Dinikahi Om Duda

Dinikahi Om Duda
Bab 57


__ADS_3

"Jadi gimana? Masih mau pake sebutan Pak Su dan Bu Is?" tanya Farez memandang Lizi dan langsung melihatnya menggeleng kepala dengan cepat.


"Gak gak! Ganti yang lain!"


Fares mengangguk perlahan, menyetujui jika panggilan itu sebaiknya diganti. Pandangan matanya masih fokus menatap Lizi, melihat gadis dengan rambut tergerai bebas serta sarung yang membelit tubuhnya. Terlihat lucu dan sedikit menggemaskan.


"Gimana? Udah nemu?" tanya Farez yang tak sabar mendengar jawaban Lizi.


Lizi pun berdecak kesal, lalu berkata dengan ketus, "Sebentar, aku mirikir!"


Namun beberapa kali ia memikirkan nama, tidak ada satupun yang cocok dengan Farez. Pada akhirnya, ia pun memutuskan untuk memanggilnya dengan sesuatu yang baik, masuk akal, dan agak sedikit romantis.


"Sayang … aku nungguin."


Ucapan Farez langsung membuat Lizi menoleh ke arahnya sambil mendengus kesal. Lalu, dengan mengerahkan sekuat tenaga dan menyingkirkan gengsi, ia mencoba memanggil Farez dengan panggilan barunya.


"A … A-yank!"


Lizi yang malu langsung mendorong wajah Farez lalu kabur dengan alasan ingin ke kamar mandi. Sedangkan Farez cukup sedang dengan panggilan barunya langsung berguling guling layaknya balita yang baru selesai di mandi, belum memakai sehelai benang pun.

__ADS_1


Yah, setelah drama meributkan soal cerai yang akhirnya diselesaikan dengan cara membajak sawah untuk berkembang biak. Serta drama panggilan untuk Farez yang sempat membuat Lizi merendahkan gengsinya.


Jam masih menunjukkan pukul tiga siang, saat seseorang berteriak dengan lantang di depan pintu. "SapiPod!"


Seorang kurir makanan datang mengantarkan beberapa kantong pesanan Farez. Dan pada akhirnya, makan siang itu menjadi pemersatu keduanya setelah Lizi kabur lantaran malu. Keduanya duduk bersama dan menikmati makan siang yang sempat terlambat lantaran aksi membajak sawah. Sampai tiba-tiba ponsel Farez berdering.


"Eem. Kenapa, Top?" tanya Farez ketika menjawab panggilan dari rekannya.


"Pengajuan isbat nikah udah selesai. Buku nikah lu udah bisa diambil," jelas Topan, salah satu teman Farez yang bekerja di kantor urusan agama.


"Oh, oke. Bentar lagi gue ambil ke sana," jawab Farez singkat lalu mengakhiri panggilannya.


"Tofik Pangestu alias Topan, yang kerja di KUA. Dia bilang isbat nikah kita udah clear, buku nikah juga udah jadi," terang Farez menjelaskan.


"Kapan diurus? Kok aku gak tahu sih?"


"Selesai ijab. Aku minta Tobing buat urus isbat nikah kita."


"Tobing, siapa lagi itu?" Lizi menggaruk kening lantaran heran.

__ADS_1


"Tobing Wijaya," jawab Farez.


"Oh … namanya waras nih, gak kayak temen-temen Ba– Ayank yang lain." Oh Shiit, hampir keceplosan manggil bapak lagi.


"Temen yang mana?" Farez menatap Lizi sambil menyipitkan kedua matanya.


"Itu, si Salep, Koyo, sekarang Topan. Selanjutnya ada siapa lagi?"


"Ada satu lagi. Tornado, Toradina Dominic."


Lizi langsung bengek seketika saat mendengar nama terakhir yang disebutkan oleh sang suami. Bagaimana tidak Toradina Dominic, ini adalah perpaduan dari dua peradaban yang berhasil membuat Lizi tertawa hingga perutnya kram.


"Kenapa gak Torabica aja sih?" tungkas Lizi sambil mencoba menahan tawanya, tapi tetap saja tidak berhasil.


"Soalnya gak ada AdSense, Sayang. Kita gak di bayar buat promosi merek itu," jawab Farez dengan santai.


"Besok bilang ke Author, pake nama itu aja biar dapet AdSense. Kasihan novel dia sepi akhir-akhir ini!" terang Lizi yang langsung mendapat anggukan kepala dari Farez.


__ADS_1


Gak usah protes sama namanya. Mikirnya harus nyari sajen sampe ke gunung kidul. Like aja udah seneng kok, Ciyusan 😌


__ADS_2