Dinikahi Om Duda

Dinikahi Om Duda
Bab 55


__ADS_3

"Aku udah akui, kalau aku suka sama kamu. Jadi aku gak akan talak kamu!"


Farez masih memeluk tubuh Lizi dengan erat, erat seerat mungkin agar Lizi tidak kabur darinya. Sampai Lizi merasa susah bernapas, dan mulai meronta.


"Aduh, Pak, lepas!" seru Lizi berusaha mendorong Farez, tapi pria itu masih memeluknya seerat mungkin.


"Gak! Aku gak lepas sebelum kamu janji gak akan minta cerai!" tegas Farez.


Lizi yang mulai kesusahan bernapas, akhirnya dengan sangat terpaksa berjanji pada Fares. "Iya, iya! Aku janji."


Setelah Farez mendengar janji Lizi, barulah ia melepaskan dekapannya, dan langsung mencumbu sang istri. Belum sempat Lizi menarik napas panjang setelah di dekap, kini dia harus merasakan sesak lagi.


Lizi masih berusaha memberontak dengan memukul dada bidang Farez. Namun Farez sendiri tak memperdulikan itu, dan terus mencumbunya. Hingga Lizi terpaksa pasrah dan mengikuti nalurinya.


Tangan Farez mulai menggerayangi tubuh Lizi. Perlahan melepaskan resleting baju bagian depan, hingga bagian tengah baju putihnya terbuka. Belum puas dengan itu, dengan perlahan penuh perasaan, Farez menyingkap satu sisi baju itu dari pundak Lizi, hingga satu sisinya terbuka.


Puas main silat lidah, Farez mulai menyusuri leher jenjang sang istri, hingga membuat Lizi mengerang untuk sesaat.


"Tapi aku belum menyukaimu, Pak!" ucap Lizi tiba-tiba hingga membuat Farez tertegun untuk sesaat dan menatap wajah sang istri.

__ADS_1


"Bohong! Kamu sudah menyukaiku," jawab Farez penuh percaya diri.


"Hanya terlalu gengsi untuk mengatakannya, iya kan?" Farez menyipitkan matanya, dengan satu sudut bibir yang terangkat.


Melihat wajah Farez yang memang gantengnya Naudzubillah, Lizi tidak bisa menahan diri untuk tidak menelan salivanya. Namun, rasa gengsi akhirnya membuat dia bangkit berdiri.


"Bapak nglindur!" tegasnya membelakangi Farez.


Bukan Farez namanya jika tidak menggoda sang istri. Sat set das des, ia menarik tangan Lizi hingga membuat tubuhnya berbalik hingga jatuh ke belakang dan menindih tubuh Farez.


"Baiklah. Kalau emang belum, maka aku akan berusaha sekuat tenaga, untuk membuatmu jatuh cinta."


"Jatuh cinta padaku dan … Juno."


Entah kekuatan apa yang Farez miliki, hingga dalam satu hentakan saja, tubuh mereka telah tertutupi oleh selimut dengan sempurna.


"Aahh, Pak! Jangan frontal gini dong!" Teriakan Lizi tiba-tiba terdengar cukup melengking memenuhi sudut ruang.


Gue kalah lagi, sama si mantan tua bangkotan. Dia selalu bisa buat gue luluh, lupa sama pendirian gue. Ya, gue akui itu, setiap sentuhannya memang cukup lembut, tatapannya selalu menggoda. Oh ****! RIP untukmu, gengsi.

__ADS_1


Di dalam selimut, Farez sibuk mengecup, mencium, menjiilat, menyesap. Setiap jengkal tubuh Lizi dijamah dengan sangat lembut dan tidak ada yang tertinggal satu jengkal pun.


"Ugghh … Pak!"


"Panggil yang baik," ucap Farez sebelum menyesap kuat-kuat pucuk kemerahan di atas gunung.


"Aaahh, Mas, Om, Pak Su!" seru Lizi menggeliat.


Mendengar panggilan dari Lizi Farez terkekeh untuk sesaat, lalu berbisik ke telinga Lizi. "Far-rez," ucapnya singkat.


Aahh gue perlu akuin lagi, selain wajahnya yang gantengnya sampe ubun-ubun, suara pria ini juga sexy. Oke, fix! Duda emang semakin di depan, yang berondong lewat dulu!


"Fa–Fa-rez," ucap Lizi sedikit malu-malu dan berhasil membuat Farez kembali terkekeh lalu mengecup bibirnya. Satu kali kecup, dua kali kecup, hingga keduanya bablas dalam gairah masing masing.


"Ayo, kita berkembang biak, Sayang!" lanjut Farez sambil menyikap selimut, lalu membuka sarung dan menyiapkan Belut Super andalannya.



Like jangan sampe lupa, apa lagi giftnya 😌😌

__ADS_1


Othor mau semedi dulu sejenak.


__ADS_2