
Mak Ratih mengakhiri panggilannya bersama Hakim. Ia menatap layar yang perlahan mati, menjadi hitam gelap.
Wanita setengah baya tersebut menghela napas panjang. Rupanya Hakim tidak kunjung pulang karena sang putra berada di rumah Rian. Namun, Hakim menjelaskan kalau Rian tidak ada di rumahnya.
"Lalu, Rian sedang ada di mana?" Mak Ratih mendongak, menatap jam di dinding. "Sudah jam segini, tapi Rian tidak kunjung pulang? Apa mereka sedang ada masalah?"
Mak Ratih cukup hafal dengan tabiat Rian. Elsa beberapa kali bercerita kepada Ma Ratih mengenai kebiasaan Rian ketika sedang marah. Jadi, Mak Ratih menduga kalau Rian dan Elsa baru saja bertengkar.
"Sudahlah. Kenapa aku harus memikirkan masalah orang lain. Masalah rumah tangga Elsa dan Rian, adalah masalah mereka berdua. Sebagai orang yang paling dekat dengan Elsa, aku hanya bisa mendoakan semoga masalah mereka cepat selesai." Mak Ratih berucap dalam hati.
Sembari menunggu putranya pulang, Mak Ratih menyibukkan diri di dapur mengerjakan menu catering pesanan orang-orang untuk besok. Toh, Mak Ratih tidak bisa tidur. Jadi Mak Ratih akan lebih santai keesokan harinya. Pekerjaannya pun akan cepat selesai daripada biasanya.
Ketika Hakim, atau anak-anak Mak Ratih pulang ke kampung, Mak Ratih ingin libur berjualan, fokus menghabiskan waktu libur anak-anaknya. Namun Hakim pulang tanpa memberitahu lebih dulu. Alhasil Mak Ratih tidak bisa libur memasak catering karena sudah terlanjur menerima pesanan.
"Tidak apa-apa tidak bisa libur. Yang paling penting Hakim pulang ..." Mak Ratih bermonolog dalam hatinya.
***
Jarak dari rumah Elsa menuju ke kediaman Mak Ratih tidak terlalu jauh. Bahkan dengan berjalan kaki pun tidak akan menghabiskan banyak waktu.
Hakim menarik kunci mobil lalu mendorong pintunya. Hakim tidak lupa mengunci mobilnya. Walau kampungnya akan dari maling, Hakim hanya berjaga-jaga saja. Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati?
Sepasang mata Hakim menyipit, mendapati lampu rumahnya masih menyala. "Jangan-jangan Ibu belum tidur ..."
Langkah Hakim agak lamban. Ia pikir ibunya lupa mematikan lampu di ruang depan. Namun, saat Hakim masuk ke dalam rumah orang tuanya, ia mendengar suara aktivitas di dapur. Kedengarannya, Ibu Hakim sedang menggoreng ikan. Baunya terasa sampai di ruang tamu.
"Bu," panggil Hakim menyusul Mak Ratih ke dapur.
"Kamu sudah pulang, Kim?" tanya Mak Ratih.
__ADS_1
"Ibu kenapa masih masak saja di dapur? Harusnya Ibu kan tidur, istirahat, kenapa kerja terus setiap hari," protes Hakim.
"Ibu sedang menunggu kamu pulang. Lagi pula Ibu tidak bisa tidur walau sudah dicoba sampai rasanya lelah sekali ... jadinya Ibu masak saja buat bumbu-bumbunya."
Hakim melepas sepasang alas kakinya. Ia meletakkan benda itu ke dekat pintu dapur.
Hakim menggulung lengan bajunya. Perlahan Hakim menarik satu kursi kosong di seberang kursi Mak Ratih.
"Kamu mau apa, Kim? Sana, sana ... masuk kamar! Tidak usah bantuin Ibu segala. Kamu sudah lelah kerja di kota, jarang pulang. Satu tahun sekali belum tentu. Ibu tidak mau kamu tambah lelah. Untuk apa juga kamu pulang ke kampung, kalau cuma disuruh-suruh membantu masak untuk catering!" omel Mak Ratih.
"Kenapa sih, Bu? Setiap aku bantu buat masak, Ibu selalu menolak. Lagi pula aku senang bisa bantu-bantu Ibu. Kapan lagi kita masak bareng, kan?" celoteh Hakim.
