
"Lama gak ketemu loh, Far. Dan kamu masih tetep kekar dan gagah aja ya," ucap seorang wanita bernama Verlette. Wanita cantik dengan tubuh semampai asal Paris, Parimono Selatan—Tegal.
"Ngak, biasa aja," jawab Farez ketus.
"Aku lagi muji kamu, paling gak bilang makasih gitu," tegas Verlette sambil mengusap lengan Farez dengan tatapan menggoda.
Entah mengapa, tatapan Ver membuat Farez teringat akan teman sang istri, Mpok Nur. Gadis dengan tingkah aneh yang selalu menunjukan tatapan seperti kucing birahi.
Ini pasti kerjaan si Bento! Anak Juragan Empang sialan memang! Berani beraninya dia jebak biar ketemu sama Tante Girang.
Farez menatap nyalang seorang pria yang duduk tepat di sebelahnya. Jika bukan karena Bento itu anak Juragan Empang yang jadi teman baik bapaknya dulu, mungkin Farez sudah memaksa pria itu mengunyah jeruk.
Melihat kedekatan Farez dan wanita misterius itu, membuat Trio EM bergosip lagi dengan hebohnya. Menebak-nebak, hubungan di antara mereka berdua.
"Mungkin teman," sahut Marimar.
"Saudara kali. Dia akrab banget!" Maryani pun ikut berkomentar.
"Gak, gak. Gue gak yakin! Pasti cem ceman si Bapak Kos!" timpal Mersendes sambil melirik Farez dan memakan kacang.
Mendengar komentar dari Trio EM, darah Lizi mendidih. Dia merogoh ponsel, mengetik beberapa patah kata, lalu mengirimnya pada Farez.
📩 Undang Undang Pernikahan, pasal 2B dan 2C.
Pasal 2B, tidak boleh ada pelakor dan turunannya. Pasal 2C, jika bersalah maka seluruh aset bergerak dan tidak bergerak menjadi milik istri.
Farez yang membaca pesan Lizi justru menaikkan dua sudut bibirnya. Antara puas dan mengejek, tapi ekspresi Farez berhasil membuat api amarah Lizi berkobar. Dia lantas berdiri dari kursinya dan menghampiri Farez, tindakannya bahkan membuat Trio EM tercengang.
"Oi, Zi! Mau ngapain, Lo?" bisik Marimar mencoba menghentikan Lizi yang berjalan ke arah Farez.
__ADS_1
Lizi berjalan dengan amarah yang menggebu-gebu menghampiri suami yang baru dua hari lalu ia nikahi. Sorot matanya begitu garang, menatap Farez seakan ingin menelannya bulat-bulat.
Saat tiba di meja Farez, gelas minuman yang dia pegang diletakkan kasar di atas meja.
Brak!
Suara gelas dan meja yang saling bertumpu membuat keempat orang yang ada disana terhentak kaget. Bahkan Verllente yang tadi sedang mengusap lengan Farez langsung melepaskannya dan menoleh menatap Lizi.
"Eh, kamu ini siapa? Gak sopan!" Verllente bangkit dari kursinya, menatap Lizi dengan nanar.
"Aku … siapa?" Lizi menyengir, menatap Verllente dengan tajam, lalu menatap Farez.
"Ayank!!" panggil Lizi manja sambil menarik tangan Farez, membuat pria itu sontak berdiri, dan membuat Trio EM ternganga takjub.
"Ayank, aku laper," lanjut Lizi sambil merengek, membuat beberapa pengunjung menoleh menatapnya. .
Farez yang tidak terkejut sama sekali, langsung mengangguk. "Oke, ayo pergi makan."
"Si-siapa wanita ini?" Verllente menatap Farez.
Lizi menghela napas kasar, lalu menepis tangan Verllente yang memegang tangan Farez dan berdiri di depan Farez.
"Kenalin, aku …." Lizi menelan salivanya lagi, berusaha mengendalikan rasa gugupnya. Sedangkan Farez yang berdiri di belakang Lizi justru tersenyum senang.
"Aku kepunyaannya!"
Jawaban Lizi langsung membuat Verllente tercengang kaget, begitu juga Trio EM yang menyimak diam-diam. Sedangkan Farez, dia justru berusaha menahan tawanya.
Verllente terkekeh pelan. "Hei, Dek! Dengar ini ya! Sebelum janur kuning melengkung, tidak ada kata 'kepunyaan', paham?" ucap Verllente angkuh.
__ADS_1
Wah wah, nih pelakor ngajak gelud. "Iya iya betul!" sahut Lizi membuat Verllente tersenyum puas.
Dikira menang, tapi kenyataannya justru sebaliknya. Dengan gaya santai Lizi berkacak pinggang, "Tapi, Tante … setelah saksi bilang 'Sah' itu juga sudah jadi kepunyaan!"
Lizi tersenyum sesaat, lalu menarik tangan Farez pergi dari sana. Verllente terlihat sangat kesal, sedangkan Marimar dan Maryani kompak bertepuk tangan puas.
"WOW WOW! Daebak!" seru Marimar sambil berdiri, mengacungkan dua jempol pada Lizi, membuat Lizi menoleh dan melambaikan tangannya dengan puas.
Namun dibalik rasa takjub dan standing applause dari Marimar dan Maryani, Mersendes justru terlihat sedih, bahkan matanya berkaca-kaca.
"Woi, lu kenapa, Ndes?" tanya Maryani.
"Itu … yang dibawa Lizi tadi minuman gue! Mana belum gue seruput lagi!" Mersendes meratap pilu, melihat minuman miliknya berada di meja sebrang.
Yuhuuuu, rindu ya rindu ya 🤭
Sajen jangan lupa, biar bisa ketemu lagi 😌
Judul : Benteng Penghalang Kita
Author : Nita.P
Perbedaan adalah hal biasa dalam suatu hubungan. Tapi apa hubungan masih bisa di lanjutkan dengan perbedaan yang terlalu jauh. Dia dan aku berbeda. Kami tak sama. Sangat mustahil rasanya untuk bisa bersatu selamanya.
Benteng tinggi yang menghalangi hubungan Seira dan Ganesh terlalu tinggi untuk di gapai. Hingga suatu hari kisah mereka harus di timpa dengan masalah besar, Dan Seira akhirnya memilih menjadi orang ketiga dalam hidupnya. Entah kisah ini akan berlanjut dan berakhir bahagi atau mungkin akan hancur dengan seiring waktu berjalan.
__ADS_1
Nikmati dan ikuti alurnya.. Kisah cinta yang terlalu rumit sehingga kalian akan merasa penasaran dengan endingnya. Terimakasih