
"Agh, Zi!" Farez menggelinjang kuat, mencengkram tangan Lizi yang sejak tadi ia pegang.
"Pelan dong, kamu mau bunuh suamimu?" decak Farez.
"Ya elah, Pak. Cuman kesleo aja, kenapa heboh!" ucap Lizi sibuk memijat tangan Farez.
Lagian, kebanyakan tingkah sih. Baru aja mau start Sidikapap jajal gaya baru, eh malah pake ada acara lantai licin, salto pula.
Ya, acara SidiKapap dengan gaya baru yang dinamai Belalang Kayang, pada akhirnya gagal lantaran lantai masih penuh dengan sabun dan membuat mereka berdua jatuh. Ditambah, tangan Farez yang keseleo akibat menahan badan Lizi agar tidak jatuh.
"Itu juga karena aku nolongin kamu!" Farez masih tidak terima jika dirinya disalahkan sepenuhnya dalam adegan 'Gagalnya Gaya Baru'.
"Sudah dibilang, enak di kamar, pake kasur. Enak kan mentul-mentul, ngeyel sih!"
Memang, yang di bilang Lizi ada benarnya. Namun, maksud hati Farez sudah kepalang tanggung, kenapa harus lama-lama pakai adegan pindah setting.
Farez menghela napas kasar, lalu mengambil ponselnya di atas meja, berniat menghubungi Salep dan Koyo.
"Mau ngapain?" tanya Lizi sedikit penasaran.
__ADS_1
"Gak liat udah hampir jam dua belas? Mau ke kantor juga udah kesiangan kan?" jawab Farez menatap Lizi yang menghela napas kasar.
"Ini juga salah Bapak!" Lizi memutar bola matanya malas.
"Aku? Kamu yang nyalain api duluan."
Glek.
Lizi terdiam setelah mendapat ulti dari sang suami. Bagaimana pun, itu memang hasil dari ulahnya sendiri. Dan pada akhirnya, dia hanya pasrah sembari memberi pijatan lembut pada sang suami.
Melihat Lizi terdiam, Farez kembali fokus pada ponselnya. Ia buru-buru mencari nomer Salep untuk memintanya ke rumah sambil membawa surat pengunduran diri sang istri.
Sepertinya Lizi masih belum juga kapok setelah mengganggu Farez mandi. Kali ini, rencana apa yang dia susun?
Farez meletakkan ponselnya di telinga, menunggu Salep menjawab panggilannya, dan saat suara seorang pria terdengar samar dari balik telepon ….
Lizi dengan santainya mendessah, "Eemm … ahh … Oh, Yes Baby!" godanya sambil memijat tangan Farez, membuat pria itu lantas menoleh menatap Lizi.
"Rez? Lu gak lagi enak enak sambil pamer ke gue yang jomblo ini kan?" suara Salep terdengar dengan jelas.
__ADS_1
Sambungan telepon masih terhubung, dan Farez justru terpaku melihat sang istri mengerang seperti kucing sedang birahi.
"Sal, Lu ke rumah bawa surat pengunduran Lizi Azizah segera!"
Dua mata Lizi langsung membulat penuh, bahkan bibirnya berhenti mendessah seketika. Farez yang melihat reaksi kaget sang istri, langsung mematikan panggilan teleponnya.
"Kenapa berhenti? Ayo lanjut!" goda Farez yang kemudian tersenyum.
Berniat membuat Farez malu, tapi dirinya sendiri yang justru terjebak malu. Bagaimana tidak, yang dihubungi Farez adalah manager tempatnya bekerja selama hampir dua tahun. Dia sendiri tidak menyangka, jika Farez akan menghubungi Salep.
Salendra Evan Putra, atau sering di panggil Salep. Seorang manager juga teman baik Farez saat kuliah dulu. Selain itu, ayah Salep yang juga Juragan Empang adalah teman baik ayah Farez.
Wajah Lizi merah padam, dia yang sudah kepalang malu langsung menghentakkan tangan Farez yang kesleo ke atas bantal. Lalu berlari pergi ke kamar. Iya, yang di tuju adalah kamar Farez, karena tidak mungkin baginya untuk keluar hanya dengan bathrobes.
Ah, sialan. Taruh di muka gue di depan Pak Salep nanti?
Emang sukanya nyari gara-gara si eneng, herman othor. 😌😌
__ADS_1