Dinikahi Om Duda

Dinikahi Om Duda
Bab 9


__ADS_3

Ruangan dengan luas 20 meter persegi, yang didominasi warna hitam dan abu-abu. Memberi kesan macho dan elegan. Ambalan yang di tempel di tembok sebagai rak buku, juga meja yang lengkap dengan komputer.


Tidak ada yang istimewa di sana, tetapi setiap sudutnya tampak rapi, bersih, juga wangi.


Ranjang yang didesain dengan pinggiran seperti sofa bed. Tembok belakang ranjang dengan aksen bata merah, dihiasi lukisan Batman yang sedang memegang mic.



Entah, sejak kapan Batman beralih profesi sebagai penyanyi dan meninggalkan kota Gotham. Dalam hal ini, author juga masih mendalami kasusnya.


Beralih kembali kepada Lizi. Gadis itu mulai menyusuri setiap sudut. Rasa penasarannya bergejolak, ingin mengetahui isi dari kamar seorang duda.


Dia gak punya kaset blue? Sayang banget. Sebagai seorang duda, dia harusnya punya koleksi.


Eh … memangnya sekarang jaman pake kaset? Kan udah ada komputer, flashdisk, dan sejenisnya.


"Bego! Hahaha!"


Melepas persoalan tentang film blue, red, dan apa pun itu. Lizi membaringkan tubuhnya diatas ranjang empuk yang ternyata cukup menggoda. Tidak sampai memakan waktu lama, mata gadis itu sudah terpejam.

__ADS_1


Lelap dan cukup lelap. Hingga ia tidak menyadari waktu berlalu cukup cepat dan pada saat mengerjap, sinar matahari telah menyilaukan matanya.


Mampus, jam berapa ini?


Lizi tersentak kaget dan bangkit dari tidurnya. Saat energi dari otaknya turun ke kaki, lalu naik lagi ke atas kepala, ia baru menyadari sesuatu yang aneh.


Lah, ini kamar siapa?


Otaknya seketika blank beberapa saat. Lizi merasa, bahwa dia butuh kayang sekarang, agar otaknya menjadi encer. Namun belum sempat ia mengambil ancang-ancang, IQ gadis itu memberikan sinyal lebih dulu. Membuka kilasan memori tentang kisah absurdnya semalam, sehingga dia harus di tuntut tanggung jawab.


"Ini kamar si duda. Ah, bang-ke." Lizi menepuk kening, sebelum akhirnya dia turun ke bawah, takut jika bapak kos yang menyandang status duda kembali marah dengannya.


Farez sedang duduk di tempat yang sama seperti saat Lizi meninggalkannya untuk naik ke lantai atas. Mendengar derap langkah Lizi yang menuruni tangga, pria itu spontan menoleh, memandang seorang gadis dengan rambut acak-acakan berkeliaran bebas di rumahnya.


"Hehe, si Bapak. Bisa aja bercandanya." Lizi mencoba mengelak.


"Bercanda? Mukaku gini ada tampang lawak?"


Lizi melipat dua bibirnya, dengan mata yang berputar ke atas seakan mengejek Farez.

__ADS_1


"Bantu aku mandi!" pinta Farez tiba-tiba, membuat Lizi langsung melotot, memandangi Farez dari ujung kepala hingga ujung kaki. Membayangkan banyak adegan blue yang tidak akan lulus sensor disini.


"Emm … itu, Pak."


Farez berusaha berdiri dari kursinya perlahan. "Pikiranmu kemana? Kamu kira aku menyuruhmu memandikanku?"


Lizi buru-buru berlari dan membantu memapah Farez. "Saya kira sih, Pak."


"Oh, aku juga gak keberatan kalau mau dibantu."


Jawaban Farez membuat Lizi terkejut hingga menatap lelaki yang sedang dipapahnya ke kamar mandi. "Dimandikan, setelah itu di kafani. Begitu urutannya ya, Pak?"


Tubuh ramping nan kecilnya, tiba-tiba terdorong oleh tangan Farez. "Pergi mandi sana!" seru Farez dengan ekspresi wajah jengkelnya.


Kenapa sih sama tuh duda?


Kan bener urutannya, dimandikan, dikafani, disholati terus dimakamin. Gitu kan kalau menangani jenazah?


Apa yang salah? Semua orang nanti juga bakal merasakan.

__ADS_1


...☆TBC☆...


Jempolnya di goyang dulu, biar makin Ashoooyyyyy


__ADS_2