
Di luar masih terdengar riuh meski Farez sudah menutup pintu. Nampaknya, sekarang giliran para penghuni kos yang tak terima jika si Duta Sawit cemceman mereka itu menikah kembali.
Namun meski begitu, mereka tetap harus menerima rasanya gugur sebelum berjuang. Ya, karena hanya itu yang bisa mereka lakukan.
Melihat Farez menutup daun pintu, Lizi langsung menghela napas lega.
"Aku gak bayangin, gimana reaksi mereka pas tau kalau, wanita yang nikah sama kamu itu tetangga kos mereka sendiri." Lizi terkekeh pelan melihat sang suami dengan gentle berhasil mengusir pemegang tahta tertinggi, yaitu emak emak berdaster.
Farez tersenyum tipis, lalu berjalan mendekati sang istri. Setelah jarak mereka cukup dekat, ia meraih salah satu pipi Lizi.
Dia … gak lagi mau ***** gue kan?
Lizi menyipitkan mata sambil melipat kedua mulutnya. Takut jika Farez tiba-tiba mengecup bibirnya. Namun yang terjadi justru di luar ekspektasi. Farez bukan ingin mencium, tapi hanya mengambil sisa nasi di bawah bibirnya.
"Gak perlu dibayangin. Mereka udah kalah sebelum perang," tegas Farez membuat Lizi mengangkat satu sudut bibirnya sesaat lalu berpaling pergi untuk mencuci tangan.
Farez pergi ke kamar lebih dulu sambil membawa laptop, sedangkan Lizi menyusul beberapa saat setelah membersihkan diri dan menggosok gigi.
Melihat Farez duduk bersandar di atas ranjang sambil menatap Laptop, membuat Lizi teringat sesuatu. Lizi langsung menghampiri Farez dan duduk di sebelahnya dengan raut wajah serius.
__ADS_1
"Mas, aku mau bicara serius!" tegas Lizi menatap Farez tajam.
"Kenapa, Sayang?"
"Apa maksudnya Bu RT sebut kamu pengacara gabut? Jelasin coba!" tanya Lizi bersungut-sungut.
Melihat emosi sang istri, Farez mencoba untuk tetap kalem. Wajahnya teduh memandang sang istri, lalu dengan suara lembut ia menjelaskan.
"Iya pada awalnya. Jadi pengacara agak capek jadi pengennya jadi pengacara gabut, yang cuma ngangur tapi banyak acara." Farez tertawa kecil selesai menjelaskan, tapi Lizi hanya menyengir, tak percaya dengan ucapan Farez.
Lantaran tidak mendapat jawaban memuaskan, Lizi pun memutuskan untuk memblokir Juno. Ia merebahkan diri, lalu menarik selimut sambil berkata, "Jawabannya gak memuaskan! Malam ini si Juno di larang masuk. Belut Supermu aku somasi, Mas!"
Farez masih berusaha membujuk Lizi dengan memeluk tubuh sang istri dari belakang. Namun gadis itu dengan erat memegangi selimutnya, sampai pada akhirnya ia terlelap hingga pagi menjelang dalam dekapan Farez.
Entah, bagaimana gaya tidurnya, hingga Lizi yang tadinya memunggungi Farez, kini justru mendekap sang suami erat-erat. Salah satu kakinya bahkan dengan santai bertengger ria di atas Juno, hingga membuat Juno terbangun menunjukkan keperkasaannya.
Lebih parahnya lagi, kaki itu dengan sengaja menggesek gesek Si Juno yang semalam sudah di somasi untuk tidak mengunjungi Juni. Ya, sebut saja tempat bersarang milik Juno adalah si Juni, karena ini sudah bulan Juli.
Oke lanjut.
__ADS_1
Ketegangan pun memuncak, Farez yang sudah tidak tahan langsung membobol paksa area yang sudah diberi garis kuning oleh sang istri.
"Eehh eehh, mau ngapain?" tanya Lizi saat tangan Fares dengan cekatan melepas cangcut miliknya. "Kan udah di somasi! Juno gak boleh masuk dulu!"
Namun Juno yang sudah berkedut sudah tidak sabar lagi. "Somasinya kan cuma semalam. Ini sudah pagi, jadi … kuy di gas, Sayang."
Lizi menoleh ke kanan, melihat sinar mentari sudah menembus tirai putih di jendela. Sedangkan Farez sudah melepas semua pakaiannya dan Juno pun siap mengunjungi Juni.
Harusnya aku bilang somasinya gak cuma malem aja! Encok lagi kan, padahal kemarin siang udah dua ronde!
abis ngambek ceritanya. 😔
Please gaes, please ya! buat kalian yang baca karya Kay atau karya siapapun. Usahakan jangan nabung bab, jangan loncat loncat kalau baca, atau cuma tebar Like tanpa baca, bahkan scrol-scrol aja.
Karna Fix, ini merugikan Author 🥲🥲 Setialah dengan baca perlahan dan baik baik setiap judul yang kalian baca.
Terima kasih 💕
__ADS_1