Dinikahi Om Duda

Dinikahi Om Duda
Bab 53


__ADS_3

Mereka masih berdiri saling menghadap satu sama lain. Farez diam melipat kedua tangannya ke dada, sedangkan Lizi sesekali masih terisak


"Udah lebih baik?" tanya Farez dengan lembut sambil memandang Lizi yang justru tertunduk sejak tadi.


"Em, udah." Lizi mengangguk, meski kepalanya tertunduk, seperti enggan menatap Farez.


"Surat pengunduran diri mu dikirim Salep lewat email, kamu tinggal tanda tangan digital aja nanti," jelas Farez membuat Lizi menegakkan kepalanya.


"Pak, saya mau terus kerja!"


Mak Jeduer!


Farez melongo melihat Lizi yang berbicara dengan gampangnya dan dalam sekejap menjadikan kedelai jadi tempe hanya dengan sekali ucap.


"Kita, lebih baik cerai aja deh, Pak."


Degh!


Hati Farez makin tak karuan setelah Lizi melanjutkan kalimatnya. Farez sendiri tidak tahu, hal apa yang membuat Lizi mengatakan kalimat seperti itu.

__ADS_1


"Makin dipikir, kejadian kita ini agak absurd kayak di novel novel. Mereka kejebak One Night Stand dengan cara yang elegan lalu nikah. Sedangkan kita? Justru karena insiden Telur Ceplok." Lizi menghela napas kasar.


"Saya udah berusaha tanggung jawab. Dan kenyataannya, Si Juno masih gagah bahkan sehari bisa 2 sampe 3 ronde. Dia gak sakit, malahan sehat, seger buger."


"Zi, aku tu …." Belum sempat Farez menjelaskan, Lizi sudah menutup mulut Farez dengan jari telunjuknya.


"Ssttt. Biarkan saya bicara dulu, Pak," tegas Lizi.


"Lupain masalah perjanjian pra-nikah dan UUP kemarin. Anggap aja, kemarin-kemarin bentuk tanggung jawab saya pada Juno."


Degup jantung Farez berdetak tak karuan saat mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut sang istri. Ingin rasanya dia menyela, namun wanita yang berdiri di depannya itu terus berbicara tanpa tahu dimana letak tuas rem.


"Kita juga belum sah di mata negara, jadi Bapak cuman perlu ta–"


Satu hal yang perlu Lizi akui setelah beberapa hari ini dekat dengan Farez. Dalam hal seperti cium mencium, Farez selalu bisa membuat hasratnya tersulut, hingga melupakan keinginan sesaatnya untuk bercerai dengan Farez.


Puas berduel dengan lidah sang istri. Perlahan Farez melepas bibirnya, lalu mengusap sisa saliva yang sempat meluber di bibir Lizi.


"Aku akui, aku memang menipumu agar kamu mau menikahiku. Tapi …."

__ADS_1


Dua mata mereka saling memandang satu sama lain. Wajah Lizi masih merah terang, sedangkan Farez justru terlihat tenang setelah berhasil mencumbu sang istri.


"Tapi itu karena aku suka. Aku suka sama kamu."


Glek!


Lizi menelan salivanya kasar. Memandang wajah teduh Farez saat mengatakan kalimat itu, entah mengapa hatinya sedikit bahagia. Ada perasaan senang, yang tiba-tiba memudarkan rasa gelisah dalam hatinya.


"Aku akui, aku menyukaimu sejak lama. Hanya saja, aku belum berani mengatakannya secara langsung," lanjut Farez.


Lizi masih diam menatap wajah serius Farez. Matanya sibuk menelisik, mencari jejak kebohongan di dalam sorot mata Farez. Namun, sejak tadi mencari, ia belum menemukannya.


Beberapa minggu akrab dan saling bercengkrama, tapi ini adalah kali pertama mereka terjebak dalam pembicaraan serius.


"Bohong!" Lizi mendorong tubuh Farez menjauh. "Bapak cuman mau nutupin akal bulus Bapak aja kan?"


"Terus kamu maunya aku harus gimana biar bisa percaya? Yang jelas, aku gak mau talak kamu!" Farez masih gigih membujuk Lizi.


__ADS_1


Lanjut besok lagi, otak sama mata ikutan miring kalau garap mereka πŸ₯²


Vote, Like, Gift jangan lupa πŸ’‹πŸ’‹


__ADS_2