
Suara gemericik air terdengar dari luar kamar mandi. Tanpa mengintip, Lizi sudah bisa menebak, jika Farez sedang mandi di dalam sana.
Baru sebentar Lizi merebahkan dirinya di kasur dan mencoba menetralkan degup jantung yang sempat berguncang tak karuan. Suara ketukan pintu terdengar dari luar, disusul dengan suara seorang pria.
"Room Service, permisi!"
Lizi yang sebenarnya enggan karena terlalu nyaman rebahan, dengan sangat terpaksa bangkit dari ranjang dan membuka pintu.
"Pesanan Pak Farez," ucapnya dengan tangan memegang sebuah catatan kecil.
"Iya. Bawa masuk aja, Mas." Lizi membuka pintunya lebar-lebar, membiarkan seorang pria dengan pakaian rapi itu masuk ke dalam sambil mendorong troli penuh makanan.
"Kalau sudah selesai, Anda bisa menemukannya di luar. Selamat menikmati," ucapnya ramah kemudian berbalik dan pergi.
Tidak mau banyak kata lagi, Lizi yang memang sudah sangat lapar, langsung mencicipi satu persatu. Mulai dari steak, sup asparagus, tiga macam buah-buahan, dan juga puding.
Dia baru saja menikmati beberapa potong daging steak yang dipanggang dengan tingkat kematangan medium, saat Farez keluar dari kamar mandi. Pria itu berdiri mengibaskan rambut yang setengah basah, dengan handuk yang melingkar di pinggang, menutupi Si Juno yang sedang mengkerut.
Lizi yang saat itu sedang makan, langsung teranganga melihat penampilan Farez. Bagaimana tidak, lekukan lekukan di dada dan perut Farez, seketika membuat otak miringnya bertambah miring. Terutama saat mata itu turun ke bawah, menuju bagian Juno selama ini bersarang.
Satu hal yang ada dipikirannya pada saat itu, apa sang suami membiarkan Juno bergelantungan, atau si Belut itu sudah aman di dalam sarang?
Oh My …. Glek. Lizi menelan saliva yang bercampur dengan saus steak, saat melihat gundukan itu di antara kedua paha Farez.
__ADS_1
Lizi lalu meletakkan garpu dan pisaunya, kemudian bertepuk tangan dengan intonasi pelan.
PROK! PROK!
Entah, hal absurd apa yang tiba-tiba terbayang di pikiran Lizi. Hal yang bisa ditebak hanya satu, dia sedang memikirkan Belut Super itu sedang menggantung. Ya, begitulah dia dengan segala pikiran abnormalnya.
"Kenapa?" Farez menaikkan satu alisnya, memandang sang istri dengan tatapan heran sambil berjalan mendekat.
Selangkah demi selangkah Farez maju ke depan. Tidak tahu kenapa, langkah kaki Farez membuat tangan Lizi gatal. Gatal hingga ingin menarik handuk Farez dan memastikan jika tebakannya benar.
Iya tebakan jika Farez membiarkan Belut supernya bergelantungan dengan manja. Dan benar saja, Lizi benar-benar memuaskan tangannya dengan menarik handuk Farez.
Hingga … TIT … Mak Jreng!!
Dugaannya terbukti benar. Farez memang membiarkan Si Juno menggantung dengan bebas, dan hanya menutupinya dengan sehelai handuk.
"Ya ampun, Pak … Si Juno, kasihan! Hahaha."
Farez masih berkacak pinggang dengan sorot mata tajam menatap Lizi. Sampai akhirnya, kesabarannya habis. Dalam satu hentakkan dia menggendong Lizi.
"Pak! Pak! Mau bawa saya kemana?" Lizi berusaha memberontak.
Namun Farez tak gentar atau mengendorkan kekuatannya. Dia terus berjalan, membawa sang istri dengan tubuh buggilnya itu hingga ke atas ranjang.
"Wow, Pak, Santai! Jangan sarkas, kita makan dulu gimana?"
__ADS_1
Farez menatap Lizi, lalu menaikkan satu sudutnya sambil mendengus.
"Ter-lam-bat!"
GLEK! Lizi hanya mampu menelan salivanya, terutama saat ia melihat Si Juno perlahan menegang.
Mak Jreng!!!
Nah kan, balek lagi 🤣 jempol mana jempol 😌😌
Vote mana Vote 😌
Judul : Cinta Pertama Membawa Luka
Author : Momy Ida
Pandangan pertama membuatnya jatuh cinta,sang gadis rela melakukan apapun demi bisa bersama dengan sang pujaan hati.
Zia Rose Amanda memperjuangkan cintanya kepada Dave Danuarta meskipun sering diacuhkan dan diberi harapan palsu.
Gabriel Gandratama sekertaris se-kaku kanebo diam-diam jatuh hati dengan Zia Rose Amanda.
__ADS_1
Bagaimana kisah cinta mereka bertiga? Ikuti terus setiap babnya.