Dinikahi Om Duda

Dinikahi Om Duda
Bab 63


__ADS_3

Setelah olahraga pagi yang menggairahkan. Farez pergi membasuh mukanya, lalu turun ke bawah menyiapkan sarapan. Sedangkan Lizi menyusul beberapa saat setelahnya.


Hidup Lizi ada peningkatan setelah menikah. Setidaknya, dia mandi setelah bangun pagi. Bahkan keramas dan mengganti cangcut serta beha-nya. Ya, ini termasuk perubahan yang besar untuknya.


"Ayank …." panggil Lizi dengan manja sambil berjalan mendekati Farez yang sedang memasak, lalu memeluknya dari belakang.


"Kenapa? Kamu udah bisa manja-manja gini, udah gak gengsi lagi?" Farez masih sibuk dengan teflon di depannya.


"Yah gimana ya. Udah terlanjur nikah juga, ya nikmatin aja lah," jawab Lizi singkat.


Maunya gengsi, tapi dia baeknya kebangetan. Selalu bisa buat gue lulu. Apa lagi kejadian semalam. Yo dah lah, lagian udah enak juga.


Farez mematikan kompor, lalu berbalik dan mengecup kening Lizi. "Ambil piring, ayo makan!"


Setelah kejadian labrak melabrak oleh emak emak berdaster, serta beberapa demo dari penghuni kos. Lizi seolah menyadari, jika perasaan Farez cukup tulus padanya. Sehingga ia mencoba untuk sedikit membuka hatinya.


Mereka baru selesai sarapan, dan sedang duduk menikmati drama Ikan Terbang sambil memilih beberapa konsep untuk resepsi pernikahan. Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar, bersamaan dengan suara seorang pria.


"Permisi, bukan paket!"

__ADS_1


Farez langsung beranjak bangun dan membuka pintu. Melihat dua orang pria dan seorang wanita berdiri di depan pintu, Farez segera menyuruh mereka masuk.


"Dari Wedding Organizer, Pak!" ucap seorang wanita yang berjalan lebih dulu.


"Iya, saya tahu. Teman Toradina Dominic alias Tornado kan?" sahut Farez.


"Iya benar, Pak."


Konferensi meja kotak pun di mulai setelah mereka semua duduk, termasuk Lizi. Wajah Farez terlihat serius, membicarakan beberapa konsep yang sudah dibahas saat di meja makan bersama sang istri. Hingga tiga jam berlalu, kesepakatan pun terbentuk.


"Ini digunakan kapan ya, Pak?"


"Satu minggu lagi, bisa kan?"


"Kita cuma mau sesederhana ini aja. Undangan juga gak lebih dari 300 orang. Yakin sih kalau kalian bisa," ucap Lizi meyakinkan mereka.


"Tapi untuk baju pernikahannya …."


"Gak perlu bikin kalau memang waktunya gak cukup. Kalian cari tempat sewa aja yang bagus," terang Lizi yang membuat Farez menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Baik-baik, Kak. Saya coba cari referensi ya, kalau dapat langsung saya hubungi."


Konferensi meja kotak pun berakhir dengan kesepakatan, jika acara resepsi akan berlangsung satu minggu lagi. Mereka bertiga pun pamit undur diri setelahnya. Farez bahkan sempat mengantar mereka keluar rumah.


"Kenapa sewa, Sayang?" tanya tiba-tiba saat Farez menghampiri Lizi yang sibuk melihat laptop miliknya.


"Kamu mintanya satu minggu lagi. Mana ada desainer yang mau bikin baju nikah dalam waktu singkat?" jawab Lizi santai.


"Kita kan bisa beli, Sayang."


Lizi menoleh memandang sang suami. Entah mengapa, ia sempat lupa jika pekerjaan Farez cukup susah, yaitu menghabiskan sisa warisan.


Kenapa gue bisa lupa kalau kerjaan suami ini ngabisin warisan. Kan gue bisa bantu.


Lisi pun langsung meletakkan laptopnya. "Bener, ayo kita beli!" ucapnya sambil berdiri lalu pergi ke kamar dengan riang.


"Kamu mau kemana, Sayang?" Pertanyaan Fares pun langsung membuat Lizi menoleh.


"Beli baju nikah!"

__ADS_1


...☆TBC☆ ...


Hari ini sampai disini dulu. Mau lanjut ke sebelah nengok babang Diego. 💋💋


__ADS_2