Dinikahi Om Duda

Dinikahi Om Duda
Bab 29


__ADS_3

"Permisi, Kak Lizi."


Suara seorang wanita yang datang menghampiri mereka sontak membuat Lizi menoleh. Dalam seketika, ekspresi wajah jengkelnya berubah drastis.


"Oh, iya," jawabnya sambil menoleh dan menyingkap satu sisi rambut yang tergerai bebas. Layaknya seorang selebgram dengan kearifan lokal yang tidak menarik sama sekali.


"Mari, saya antar ke ruang Spa." Ajak seorang wanita berambut sebahu dengan lipstik merah glossy. Percayalah, glossy hanyalah efek karena dia baru saja memakan gorengan.


"Oke, Kak." Lizi pun berdiri hendak mengikuti wanita berambut pendek itu. Namun sebelum dia pergi, ia sempat merubah ekspresinya lagi, melirik tajam pada Farez, bahkan sempat menaikkan satu sudut bibirnya.


Dua wanita itu berjalan keluar dari pintu samping hotel. Melewati pinggir kolam renang, dan memasuki ruangan yang ada di seberang kolam. Rupanya, ruangan Spa ini sangat dekat dengan area kolam renang dan ruang olahraga.


Tentunya, Farez juga mengikuti mereka. Bahkan ikut masuk ke ruang spa. Lizi yang mengetahui suaminya ikut masuk, pun langsung berbalik dan menghadangnya.


"Mau kemana?" tanyanya sedikit lirih.


"Ikut Spa," ucapnya dengan santai, tanpa penekanan kalimat atau tegasan. Mengalir keluar begitu saja, seperti sumber mata air.


"Pak, Spa ini buat cewek!" Lizi terlihat bersedekap tangan. "Bapak besok aja di tukang urut!" lanjut Lizi.


Farez menaikkan satu alisnya, lalu sedikit membungkuk agar bisa setara dengan sang istri yang memang, pendek. "Tukang urut? Ngak enak. Lebih enak di sini."


Farez menatap lurus ke depan, tapi bukan sang istri yang ditatap, melainkan para staf yang berdiri dengan wajah cantik dan ramah. Lizi pun sempat menoleh ke belakang, melihat Mbak-Mbak yang berdiri di sana tersenyum dengan ramah.

__ADS_1


Tiba-tiba dia mendengus kesal. Lalu berbalik sambil menghentakkan satu kakinya dan pergi meninggalkan Farez.


"Mbak!" Seru Lizi.


"Aku ambil semua, mulai dari Additional Treatment, Body Massage, Facial, sampai Manicure dan Pedicure," ucap Lizi lantang lalu menunjuk Farez. "Dia yang bayar!"


"Baik, Kak. Mari ikut saya masuk!" ajak salah seorang wanita dengan rambut yang digelung cukup rapi.


Mendapat perlakuan seperti itu dari sang istri, Farez bukannya jengkel. Dia justru terlihat senang dan menikmati tatapan jengkel dari Lizi sebelum dia masuk ke dalam.


Farez dengan santai berjalan ke arah meja kasir. "Kasih saja apa yang dia mau. Tagihannya nanti biar saya yang bayar!" ucap Farez pada seorang wanita yang bertugas di meja kasir.


"Baik, Pak. Lalu Bapak, jadi Treatment juga? Atau Massage?" tanyanya.


"Ah begitu."


Entah kenapa, jawaban Farez seketika merubah atmosfer di dalam ruangan berukuran 44 meter persegi itu. Raut wajah para pekerja di sana pun terlihat kecewa. Entah, mereka kecewa lantaran Farez tidak jadi mengambil treatment di sana, atau saat dia menyebut kata 'istri'.


Alih alih menunggu Lizi di sana, Farez rupanya lebih memilih menghabiskan waktunya di ruang olahraga dan Gym, yang berada tepat di seberang ruang Spa.


Dari pintu ruang Spa sendiri sudah bisa terlihat ruangan sebrang yang terisi oleh alat-alat olahraga, lantaran bagian depan ruangan itu terbuat dari kaca. Mungkin, dari sinilah Farez menemukan cara untuk menunggu Lizi sampai selesai.


Farez kembali ke atas lebih dulu untuk menganti baju, lalu kembali turun dan terlihat masuk ke ruang olahraga. Dia masih memakai celana panjang yang sama seperti tadi, hanya atasannya saja yang dia ganti dengan jaket hitam.

__ADS_1


Namun, ketika dia masuk, jaket hitam yang dia kenakan itu langsung di lepas dan hanya menampilkan tanktop hitam ketat yang memperlihatkan body kekarnya.


Seketika, pemandangan indah itu membuat beberapa wanita yang ada di area Spa langsung mengintip dari pintu kaca. Melihat Farez dengan body kekar bak binaragawan itu mulai berlari di Treadmill.


"Aah, siang yang panas, tapi seger."



Selamat pagi, jangan lupa sarapan ya semua. Hari ini masih lemes, demam masih 37, tapi tetep semangat buat kasih tunjuk mantan Duda 🤣🤣



Judul : Dikhianati Karena tak Kunjung Hamil


Author : Senja_09


Kehamilan merupakan sebuah impian besar bagi semua wanita yang sudah berumah tangga. Begitu pun dengan Arumi. Wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter bedah di salah satu rumah sakit terkenal di Jakarta. Ia memiliki impian agar bisa hamil. Namun, apa daya selama 5 tahun pernikahan, Tuhan belum juga memberikan amanah padanya.


Hanya karena belum hamil, Mahesa dan kedua mertua Arumi mendukung sang anak untuk berselingkuh.


Di saat kisruh rumah tangga semakin memanas, Arumi harus menerima perlakuan kasar dari rekan sejawatnya, bernama Rayyan. Akibat sering bertemu, tumbuh cinta di antara mereka.


Akankah Arumi mempertahankan rumah tangganya bersama Mahesa atau malah memilih Rayyan untuk dijadikan pelabuhan terakhir?

__ADS_1


Kisah ini menguras emosi tetapi juga mengandung kebucinan yang hakiki. Ikuti terus kisahnya di dalam cerita ini!


__ADS_2