adalah wanita yang baik, saya sering memberinya makananan karena merasa kasihan padanya.”


“Yang benar? Mak Ratih pasti berbohong, bilang saja kalau Mak Ratih ingin melindungi Elsa. Mak Ratih terlalu baik sampai menyembunyikan pencuri dengan pembelaan itu.” Bukannya langsung percaya dengan apa yang dikatakan Mak Ratih, mereka justru mnganggap kalau wanita paruh baya itu sudah berbohong.


“Sabunnya sudah habis,” gumam Elsa kemudian wanita itu pergi ke warung terdekat dengan niat membeli sabun mandi.


“Ada apa itu ramai-ramai?” gumam Elsa saat mendekati warung itu, ia melihat sekumpulan ibu-ibu di sana.


“Jangan terus berbohong, Mak Ratih, katakan pada kami kalau Elsa sudah mengancammu agar tidak jujur tentang pencurian itu!”


Elsa mendengar teriakan seorang ibu-ibu, ia baru menyadari kalau ternyata di antara mereka ada Mak Ratih.


“Berhentilah menyebarkan fitnah, sudah saya katakan kalau Elsa tidak mencuri. Kalian jangan lagi membicarakan hal yang tidak-tidak, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Kalian semua tahu itu ‘kan?”

__ADS_1


Di situ Elsa melihat dengan mata kepalanya kalau Mak Ratih membela dirinya, membersihkan namanya. Wanita setengah baya itu menegur orang-orang yang telah mengatai Elsa dengan kalimat yang tidak pantas didengar. Elsa yang mendengar itu sampai mengeluarkan air mata, ia merasa terharu karena masih ada yang mau membantunya.


BERSAMBUNG....


__ADS_2