
Urusan perhotelan telah selesai, kini waktunya mereka untuk kembali ke Ibu Kota. Mobil hitam yang mereka naiki sempat berhenti di sebuah restoran cepat saji yang ada di sebuah rest area untuk sejenak. Sebelum akhirnya kembali melanjutkan perjalanan yang masih tersisa 400 kilometer lagi, atau setidaknya 3 jam perjalanan dengan kecepatan rata-rata.
Saat sedang asik mengobok obok paper bag dengan logo Mac, entah kenapa tiba-tiba ada sesuatu hal yang mengganggu pikiran Lizi. Sesuatu yang aneh, tapi bukan barang gaib, dan pada akhirnya membuat Lizi memberanikan diri untuk bertanya.
"Pak, aku boleh tanya sesuatu gak?"
"Berapa kali dibilang, masih ngak paham juga?" Gerutu Farez singkat, lalu menyedot koka-cola miliknya.
"Iya, iya, Mas!" Lizi memutar matanya malas. Sebenarnya, panggilan Bapak cukup cocok untuk Farez, tapi entah kenapa, pria itu justru tidak suka, begitulah yang sempat dipikirkan Lizi.
"Mau tanya apa?" Farez terdengar serius dengan nada bicaranya.
Atmosfer sejenak berubah, langit yang semula cerah, tiba-tiba dirundung awan pekat keabu-abuan.
"Jadi gini, Pa– eh, Mas." Lizi menelan salivanya, lalu menoleh melihat Farez yang sedang mengemudi.
Pada awalnya Lizi ingin memberi kata-kata sambutan dan pembuka lebih dulu. Namun dari sekian banyak kata opening yang sempat terpikirkan, tidak ada satupun yang cocok.
"Jadi … langsung ke inti aja ya, Mas. Belibet kalau pake pembuka!"
Ucapan Lizi langsung membuat Farez yang sibuk mengemudi langsung menoleh, menatap wajah sang istri dengan sikap mengesalkan.
"Memang kau kira lagi baca undang undang yang harus pake pembuka?" Serunya gamas. "Sudah, mau tanya apa? Langsung aja!"
"Ya kali aja kan, Mas perlu pembuka. Kek puasa, diawali dengan yang manis manis." Lizi menaikkan satu sudut bibirnya sambil menatap Farez.
__ADS_1
"Zi, kayaknya kalau turun disini seru. Gimana kalau kamu turun disini aja?" Farez memikat kening yang berdenyut, tentu saja ini karena ulah istrinya lagi.
"Jangan ngadi ngadi ya, Pak!" Lizi bersedekap tangan lalu membuang muka, menatap kendaraan dan jalanan senggang di depannya.
"Tega banget mau buang istri sendiri!" lanjut Lizi setengah jengkel.
"Ya udah mau ngomong apa, buruan!" Farez tiba-tiba menoleh dengan wajah penasaran. Benar, ini adalah momen pertama seorang mantan duda di zaman milenial merasa penasaran.
"Aku cuma mau tanya." Glek! Lizi menelan salivanya, sorot matanya fokus menatap depan. "Bapak, selama ini kerja apa? Ngepet ya?"
Tidak tau, dari mana pikiran itu muncul, tetapi pertanyaan Lizi berhasil membuat Farez mengerutkan alis. Beruntung, Farez masih bisa mengontrol tangan dan konsentrasinya.
"Selain film 'Berebut Terong Kang Cilok' apa lagi yang kamu tonton?" tanya Farez kembali melihat depan.
"Gak banyak. Cuman … film 'Kocok-Kocok Berhadiah', 'Menikung di Tikungan', ya begitulah," jawab Lizi spontan. "Eh, Bapak mengalihkan pembicaraan!"
"Aku tuh penasaran. Gak pernah liat Bapak kerja." Lizi kembali menatap wajah tampan Farez yang sedang fokus mengemudi. "Seorang istri, juga boleh tau asal duit suaminya kan?"
Farez menarik napas panjang sambil menyibak rambut yang sempat di oles Wax tipis-tipis. "Pekerjaanku paling merepotkan," jawabnya.
"A-apa?"
"Menghabiskan warisan orang tua!"
Lizi yang sejak tadi sudah memasang mimik wajah serius, tiba-tiba merubah mimik wajahnya. Jengkel, tentu saja. Memang sejak kapan 'menghabiskan warisan' jadi pekerjaan paling merepotkan?
__ADS_1
"Pak, bisa serius sedikit?" Lizi menatap nyalang sang suami.
"Aku serius. Ada 6 Indekos peninggalan mereka, di Bekasi, Cipulir, Glodok, dan Blok M. Yah, setidaknya 10 sampai 20 pintu."
Glek! Lizi menelan salivanya. Gue sepertinya salah tanya nih. Fix salah tanya!
...☆TBC☆...
Sudah dibilang, ini novel garis miring, mirip otak Lizi yang juga miring 🤣 Kalau gak suka, langsung tekan pojok kiri atas.
Jangan ribetkan diri kalian dengan kritikan pedas, karena Othor sudah kasih warning.
Sekian dan terima Vote, Hadiah, Like.
Yo ayo, sayangi Othor 😌😌
Judul : Kekasih Gelapku
Author : Navizaa
Zidane telah bertunangan dengan Sonya. Namun, dia tak bisa menahan perasaan untuk mencintai orang lain yaitu Alana.
Dia pun menjalin hubungan gelap dengan Alana.
__ADS_1
Padahal, Alana hanya menginginkan uang Zidane agar bisa mengubah penampilannya untuk balas dendam terhadap mantan suaminya.
Bagaimana kisah cinta segitiga yang didasari dendam ini?