
Sayup-sayup seorang pria terbangun dari tidur lelapnya, pria itu seolah enggan terbangun karena seluruh tubuhnya merasakan sakit dan remuk. Entah kenapa Rian merasa capek, padahal posisinya saat ini tengah terbaring di ranjang yang super empuk.
Rian baru merasakan empuknya ranjang saat di sini, di kampungnya hanya ada ranjang kecil yang keras dan tidak enak dipakai. Rian membuka matanya dengan penuh, alangkah terkejutnya Rian saat membuka mata dia melihat wajah perempuan di hadapannya.
Rian terbiasa menatap wajah sang istri saat bangun tidur, tetapi kali ini dia melihat wanita lain. “Ta–Tante Maya?” tanya Rian dalam hati. Pria itu sedikit menunduk, kini posisi tangannya dan tangan Tante Maya saling berpelukan.
Tidak hanya itu, tubuhnya pun dalam keadaan telanjang. Buru-buru Rian melepaskan pelukannya dengan Tante Maya membuat perempuan itu kaget.
“Kenapa aku bisa tanpa pakaian di sini?” tanya Rian setengah memekik.
Tante Maya terbangun, perempuan itu langsung mendudukkan dirinya. “Tidak perlu kaget begitu, Rian,” ujar Tante Maya.
Selimut yang digunakan Maya merosot memperlihatkan dada perempuan itu yang menonjol. Namun, sedikit pun Maya tidak ada niatan untuk menutupi dadanya. Malahan kalau bisa biarkan Rian melihatnya dengan jelas.
“Ini tidak benar, apa yang aku lakukan sebuah kesalahan besar,” ucap Rian segera memunguti pakaiannya yang berceceran kemana-mana. Dengan secepat kilat pria satu anak itu memakai pakaiannya.
“Ini bukan kesalahan, Rian. Apa yang kita lakukan sebuah kenikmatan,” kata Tante Maya.
“Aku tidak mau semua ini terjadi!” desis Rian.
“Tapi ini yang harus kamu lakukan, Rian. Kamu harus memuaskanku karena pekerjaanmu memang sebagai gigolo,” jelas Tante Maya.
Rian membulatkan matanya mendengar ucapan Tante Maya. Perempuan itu membuat Rian merasa bersalah. Dia pamit kerja dari kampung baik-baik, tetapi dia di sini sebagai gigolo.
“Pekerjaan gigolo bagaimana maksudmu?” tanya Rian.
“Hakim yang membawamu ke sini dan aku sudah membayarmu mahal. Itu artinya kamu harus melayaniku, membuatku senang dan tidak boleh bersama perempuan lain,” seloroh Tante Maya.
Tubuh Rian seketika lemas mendengar penjelasan semakin lanjut dari Tante Maya. Pria itu tidak menyangka kalau Hakim akan mengkhianatinya seperti ini. Pekerjaan yang dijanjikan Hakim nyatanya pekerjaan yang tidak baik. Berzina dengan perempuan asing hingga menghianati istrinya.
Tante Maya mendekati Rian, “Sudah, jangan menyesalinya, Rian.” Tante Maya berbisik sembari mengusap dada Rian.
__ADS_1
Rian sedikit menepisnya karena geli disentuh oleh perempuan itu. Sedangkan Maya tidak menyerah begitu saja, baginya dia sudah membayar mahal Rian itu artinya dia bebas melakukan apapun untuk perempuan itu.
“Rian, kamu milikku sekarang. Kamu harus melayaniku sepuasnya!” titah Tante Maya dengan sedikit nada ancaman.
“Aku sudah mengeluarkan banyak uang, jadi jangan membuatku kecewa,” tambah Tante Maya lagi.
“Aku harus pergi,” ujar Rian bergegas berdiri. Bukannya menjawab ucapan Maya, pria itu ingin pergi dari sana.
“Rian, tunggu! Rian!” teriak Maya bermaksud menghentikan Rian. Namun, Rian tidak menjawab.
“Ingatlah, Rian. Kamu hanya milikku karena aku sudah membayarmu!” teriak Maya lagi.
Rian mengepalkan tangannya dengan kuat mendengar ucapan Maya. Pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang dia inginkan, tetapi dia sudah terjerumus ke lubang penuh kemaksiatan. Ini semua gara-gara Hakim yang tega mengkhianatinya. Hakim mengatakan pekerjaan biasa, tetapi siapa sangka kalau pekerjaan ini adalah menjadi simpanan tante-tante.
