
Hampir satu jam mereka menunggu, akhirnya teriakan dari abang-abang SopiPod berhasil membuat Lizi bangkit dari rebahan. Dia segera bergerak, bukan untuk mengambil makanan, melainkan bersembunyi.
Sembunyi dari apa?
Entah, Author sendiri juga sedang mencari tahu dalam semak belukar.
Pada akhirnya, Farez lah yang berdiri mengambil pesanan yang dibawa oleh abang-abang berjaket kuning, dengan helm yang warnanya juga senada.
Baru sebentar ia meletakkan pesanannya, dan Lizi bangkit berdiri dari tempat persembunyiannya. Suara seorang pria lagi lagi terdengar.
"Misi, SopiPod!!" teriaknya lantang, penuh semangat empat lima.
Ya elah, ada lagi? Baru juga mau berdiri! Lizi kembali duduk, bersembunyi di balik sofa.
Sepersekian detik kemudian, suara Farez dengan jelas terdengar dari tempat persembunyiannya. "Udah selesai, cepet keluar!" Dan membuat Lizi bangkit dari sana.
"Udah aman kan, Pak?"
Ketika Lizi melihat pintu yang sudah di tutup kembali oleh Farez, barulah ia merasa lega dan langsung duduk kembali di sofa. Ditatapnya lekat-lekat empat kantong kresek dan paper bag dari berbagai restoran, yang kemudian membuat Lizi menelan salivanya kasar.
Harum semerbak tercium saat Fares membuka kantong kresek dan berhasil menggoda indra penciuman Lizi. Membuat lambung dan usus 12 jarinya berguncang penuh semangat.
Akhirnya bisa makan! Untung masih bisa jual mahal, eh gak gak. Setengah harga, buy one get one!
Mereka masih menikmati makan siang yang tertunda dengan lahapnya. Bahkan Lizi tanpa ada rasa jaim-jaim sudah menghabiskan 2 porsi dalam kurun waktu setengah jam. Sungguh-sungguh Omnivora (pemakan segala), rakus pula.
__ADS_1
Sepertinya, Lizi benar-benar sudah beruntung mendapatkan Farez dengan segala keterbatasan dan kemiringannya. Dalam hal ini, setidaknya ia ditunjang oleh kecantikannya.
"Kalau capek, istirahat aja di kamar," ucap Farez tiba-tiba saat ia sudah selesai makan.
Perkataan Farez langsung membuat Lizi menoleh ke arahnya dengan ekspresi kaget. "Saya mau ke kamar saya aja," jawabnya.
"Tapi aku belum ambil kunci serep."
Seketika, paha bebek goreng yang Lizi pegang jatuh. Beruntung, paha bebek itu berhasil landing di atas piring, bukan di lantai. Lizi menganga kaget dengan menyimpan kekecewaan.
"PAK!" serunya sedikit lantang. "Saya besok kerja!"
Farez dengan gampangnya menjawab, "Gak usah kerja!"
Wow wow! Nih lakik mulutnya enak bener kalau ngomong ya. "Terus gue dapet duit dari mana, Pak Suami Tersayang."
Degup jantung Farez memuncak saat Lizi memanggilnya dengan sebutan baru. Layaknya petasan Sleng Dor, yang meledak gemericik saat sampai di atas.
"A-apa? Panggil apa tadi? Coba ulang!" pinta Farez sambil bergeser mendekati Lizi.
"Pak …." jawab Lizi tersendat. "Pak Su–" lanjutnya tapi tersendat lagi. Tidak tahu mengapa, kerongkongannya tiba-tiba tercekat, seperti ada yang nyangkut di sana.
Sedangkan Farez, dia terlihat tidak sabar menunggu Lizi menyebutnya seperti tadi. Namun dia juga cukup pengertian. Meski diri sendiri tidak sabar, tapi juga harus melihat kondisi Lizi.
Farez buru-buru menuang air, dan menyodorkannya pada Lizi. Setelah ia meminum beberapa teguk, barulah tenggorokannya merasa sedikit lega.
__ADS_1
"Jadi gimana? Kamu manggil aku apa tadi? tanya Farez sekali lagi.
"Pak … Su-ami?"
Mak Jeduer!
Farez begitu senang sampai tertunduk dan menyembunyikan senyumnya. Namun karena terlampau bahagia, dia tidak berhasil menyembunyikan rasa bahagia, dan pada akhirnya tertawa terbahak-bahak.
Wah, sajak e kesurupan bojoku iki? (Wah, kelihatannya suamiku ini kerasukan) Lizi menggaruk kepalanya kebingungan.
"Pak! Oi, Pak!" Lizi mencoba memanggil Farez yabg masih tertawa. "Sadar, Pak, Sadar! Eling, ayo nyebut, Pak!"
Lizi be like : gpp gue miring, yang penting cantik, punya suami yang gantengnya naudzubilah pula. Lengkap kan🤣🤣
Judul : My Beautyfull Venus
Author : MinNami
Virendra Aryan, seorang Jendral yang begitu tampan, pintar dan tegas. Sosoknya yang mempesona membuat banyak kaum hawa menyimpan kagum padanya.
Namun, siapa yang menyangka keputusan sang Jenderal yang tiba-tiba ingin menikahi gadis muda berusia 18 tahun.
__ADS_1
Akankah kisah cinta mereka berakhir bahagia atau justru berakhir tragis mengingat sosok Jenderal Virendra yang memiliki banyak musuh?