Dinikahi Om Duda

Dinikahi Om Duda
Bab 15


__ADS_3

"Masalah uang nafkah dan uangmu, aku tidak masalah. Tapi masalah ranjang …." Farez melangkahkan kakinya ke depan mendekati Lizi, membuat gadis itu perlahan mundur seirama dengan langkah Farez.


"Apa kau mau mengingkari kodrat sebagai istri? Menolak melayani suami?" lanjutnya dengan nada sedikit mengancam.


Lizi tak berkutik. Terlebih, tubuhnya sudah mentok di tembok dan tidak bisa mundur lagi. "Ta-tapi kata dokter … Bapak belum bisa …."


"Berdiri?" Sela Farez yang meletakkan tangannya di tembok, bermaksud menghalangi Lizi agar tidak kabur. "Belum dicoba, bagaimana bisa tahu bisa atau engak. Jadi …."


Farez mendekatkan dirinya, semakin dekat hingga jarak sekelumit itu di pangkas dengan gesit bak Babang McLaren membalap Valen Ros di tikungan terakhir dan …. Akhirnya kedua bibir itu saling bersentuhan dengan sangat indah dan epic.


Lizi terbengong, mau menolak tapi rasanya sungguh enak dan menggoda nalurinya. Bulu-bulu tipis di bawah bibir dan dagu, benar-benar memberikan sensasi geli-geli nikmat. Padahal, bibir Farez hanya bertegur sapa untuk beberapa saat, tidak sampai menerobos masuk ke dalam. Namun rupanya, hal itu berhasil mengobok-obok hati Lizi.


"Ayo kita coba di malam pertama!" Farez melanjutkan kalimatnya saat dia melepas kecupan bibirnya.


Jedar, jeder, jedor. Kali ini bukan suara pistol babang Diego di Novel 'Ranjang Tuan Lumpuh' yang berbunyi. Melainkan degupan hati dan perasaan Lizi yang meletup-letup bak petasan, Banting, Kembang Api, atau bahkan Slank Door yang menyala bersamaan.


Wajah merah bak ditimpuk blush on itu pun segera ia tutupi dengan surai rambut hitamnya. Kepalang malu atau keenakkan? Pada akhirnya membuat Lizi mendorong tubuh Farez dan kabur begitu saja.

__ADS_1


Mampus nih mampus. Jangan bilang gua ***** cuma karena di cium sama dia? Gawat!


Lizi berlari secepat mungkin, masuk ke dalam kamar dan langsung menguncinya. Lalu, dia buru-buru mengambil sebotol air dan meneguknya cepat-cepat, berharap dahaganya hilang. Namun tiba-tiba, hati kecilnya berbisik.


Tuh mulut bekas si Duda loh.


Byur!


Air di dalam mulut, yang hanya tinggal satu tegukan sampai di kerongkongan pun, di semburkan begitu saja.


"Aahh, sialan!" Lizi membuang botol minum dan langsung mengambil beberapa lembar tisu untuk membersihkan bekas ciuman Farez di bibirnya. Dengan kasar dia menggosok-gosok bibirnya, agar bekas itu hilang. Namun lagi-lagi, ada yang berbisik.


Aahh!!!


Lizi menjatuhkan dirinya ke atas ranjang, dan berusaha menutup mata, mengingat besok pagi dia harus bekerja. Namun, baru sebentar dia menutup, wajah Farez dan segala ucapannya terngiang begitu saja. Bahkan kecupan sesaat itu masih terasa.


Enak sih, ada sensasi geli geli gimana gitu. Dia, juga gak terlalu tua banget lah. Tapi kan ….

__ADS_1



Mentari terbit dari ufuk timur sama seperti biasanya, tapi anehnya dia tidak bosan. Benar, karena kalau dia sampai bosan, hebohlah seluruh jagat pertele-novelan disini.


Dering alarm beberapa kali berbunyi, mulai dari pukul 6 pagi, lebih 15 menit, lebih 30 menit, lebih 35 menit, hingga lebih 40 menit. Sampai, tiba-ti a mata Lizi terbangun tanpa mengerjap, dan langsung melihat ponselnya.


"Mampus cangcut Pororo! Gue kesiangan!" teriaknya kalang kabut langsung bangkit dan masuk ke kamar mandi untuk menggosok giginya.


Tanpa mandi, hanya memakai jurus dua jari dan membasuh ketiaknya. Lalu segera melepas baju dan cangcut bermotif HelloPanda berwarna pink.


"Ganti beha kagak ya? Ganti kagak … ganti kagak?" Untuk beberapa saat, dia terjebak dilema. Diantara mengganti beha yang sudah 3 hari tidak diganti, tetapi masih wanggi, bahkan bertambah wanggi. Atau, menggantinya dengan yang barum


"Kagak usah lah, masih wangi juga!" ucapnya langsung mengganti bajunya.


Tidak sampai 20 menit, dirinya telah siap. Dengan rok dan kaos putih yang di padu dengan blazer, serta make up tipis dengan polesan lipstik dibibirnya.


Namun ketika dia membuka pintu ....

__ADS_1



Pagi-pagi paling enak minum ... kopi 🤭🤭


__ADS_2