Rian laki-laki yang berprinsip satu untuk selamanya. Rian sudah punya istri dan anaknya masih bayi, tetapi dia sudah mengkhianati mereka dengan tidur bersama perempuan lain. Rian niat bekerja untuk menghidupi anak dan istrinya, tetapi bagaimana jadinya kalau pekerjaan ini membuatnya terjerumus ke kemaksiatan?. Rasanya Rian ingin memukul Hakim saat ini juga.
Rian bergegas menuju ke apartemen Hakim untuk menemui pria itu. Baginya, orang yang bertanggung jawab atas dirinya adalah hakim.
Setelah perjalanan beberapa lama, Rian sampai di apartemen Hakim. Pria itu memencet bel apartemen temannya bertubi-tubi. Namun, sudah beberapa lama memencet bel, Hakim tidak kunjung membukakan pintu.
Rasanya kesabaran Rian makin lama makin habis saat Hakim tidak kunjung terlihat batang hidungnya.
“Hakim, keluar kamu!” teriak Rian lagi. Pencetan bel kini berubah menjadi pukulan di pintu dengan brutal.
“Iya, sabar,” ucap Hakim dari dalam. Akhirnya suara itu terdengar dari dalam membuat Rian menghentikan pukulannya di pintu.
Hakim membuka pintunya, menampilkan Rian yang menatap garang dirinya. “Rian, kenapa masih pagi sudah buat ribut?” tanya Hakim.
“Kurangajar!” desis Rian bersiap melayangkan pukulannya kepada Hakim.
“Tunggu dulu!” cegah Hakim segera menghindar saat Rian mau memukulnya.
__ADS_1
“Ayo masuk dulu!” titah Hakim lagi.
Rian yang sudah mengacungkan kepalan tangannya dan siap memukul Hakim pun akhirnya menurunkan tangannya. Pria itu ikut masuk ke apartemen Hakim.
“Jangan buru-buru memukulku,” kata Hakim menuju ke kamarnya. Rian mengikuti Hakim karena pria itu ingin ingin mendengar penjelasan dari Hakim secara gamblang.
“Aku ingin mendengar penjelasanmu, Hakim. Kalau penjelasanmu tidak masuk akal, aku akan memukulmu!” desis Rian yang mengancam Hakim.
Hakim mengambil sesuatu dari tasnya, sebuah gepokan uang yang sangat banyak dan tebal. “Nih buat kamu,” ujar Hakim memberikan uang itu kepada Rian.
Otot-otot Rian yang semula menegang pun kini lemas seketika saat melihat banyaknya uang. Hasratnya untuk memukul Hakim hilang seketika melihat uang-uang yang sangat banyak itu.
Sepanjang hidup Hakim, pria itu tidak pernah mendapatkan uang sebanyak itu bahkan meski dia sudah lama bekerja.
“Ini uang bayaran yang kamu dapatkan dari tidur dengan Tante Maya,” jelas Hakim lagi.
“Se–sebanyak ini?” tanya Rian.
“Iya, dan semua itu milikmu,” jawab Hakim.
Rian sangat menginginkan uang itu. Uang yang banyak bisa dia kirimkan untuk anak dan istrinya, tetapi sesaat kemudian Rian merenung. Uang banyak itu imbalan atas dirinya yang tidur dengan Tante-tante.
“Harusnya kamu senang dapat uang itu, bukan malah marah. Aku tidak tahu apa yang sudah kamu bicarakan dengan Tante Maya, tapi aku harap kamu tidak melukai perasaannya. Karena kalau kamu sudah melukai perasaannya, kamu gak akan dapat uang sebanyak ini lagi,” oceh Hakim kembali merebahkan tubuhnya di ranjang.
Rian terdiam, entah tadi ucapannya menyakiti hati Tante Maya atau tidak. Tadi Rian tidak tahu kalau uang yang dia dapatkan sebanyak ini. Sekarang sudah begini, melihat banyak uang membuat Rian senang. Realistis saja, semua kehidupan membutuhkan uang.
“Anak dan istriku–”
“Pikirkan kalau kamu mendapatkan uang untuk mereka,” sela Hakim menghentikan ucapan Rian.
Hakim ingin Rian berpikir realistis kalau uang itu bisa digunakannya untuk kebutuhan istri Rian di kampung.
__ADS_1
“Jadi aku ini gigolo?” tanya Rian sambil menatap uangnya.
“Benar,” jawab Hakim seraya tersenyum.