
Setelah selesai menikmati makan siang, mereka berdua kompak bersiap untuk pergi mengambil buku nikah yang sudah jadi. Lizi keluar rumah lebih dulu, dengan berjalan mengendap-endap seperti biasa, lalu segera masuk ke dalam mobil.
Tak sampai dua menit, Farez menyusulnya keluar rumah dengan pakaian rapi.
"Sampai kapan kamu jalan kayak maling kalau keluar rumah?" tanya Farez tiba-tiba, saat ia masuk ke dalam mobil yang sudah dinyalakan oleh Lizi.
"Sampai …." Lizi berpikir keras, memikirkan alasan yang jelas dan masuk akal. Padahal, dia sendiri masih malu jika ketahuan penghuni kos, bahwa ia menikah secara tiba-tiba. Baginya, itu adalah hal yang tabu.
"Sampai resepsi?" Ia menoleh menatap Farez dengan senyum sumringah memamerkan gigi putihnya.
Melihat wajah Lizi, Farez menjadi gemas. Ia sangat ingin membopong istrinya kembali ke rumah dan membajak sawah sekali lagi. Namun, ia mengurungkan niatnya dengan segera, saat mengingat buku nikah mereka harus segera diambil.
Pada akhirnya, Farez hanya mengusap ubun-ubun kepala Lizi sambil mengangguk dan tersenyum.
Masih ada waktu satu jam, sampai kantor urusan agama yang ada di dekat indekos tutup. Mereka masih ada waktu untuk menempuh setengah jam perjalanan hingga tiba di KUA.
"Mau tinggal di apartemen aja gak?"
Pertanyaan mendadak dari Farez, sontak membuat Lizi menoleh dengan tatapan heran.
"A-apartemen?"
"Aku tau kamu masih malu sama pernikahan dadakan kita. Tiap keluar selalu sembunyi-sembunyi biar anak-anak kos gak ada yang tau," ucap Farez terdengar santai meski sedang fokus mengemudi.
__ADS_1
"Kamu istriku, kita sudah sah. Bukan selingkuhan atau simpanan, apa lagi maling jemuran."
Aahh
Mendengar kalimat itu, hati Lizi langsung meleleh. Dia bahkan terdiam, tidak bisa berkata-kata.
"Kenapa gak jawab? Sayang …." Panggilan Farez membuyarkan rasa kagum Lizi pada sang suami.
"Oh, iya, itu …." Belum sempat Lizi menjawab, Farez sudah menyelanya.
"Kamu liat dulu aja. Kalau suka, kita pindah ke sana," ucap Farez sambil menarik tuas rem, lantaran mobil yang mereka naiki telah parkir dengan sempurna di area KUA.
Farez keluar lebih dulu, sedangkan Lizi masih membetulkan tali sepatunya. Ketika ia hendak turun, Farez sudah membuka pintu dan menyodorkan tangannya.
Lizi meraih tangan Farez dan turun dari mobil. Mereka bahkan terlihat bergandengan tangan hingga sampai di dalam ruangan. Kehadiran mereka berdua yang langsung memamerkan keromantisan pun, langsung mendapat sambutan dari beberapa orang.
"Cie cie!" Ledek seorang pria yang hampir seumuran dengan Farez.
"Yang anget yang anget," timpal Topan.
"Emangnya gorengan, anget!" Tornado menyahut.
Lizi yang malu hanya menyembunyikan wajahnya di balik lengan kekar sang suami. Entah, padahal dulunya dia sering malu-maluin, tapi sekarang, dia justru malu saat mendapat sambutan meriah dari teman-teman Farez.
__ADS_1
Mereka nih kayaknya lebih parah dari gue. Nama aja adaptasi dari angin, apa mungkin mereka keturunan Negara Angin dari dunia Avatar?
"Mana buku nikah gue!" tutur Farez menerobos Topan dan Tornado yang sempat menghadangnya sambil terus menggandeng Lizi.
"Sabar, buru-buru banget sih," jawab Tobing sibuk membuka sebuah buku tebal. "Nih tanda tangan disini!" lanjutnya.
Farez meraih pena yang disodorkan Topan, lalu menorehkan tanda tangan di beberapa berkas, begitu juga Lizi. Setelah semua berkas selesai, Topan menyodorkan buku nikah mereka.
"Kapan resepsinya?" tanya Topan penasaran.
"Liat mood bini gue deh!" seru Farez, kemudian pergi sambil menggandeng Lizi, tak memperdulikan ketiga temannya yang turut andil dalam kelancaran berkas nikah mereka.
"Lu pengen nampol dia gak sih?" ucap Topan pada Tobing
"Pengen, tapi gue inget kalau belum bayar kontrakan dua bulan."
"Jadi, itu alasannya lu mau ngurus isbat nikah dia dalam tiga hari?"
Topan dan Tornado kompak melihat Tobing yang mengangguk sambil berkata, "Dia juragan, Bro. Gue tak berdaya!"
"Turut berduka, Bro. Lu harus tabah!"
...☆TBC☆...
__ADS_1
Menjelang END, giftnya dong 🥲🥲