
"Kamar President Suit ya, Kak," ucap Lizi tersenyum manis kepada petugas.
Mendengar itu, Farez yang baru selesai memarkir mobil pun langsung menoleh tajam menatap istri barunya itu. Bukannya kaget dengan harga yang akan disodorkan pihak resepsionis, melainkan karena ia pikir Lizi cukup energik.
"Maaf, Bu. Kamar tertinggi kami hanya Junior Suite Room," jelas sang resepsionis.
"Oke oke, apa pun itu namanya. Beri saya 1 ya!"
"Baik, boleh pinjam tanda pengenalnya? Salah satu saja."
"KTP, mas!" ucap Lizi menatap Farez dengan senyum merekah bak kucing yang siap dikawinkan.
Fares pun tanpa banyak bertanya atau protes langsung mengeluarkan dompet dari saku. Dia mengambil KTP serta kartu debit ABC berwarna hitam dengan sisipan kata 'Prioritas'.
Widih, DUTA SAWIT nih. Duda Tajir Sarang duWit.
"Totalnya 3 juta 875 ribu ya, Pak. Sudah termasuk deposito 800 ribu." Resepsionis memberikan kartu debit itu kembali beserta smart key. "Nomernya 10002 ya, Pak. Naik lift di lantai 10 lalu belok ke kiri."
Farez yang tidak mau basa basi lagi langsung menggandeng tangan Lizi masuk ke dalam lift.
"Dih, Pak! Gandeng-gandeng, gak sabaran ya?" Lizi menepis tangan Farez begitu masuk ke dalam lift.
"Pikiranmu kemana? Traveling lagi?" Farez menatap Lizi untuk sesaat.
"Traveling menyehatkan tau, Pak. Menyehatkan otak dan pikiran kita." Goda Lizi sedikit menyenggol lengan Farez.
__ADS_1
Sialnya, Lizi sudah salah mencari lawan. Dia seolah lupa, jika Farez adalah seorang duda dengan banyak pengalaman. Jadi kenapa harus traveling kalau bisa langsung Adventure menantang adrenalin?
Farez dengan santai mendekatkan diri ke telinga Lizi, lalu berbisik lirih, "Jangan lupa, Sayang. Agenda kita kali ini, mengajak belut membajak sawah."
Lizi sempat menoleh menatap Farez, sebelum akhirnya pintu lift terbuka dan Farez berjalan keluar lebih dulu dengan tampang santai.
Kok bisa lupa kalau udah sah? Aahh!!
Seperti menggali kubur sendiri. Lizi dengan langkah kaki beratnya, melangkah menghampiri kamar yang akan menjadi saksi bisu pembajakan sawah. Seperti ada batu besar, yang entah datang dari mana, bergelayut di kaki Lizi.
Beberapa kali ia menelan salivanya kasar, terlebih saat melihat Farez perlahan mendorong handle pintu membuka kamar. Namun saat Farez menaruh Card Key di tempatnya, dan lampu otomatis menyala, Lizi seketika lupa tentang aksi pembajakan sawah.
Dia terkagum untuk sesaat, melihat kamar luas dengan ranjang besar yang di tata rapi, lengkap dengan selimut putih tebalnya. Sofa empuk, nakas dengan vas beserta bunganya yang terlihat masih segar.
Lizi seakan melupakan segala polemik tentang
bayangan membajak sawah dengan belut. Ia justru berlari seperti anak kecil dan langsung menjatuhkan dirinya di atas ranjang.
Tidur enak malam ini, Zi.
Sedangkan Farez hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkah absurd istrinya itu, dan memilih pergi ke toilet untuk membasuh diri, bersiap untuk pertempuran malam ini.
Farez keluar dengan bathrobes yang menempel di tubuhnya, berjalan santai menghampiri Lizi yang sedang berbaring, sibuk update status di sosial medianya. Sorot mata Lizi yang kebetulan melihat Farez berjalan, langsung membuatnya bangkit dari rebahan manja.
__ADS_1
"Ba-Bapak mau ngapain?" Jangan-jangan dia beneran mau bajak sawah pake belut lagi?
Farez tak merespon, dia justru mengibaskan rambutnya yang setengah basah dan terus berjalan menghampiri Lizi yang terbengong sesaat.
"Pak, tenang dulu, oke! Masih banyak jalan menuju Roma, Pak. Kita … perlu berbincang-bincang dulu gimana?" Lizi sesekali menelan salivanya, melihat Farez yang kini merangkak mendekatinya.
"Memang, jalan menuju Roma itu banyak. Tapi … ada beberapa orang lahirnya di Roma."
Skakmat. Lizi diam terpaku, melihat sorot mata Farez setajam elang. Beruntung, gigi taringnya tidak keluar sehingga pria itu masih terlihat 'tampan' dengan vibes om dudanya.
"Ra-rapat dulu yuk, Pak. Paling engak, kita bisa bikin kesepakatan, mau pake gaya apa nanti!" Lah, kok malah bahas gaya sih?
Raut wajah Lizi sudah pucat, tapi Farez masih tersenyum memperlihatkan wajah erotisnya, yang justru membuat Lizi semakin gugup.
"Boleh." Farez membelai kening Lizi, lalu turun ke pipi. "Jadi, kamu mau pakai gaya apa?"
"Ba-bapak lupa kata dokter ya?" Lizi merangkak mundur mencoba menghindari Farez.
Namun Farez cukup gesit, ia menarik tangan Lizi sambil berkata, "Ingat! Jadi gimana kalau kita tes, udah bisa berdiri atau belum?"
Lizi makin dibuat hilang akal. Berniat mengerjai Farez, tapi sepertinya sang suami sangat cepat membalik keadaan.
Ditatap kayak gitu, gimana gak ketar ketir coba????
__ADS_1
Selamat membajak sawah dan berkembang biak ya Bang Farez dan Neng Lizi 🤣🤣🤣
Jangan lupa minta kembang biar makin panassssssss 🤣🤣🤣