Dinikahi Om Duda

Dinikahi Om Duda
Bab 64


__ADS_3

Sat Set Das Des. Soal menghabiskan uang, Lizi memang jagonya. Secepat mungkin ia mengganti baju, lalu memoles bibirnya tipis-tipis dengan lipstik matte. Setelah dirasa oke, dia pun turun ke bawah.


"Ayank!" teriaknya lantang. "Ayo, aku bantuin kamu kerja, abisin duit warisan!" lanjut Lizi dengan senyum merekah, seakan tanpa beban sama sekali saat mengatakannya.


Farez yang melihat wajah senang sang istri hanya menghela napas panjang. Lalu ia beranjak berdiri meregangkan tubuhnya sebentar.


"Ayank, ayo!" ajak Lizi sambil menarik tangan Farez.


"Iya iya, aku pake wax dulu. Rambutku masih acak acakan," jawab Farez santai, kemudian berjalan ke kamar bersama Lizi yang mengekor di belakangnya.


Farez menatap cermin, mengambil Wax lalu mengoleskannya di rambut sambil menatanya. Sedangkan Lizi masih dengan senyum merekah menatap sang suami. Farez tentu penasaran, hal apa yang membuat Lizi bisa berubah seperti ini.


Akankah sang istri sedang kesurupan? Atau …


karena pengakuan Farez? Sehingga ia berubah tak lagi jaim dan gengsi.


"Jadi sekarang, udah berani liat terang-terangan? Ngak gengsi lagi?" tanya Farez menatap Lizi lantaran penasaran.


"Eemm gimana ya …."


"Karena pekerjaanku?" Farez menatapnya penuh selidik. Namun Lizi justru menggelengkan kepala.

__ADS_1


Dua sudut bibirnya terangkat. Dengan santai melangkah ke depan mendekati Farez. Lalu ….


"Udah ketagihan ama si gondal gandul yang beratnya gak sampe se-ons, tapi nagih." Lizi mencolek bagian menonjol yang ada di antara dua paha Farez.


"Yang kalau di elus …." lanjutnya sambil mengelus Juno dengan lembut. "Itu … malah bikin emes."


"Apa lagi kalau di –"


Tangan yang hendak meremas Juno langsung di cekal begitu saja oleh Farez. Pria itu tersenyum licik dengan sorot mata tajam menatap Lizi.


"Mau di lanjut? Ngak jadi belanjanya?" tanyanya singkat lalu tersenyum menyeringai.


"Jadi dong, Ayank!" Lizi buru-buru menarik tangannya, lalu mengambil kunci mobil di atas meja dan turun lebih dulu.


Hela napas Farez terdengar berat, sebelum akhirnya mengambil dompet di atas nakas. Lalu pergi menyusul sang istri yang sudah pergi lebih dulu ke mobil.


Saat Farez masuk ke dalam mobil, mesin mobil sudah menyala, dan sang istri juga sudah duduk di tempatnya memakai seat belt. Sepertinya, dia sudah tidak sabar untuk segera membantu meringankan pekerjaan sang suami. Raut wajah Lizi bahkan sangat sumringah.


"Kita mau kemana?" tanya Farez sambil melepas tuas rem.


"Yo's Bridal, di daerah Pluit!"

__ADS_1


"Pluit? Itu jauh, Sayang. Gak ada yang lain?" Farez sedikit protes, lantaran dari indekos ke Pluit jaraknya hampir 30 kilometer.


"Tapi aku maunya di sana." Lizi menoleh, memamerkan wajah sedih penuh kecewa. Berharap sang suami itu mau menuruti permintaannya.


Lagi lagi Farez mengalah. Ia hanya menghela napas kasar, lalu kembali fokus dengan kemudinya, pergi ke daerah Pluit.


Setelah kurang lebih 1 setengah jam berkendara. Melewati kemacetan, halang rintang, demi bisa mengantar sang istri pergi mengambil kitab suci. Eh salah, pergi membeli baju pernikahan maksudnya. Dan akhirnya, mereka pun tiba.


Lizi langsung menggandeng Farez masuk ke dalam toko berlantai 3 yang ada di daerah Muara Karang, Pluit. Mereka baru membuka pintu kaca, lalu berjalan masuk beberapa langkah, saat seorang pria menoleh dan menyapa dengan hebohnya.


"Ohhh ya ampun, Zeyank!" teriaknya dengan gaya ngondek yang sangat khas.


Kemeja dengan dua kancing bagian atas yang terbuka, celana ketat yang menunjukkan lekuk kakinya, lengkap dengan high heels setinggi 7 centi. Pria bertubuh kurus itu berlari mendekati mereka.


Lizi sudah mengangsurkan tangannya, bersiap untuk kecup pipi kiri dan kanan, saat pria yang sering di panggil Mince itu mendatanginya. Namun yang terjadi, bukanlah Lizi yang mendapat kecupan antar pipi itu, melainkan sang suami, Farez.


Oh, shiit! Banci kaleng sialan!



eemm babang 😌😌

__ADS_1


Cewek tulen aja doyan ma abang, apa lagi yang setengah tuna dan salmon 🤣🤣


__ADS_2