Dinikahi Om Duda

Dinikahi Om Duda
Bab 23


__ADS_3

Pernikahan Lizi dan Farez menjadi pernikahan terkonyol dan tercepat sepanjang hidup. Bagaimana tidak, berniat melamar, Pak Bakti justru langsung menodongnya dengan ijab qabul yang langsung di saksikan oleh keluarga Farez, juga penghulu.


Tidak ada acara makan-makan ala prasmanan seperti sate, nasi goreng, atau es doger disana. Hanya ada Teh Cangkir dengan beberapa kue dan jajanan pasar yang di beli dadakan oleh Bu Eja. Juga abang tukang bakso yang dipanggil bersama gerobak-gerobaknya.


Sederhana, tapi mampu menyatukan dua keluarga yang baru saja berkenalan, bahkan saling merasa berbahagia. Berbeda dengan Farez yang terlihat bahagia dengan pernikahannya, Lizi justru terbengong di kamar.


Gadis yang baru memperoleh gelar sebagai istri itu bukan bengong karena pernikahan dadaknya. Baginya, menikah hari ini, besok, atau tahun depan, sama saja. Hal yang paling dia bengongkan adalah acara setelah pernikahan, yaitu malam pertama.


Yah, meskipun drama yang sering ditonton adalah serial Ikeh Ikeh Kimocieh, tapi pengalaman bercintanya sungguh nol. Bagaimana tidak, mantan pacar yang selama ini menemaninya hanya mampu menggandeng tangannya saja. Dia bahkan belum pernah membobol bibir Lizi barang sekelumit pun.


Ahh … sungguh gaya pacaran yang sehat!


Suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar tidak terlalu keras, membuat Lizi menoleh memandangi pintu yang tertutup. Siapa kiranya? Mungkin itu ibu atau ayahnya, begitu yang Lizi pikirkan. Namun belum sempat Lizi berdiri dari duduknya, pintu yang memang tidak dikunci itu terdorong ke dalam.



Lizi cukup kaget, ketika melihat sosok Farez yang masuk ke kamarnya. Beruntungnya, dia tidak ternganga sampai meneteskan air liurnya lagi.

__ADS_1


"Ba-bapak ngapain kesini?" tanya Lizi, reflek meninggikan sedikit suaranya. Beruntung, Farez buru-buru menutup mulut Lizi dengan tangannya.


"Sssttt, suara udah mirip toa! Bisa kan agak kecil dikit? Gimana kalau mereka denger!" Gerutu Farez pelan-pelan melepaskan tangan.


"Lagian, Bapak juga sih! Ngapain coba masuk kesini, kalau ada yang lihat gimana?" Lizi menurunkan nada bicaranya sedikit lebih rendah.


Farez buru-buru menghela napas kasar, lalu menyentil kening Lizi. "Aku suamimu sekarang! Kenapa kalau aku masuk ke kamar istri sendiri!"


Alamak! Kenapa lupa kalau aku sudah nikah?


"La-lalu, apa urusan Bapak cari saya?" Lizi bersedekap tangan, lalu membuang muka, menyembunyikan sikap gugupnya.


"Kenapa kau menghindar?" Farez menaikkan satu alisnya, memandang wajah wanita yang baru menyandang status istri itu dengan tatapan heran.


"Gak ada. Takut dicaplok boyo! (Takut di gigit buaya) Farez yang tidak paham bahasa jawa hanya menghela napas kasar, lalu duduk di samping Lizi.


"Aku mau bicara!" ucapnya lembut sesekali melihat sekitar, mengamati kamar yang ternyata tidak terlalu besar, tetapi cukup rapi.

__ADS_1


"Kebetulan, saya juga!" sahut Lizi.


"Jangan panggil aku Bapak!" Seru Farez.


"Aku mau kembali ke Jakarta sekarang!" Seru Lizi.


Keduanya berbicara bersamaan tanpa ada yang mau mengalah. Namun beruntungnya, mereka mendengar ucapan satu sama lain.


"Ya udah, saya panggil Om!" Nada Lizi sedikit meninggi, menanggapi protes Farez.


"Kita pulang besok!" Farez pun juga ikut meninggikan nada bicaranya, bermaksud membuat Lizi takut. "Panggil aku 'Suami', setidaknya saat kita berada di sekitar mereka."


Su-suami?


"Ngak mau! Kuno tau ngak? Mas aja cukup!" Lizi berdiri bangkit dari duduknya. "Ayo, kita pulang sekarang!"


__ADS_1


Hari ini 1 bab dulu deh, besok langsung gas dengan judul 'Night After Marriage' 🤣🤣


Iyo iyo, Malam Pertama kui lo.


__ADS_2