Dinikahi Om Duda

Dinikahi Om Duda
Bab 67


__ADS_3

Setelah Lizi mencoba gaun pengantin, sekarang giliran Farez yang mencoba kemeja putih pilihan Mince. Berbeda halnya dengan Lizi yang butuh 4 kali uji coba gaun, hingga akhirnya memilih pilihan pertama. Farez hanya butuh sekali coba saja untuk dia memilih itu. Padahal, Mince sudah menyiapkan 6 setelan jas.


"Totalnya 22 jetong ye, Say," ucap Mince yang sibuk melihat layar laptopnya.


Seketika Lizi pun menoleh, menatap Farez yang duduk di sofa, lalu memanggilnya dengan manja, "Ayank …." Dan seketika membuat Farez menoleh, sambil merogoh saku, mengambil dompet.


Melihat Farez menyodorkan sebuah kartu hitam dari bank BINI andalannya. Lizi pun berlari dengan raut wajah gembira seperti anak kecil yang baru saja menang undian dari tutup botol Susro.


Namun saat ia berhasil memegang kartu hitam milik sang suami, Farez lebih dulu menarik tangannya hingga jarak mereka hanya sejengkal.


"140455," ucap Farez singkat.


"Apaan? Ayank mau pesen ayam Mikdi? Dada atau paha?" Respon Lizi dengan polos, yang pada akhirnya berhasil membuat Farez tepok jidat.


Nih cewek gak ada pinternya dikit ya? Kok bisa gitu, gue suka? Kena ajian Jaran Senggol kali. Farez menghela napas kasar, lalu menjelaskan maksud angka angka yang dia sebutkan.


"Itu PIN nya, Sayang. Pin!" ucapnya penuh kesabaran.


"Ohhh. Bilang dong! Lagian, pin udah mirip delivery ordernya Mikdi."

__ADS_1


"Kenapa memangnya? Aku emang suka deliv Mikdi, apa lagi yang paha. Eemmm ...." Goda Farez dengan tatapan genitnya.


Lizi seketika menarik tangan yang di pegang Farez, lalu berpaling sambil mendengus, sebelum akhirnya membayar jas dan gaun nikah yang sudah mereka pilihan sebelumnya.


"Tuh lekong banyak cuan ya, Tsay," goda Mince yang kemudian menggesek kartu hitam milik Farez.


"Duta Sawit, dia Bok," jawab Lizi singkat, sambil memperhatikan tatapan Mince yang tersorot ke arah Farez.


"Apaan tuh? Juragan sawit?"


"Bukan! Duda Tajir Sarang Duwit!" Bengek Lizi pun kambuh saat menjabarkan artinya.


Lizi dan Farez akhirnya pergi dengan membawa baju nikah mereka yang seharga 22 juta. Ya, orang kaya mah bebas, terutama Farez yang sibuk menghabiskan warisan peninggalan orang tuanya.


"Kita mampir ke pasar sebentar!" ajak Farez saat masuk ke dalam mobil, kemudian sibuk mencari tisu basah.


"Ngapain ke pasar? Mau beli paha ayam?"


"Bukan!" tegas Farez. "Beliin aku kembang 7 rupa! Aku mau berendem, takut sawan entar malem gara-gara temen mu yang setengah tuna dan salmon itu!"

__ADS_1


"Buahaha …." Lizi seketika tertawa terbahak-bahak saat Farez menjawabnya. Dia pikir, Farez, ingin membeli bahan makanan. Namun yang dia beli justru kembang 7 rupa.


"Jangan ketawa! Ini kalau bukan karena kamu, udah aku sumpahin hilang Terong Belanda dia!" tegas Farez kesal sambil mengusap pipinya dengan tisu basah. Berharap segala firus firus salmon dan tuna hilang dari tubuhnya.


"A-apa? Terong Belanda?" tanya Lizi masih menahan tawanya.


"Iya itu! Kecil, buntet, kagak bisa memanjang!"


Kali ini, Lizi benar-benar tidak bisa menahan bengeknya. Dia tertawa cukup keras saat Farez mendeskripsikan Terong Belanda. Si buntet yang memang begitulah modelannya.


Sedangkan Farez yang kesal langsung tancap gas menuju pasar terdekat untuk membeli bunga 7 rupa. Dia ingin ritual mandi untuk menghilangkan sisa kengerian saat Mince menempelkan pipinya di pipi Farez.


Farez yang tak sengaja mengingat kejadian itu, lantas menggetarkan tubuhnya lantaran jijik.


Gak lagi gue kesitu! Hih, jabang bayi!



Si terong yang kagak bisa memanjang. Emmm ... silakan bertraveling ria 💋💋

__ADS_1


LIKE jangan lupa!!!


__ADS_2