
Kesepakatan telah terjalin. Meski pada awalnya ia merasa dikibulin oleh Farez, tapi pada akhir ya dia juga setuju. Jadi istri yang baik, siapa takut? Lagi pula dia sendiri juga lelah lantaran harus dobel job kerja untuk bisa bertahan di kerasnya Ibu Kota.
Malam ini, Lizi memilih untuk tidur di kamarnya kosnya sendiri, dan entah mengapa, Farez juga mengizinkan istrinya. Mungkin karena perjanjian UUP yang mereka telah disepakati, bahwa mereka yang tinggal di indekos, tidak boleh mengetahui hubungan di antara mereka.
"Aahh, gini kan enak!" Lizi buru-buru merebahkan dirinya di kasur setelah selesai mandi dan berganti baju.
Lizi meraih ponselnya dan mulai berselancar di sosial media sambi mendengarkan sepenggal lagu One Kiss. Belum ada lima menit dia berselancar, tiba-tiba matanya dikejutkan oleh rekaman video yang diunggah seseorang.
'Pelakor kena ulti istri sah' berikut adalah judul yang pertama kali dia baca, bahkan langsung membuatnya bangkit dari rebahan dan langsung duduk memelototi layar.
"Ini kan gue tadi siang? Siapa yang unggah?" Pekiknya kaget setengah kesal. Namun saat ia mendapatkan banyak dukungan dari warga Konoha, rasa kesalnya hilang.
"Wah wah wah! Gini ya rasanya jadi istri sah! Hahaha puas banget gue!" Dia kembali merebahkan tubuhnya, sambil membaca komentar komentar yang berhasil membuatnya tertawa puas.
Sampai …. Kringg! BUGH!
Sebuah panggilan masuk, membuat Lizi kaget hingga ponselnya jatuh tepat di wajahnya. Bahkan sudut ponsel itu mengenai bibir Lizi, hingga berdarah.
"Aaaaahhhh!" teriaknya nyaring.
Lizi pun langsung bangkit dari tidurnya sambil memegang bibir bawahnya yang berdarah. Belum selesai dengan urusan bibir yang berdarah juga panggilan di ponselnya. Seseorang mengetuk pintu kamarnya dengan intonasi cepat.
__ADS_1
"Sia'a lagge!" ucapnya tak jelas lantaran mulutnya tengah menganga, merasakan bibirnya yang perih dan wajah yang sakit.
Dia bangkit berdiri dan membuka pintu kamarnya. Dan … Farez berdiri di depan lamar dengan wajah panik.
"Kamu kenapa?" tanya Farez yang tidak melihat bibir sang istri yang sedikit jontor dan berdarah, lantaran Lizi menutupinya dengan satu tangannya.
Lizi yang panik melihat Farez datang ke kamarnya, langsung menarik tangan pria itu masuk ke dalam dan segera menutup pintu.
"Aa nga'aain aaa?" tanya Lizi dengan bahasa planet.
"Kamu ngomong apa sih?" Farez balik bertanya lantaran tidak paham.
Lizi menghela napas panjang, membuka tangannya dan bertanya sekali lagi. "Bapak ngapain disini? Aahh!" ucapnya sedikit lirih, diakhiri dengan keluhan bibirnya yang terasa perih saat berbicara.
"Bapak ngagetin, ketimpuk HP kan jadinya," elak Lizi enggan mengakui jika dirinya sendiri yang ceroboh.
"Ayo ke rumah, aku punya salep ampuh!"
Tanpa ancang-ancang, Farez menarik tangan Lizi, hendak membawanya pergi. Namun Lizi yang masih takut dengan penghuni kos, langsung mencekal tangan Farez.
"Eeh, eh, tunggu!" ucapnya sedikit berbisik. "Kalau ada yang liat gimana?" Lizi melepaskan tangan Farez, lalu membuka pintunya sedikit dan mengedarkan penglihatannya ke sekitar.
"Kita sudah sah! Kamu masih takut apa? Nikah sama duda?" luruh Farez mulai kesal dengan sikap was was sang istri.
__ADS_1
"Gak gitu!" Lizi masih sibuk mengedarkan penglihatannya. "Kita nikahnya dadakan, sirih pula. Kalau ada gosip saya hamidun, kan yang jelek nama saya juga, Pak!"
Perkataan Lizi memang ada benarnya, sekarang adalah zaman dimana mulut lebih ditonjolkan daripada kenyataan. Dia pun hanya bisa menahannya, setidak ya sampai mereka sah dimata negara.
"Udah aman, Bapak keluar dulu. Setelah ini aku nyusul!" Lizi membuka pintunya sedikit lebih lebar.
Farez sempat menghela napasnya, sebelum akhirnya keluar tanpa bicara sepatah katapun. Setelah Farez keluar dan berjalan ke rumah, barulah Lizi mengikuti pria itu dari belakang.
"Duduk di sofa, aku ambil obat sebentar!" ucap Farez saat Lizi masuk ke rumah.
Baru sebentar Lizi duduk, Farez sudah kembali dengan kotak obat di tangan. Selagi Farez sibuk mengacak acak kotak obat yang disusun sangat rapi, Lizi coba bertanya maksud kedatangan sang suami ke kamarnya.
"Bapak tadi belum jawab," ucap Lizi melihat Farez sibuk dengan kotak obatnya.
"Bapak lagi bapak lagi. Besok, kamu aku panggil 'ibu' gimana?"
"Iya iya, Pak Su!" Lizi memutar bola matanya malas.
"Apa itu?"
"Pak Su–ami."
...☆TBC☆...
__ADS_1
Butuh segalon kopi buat lanjut ... hemmm 😌😌