
"Wah, Rez!" Salep menyibak rambutnya dengan kesal. "Bisa bisanya ya, nikah gak kasih tau gue!" tegasnya.
Farez hanya menatap datar teman masa kuliahnya dulu sedang mondar mandir memamerkan wajah kesalnya.
"Jadi, lu tadi beneran lagi …."
Belum selesai Salep bicara, bantal kecil langsung melayang ke wajahnya. "Lo salah denger!" ucap Farez lantang.
"Gue cuma jomblo ya, Rez. Gak budek, gue masih bisa denger." Salep masih kekeh dengan dugaannya.
Farez terdiam sesaat, sambil melihat ke lantai atas, tepat ke arah pintu kamarnya yang terbuka sedikit. Dia yakin, jika Lizi yang ada di kamar mendengar pembicaraan mereka.
"Lo belum nonton film '367 Hari'?"
"Kok malah bahas film. Gue lagi nanya masalah di telepon tadi." Salep yang sudah kesal berdiri, pun langsung duduk di samping Farez.
"Gue lagi bahas itu!" tegas Farez menatap nyalang ke arah Salep yang mulai cerewet.
Entah, kecerewetan Salep selalu lebih besar dari wanita. Farez dulu sempat mengira, mungkin temannya itu salah satu titisan Wajan, Wanita Jadi-Jadian yang menjelma menjadi pria.
"Ja-jadi lo lagi liat itu?" Salep masih menatap Farez dengan satu sisi alisnya terangkat dan dua matanya membulat.
__ADS_1
Farez yang sudah tidak tahan dengan kehadiran Salep, langsung menggebrak meja dengan sedikit keras. Lalu menadahkan tangannya.
"Mana barang yang ku minta?" tanya Farez.
Ketika Salep mendengar suara dessahan dari panggilan Farez, ia menjelma bak Supermen dengan cangcut yang dipakai di dalam. Lalu segera mengendarai motornya pergi ke indekos Farez.
Begitu penasarannya, Salep sampai lupa barang yang diminta oleh temannya itu. Beruntung, ia menyimpan file pengunduran diri Lizi di dalam ponselnya.
"Gue kirim lewat file aja deh. Suruh istrimu itu tanda tangan, ntar gue yang urus ke HRD," ucap Salep sambil bersedekap dan menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Kalau bisa lewat file, kenapa lo kesini, Lep, Salep?" tegas Farez kesal dan bangkit berdiri.
"Baru juga dateng. Tawarin minum kek, ketoprak Mang Udin kek. Laper gue!" Salep masih santai sambil melipat tangannya.
"Lo gak liat, udah jam satu?"
Salep seketika menoleh ke arah samping, menatap jam dinding super besar itu sudah menunjukkan pukul 1 siang.
"Mampus! Gue belum laporan!"
Salep langsung bangkit berdiri dan mendorong Farez, lalu pergi secepat mungkin dari sana. Melihat teman cecunguknya pergi tanpa banyak berbasa basi, hati Farez sedikit lega. Ia lantas pergi ke kamar untuk menemui Lizi dan memberitahu dirinya jika masalah Salep sudah selesai.
__ADS_1
Farez membuka pintu kamar yang memang tidak di kunci oleh Lizi. Ia baru masuk beberapa langkah, dan Lizi sudah berlari memeluk tubuh Farez sambil menangis.
"Kamu kenapa nangis?" tanya Farez heran.
"Assjvkgsjtcjlv hxkfskgfl zifzky," ucap Lizi tak jelas dengan tangis yang berderai hebat.
Astaga, ngomong apa nih bini? Farez berusaha menenangkan Lizi dengan menepuk nepuk punggungnya.
"Sudah, si Salep gak tau kalau itu suaramu. Jangan nangis lagi," terang Farez.
Lizi mendongak ke atas, memperlihatkan air mata yang berderai dengan air hidung. "Axu tu gak nagsi itu, Pak!" ucapnya terisak isak.
Fares menaikkan satu sudut bibirnya, mencoba mencerna bahasa baru sang istri, yang entah berasal dari planet mana.
Duh ya ampun, tambah berat cobaan ku. Translate mana translate!
Mata masih berusaha melek.
Kopi mana kopi 😭😭
__ADS_1