"Ibu kasihan sama kamu, Kim. Di kota, kamu bekerja sangat keras sampai bisa menjadi seperti sekarang. Di saat kamu berniat pulang, pasti kamu ingin memanfaatkan waktu libur kamu dengan banyak istirahat."
"Kata siapa, Bu? Jangan sok tahu, deh!" goda Hakim menyenggol lengan Mak Ratih. "Aku ini anak Ibu. Tidak ada yang aneh kalau aku membantu Ibu ..."
"Ya sudahlah, Kim. Terserah kamu saja ..." Pada akhirnya Mak Ratih mengalah.
Kemudian Mak Ratih teringat kejadian di warung tadi. Mak Ratih sampai harus bertengkar dengan tetangga karena membela Elsa.
Biasanya Mak Ratih tidak pernah ikut campur masalah orang lain. Tapi melihat bagaimana orang-orang mencemooh Elsa, Mak Ratih pun akhirnya angkat suara.
"Kim ..."
"Mm, Bu?" sahut Hakim menengok sepintas.
"Tadi di warung, Ibu bertengkar sama tetangga."
Aktivitas Hakim yang tengah memotong sayuran langsung diam seribu bahasa. Apa? Ibunya bertengkar dengan tetangga?
__ADS_1
Sampai di usia Hakim menjelang kepala tiga, baru sekarang Hakim mendengar ibunya bertengkar dengan tetangga. Karena Mak Ratih tipikal orang yang tidak akan membuat kegaduhan di mata ia akan tinggal. Tapi hati ini, Hakim mengaku takjub.
"Kenapa, Bu? Alasan Ibu bertengkar sama tetangga itu apa?" tanya Hakim lembut. "Baru kali ini aku dengar Ibu membuat kegaduhan," ujarku.
"Bukan Ibu yang memulai. Tapi mereka ..."
Aku mengerutkan dahi. "Mereka siapa, Bu? Ibu bertengkar sama berapa orang sih?" celetukku.
Mak Ratih diam-diam meringis. "Tidak bisa dibilang bertengkar juga, sih, Kim ..."
"Nah, terus, Bu?" timpal Hakim tambah bingung.
Mak Ratih lantas menjelaskan kronologinya kepada Hakim. Mak Ratih terlalu geram kepada para tetangga yang memojokan Elsa. Mak Ratih tidak sampai hati melihat Elsa menjadi korban fitnah terus menerus.
"Kasihan Elsa ya, Bu ..." Sepasang mata Hakim menerawang ke masa lalu. "Rian memintaku untuk membantunya mencari pekerjaan. Aku menyanggupinya. Tapi aku tidak tahu apakah Elsa mau ditinggal oleh Rian atau tidak kalau seandainya suaminya mendapatkan pekerjaan di kota."
"Benarkah, Kim?" timpal Mak Ratih. Hakim mengiyakan. "Di zaman ini memang apa-apa perlu uang. Tidak peduli kamu tinggal di kota atau desa sekali pun. Semuanya butuh biaya. Apa lagi Rian dan Elsa memiliki anak yang masih bayi. Jika dengan bekerja di kota bisa membuat kehidupan Rian dan Elsa berubah, seharusnya tidak masalah. Berpisah dulu sementara. Semuanya butuh perjuangan."
***
Mau menghindar bagaimanapun, Rian akan tetap pulang ke rumah—di mana di situ ada anak dan istrinya yang menunggu.
Ada perasaan sesal kenapa Rian marah-marah kepada Elsa, sampai semua tetangga berdatangan, lantas mengejek Rian. Rian sadar bahwa ia harusnya mendengar jawaban Elsa lebih dulu. Tapi Rian malah mendahulukan amarahnya.
Rian masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Elsa dan Faqih sedang tidur cuma berdua saja. Rian bersih-bersih dulu setelah hampir seharian berkeliling tidak jelas tanpa arah tujuan. Selesai mandi, Rian mengganti baju yang bersih.
Pria itu perlahan merangkak ke ranjang dengan sangat hati-hati. Selain ranjang mereka sudah tua, kemungkinan bisa roboh jika terlalu kuat naik ke atas sana, Rian tidak mau mengganggu tidur Elsa dan putra mereka.
Rian memeluk Elsa, mencium kening istrinya dengan perasaan menyesal. "Maaf, karena sudah sering membuat kamu dalam kesulitan, Sa ..."
__ADS_1
BERSAMBUNG....