Dinikahi Om Duda

Dinikahi Om Duda
Bab 49


__ADS_3

Lizi masih duduk di kursi setelah menghabiskan satu porsi spaghetti yang dibuat oleh sang suami. Sedangkan Farez langsung pergi mandi setelah selesai sarapan.


"Gak perlu dicuci, taruh aja di sana!" ucap Farez bangkit berdiri dari kursi. "Nanti juga ada yang beresin!" lanjutnya singkat kemudian pergi.


Lizi hanya mengangguk sambil menatap punggung Farez yang perlahan menjauh. Diingat-ingat, setiap pagi memang ada seorang wanita paruh baya yang datang ke rumah Farez. Mungkin, wanita itu yang bertugas membantu Farez membersihkan rumahnya.


Secara, rumah ini memang jarang ditempati, Farez hanya datang sesekali untuk melihat situasi indekosnya. Namun entah hal apa yang tiba-tiba membuat Farez tinggal di rumah ini selama dua bulan terakhir.


Setelah selesai membersihkan meja makan, penyakit jahil Lizi mendadak kambuh, setelah membayangkan sarapan dengan roti sobek yang ditambah sosis dan mayo.


Lizi berjalan mengendap, melihat situasi kamar mandi dengan gemericik air dan pintu yang tidak dikunci. Lizi pun iseng mendorong pintu itu, lalu masuk dengan perlahan.


Waa Su Koi! (Besar – Jepang)


Dilihatnya si Juno yang sedang gondal gandul saat Farez menggoyangkan kepala, membersihkan sisa shampo di rambut sambil menyibakkan. Pemandangan indah di depan mata itu langsung membuat Lizi menelan salivanya kasar.


Dia berdiri dengan posisi sempurna tanpa busana. Badan dengan otot-otot kekar, lengkap dada bidang 6 kotak yang begitu menggoda. Gemercik air dari shower seakan jadi pemanis, dari pemandangan yang dilihat Lizi.

__ADS_1


Ah … Pak Suami. Gue akuin ganteng dan macho mu emang … maximal! Masa bodo sama umur tua dan kekolotanmu itu. Yang jelas, gue sekarang udah … Saranghae!


Farez melirik, menatap Lizi diam terpaku sambil menyipitkan mata, melihat ke arah Juno yang sedang menunjukkan kegagahannya. Dia langsung mematikan kran, menarik tangan Lizi hingga tubuhnya tersudut di tembok.


"Aahh!" serunya kaget dengan gerakan Farez yang tiba-tiba.


"Ngapain?" tanya Farez sedikit ketus.


Sudah terlanjur mengintip dan ketahuan, Lizi tidak ada cara lain selain menggoda Farez. Dengan santai ia meletakkan satu tangannya di dada Farez, dan satu lagi bertegur sapa dengan Juno.


"Mau sarapan!" godanya senyum menyeringai.


"Aku … pengen sarapan sosis … dan mayo!" godanya sekali lagi.


Namun ekspresi Farez masih sama, datar dengan kedua mata yang menyipit. Bahkan saat Lizi mulai membelai Juno sambil menggigit bibir bawahnya, seolah ingin menunjukkan wajah sensualnya.


"Oh, gak jadi nasi pecel?"

__ADS_1


Seketika, raut wajah Lizi berubah kecut. Ia bahkan melepaskan Si Juno dengan kegagahan yang tiada tara itu begitu saja. Dia memanyunkan bibir, lalu pergi dengan kesal.


Namun sebelum Lizi beranjak lebih dari dua langkah, Farez mencekal tangannya. "Gak tanggung jawab!" ucapnya singkat lalu mencium bibir Lizi dengan brutal.


Belum sempat Lizi berkata sesuatu lantaran bibir Farez yang terus menciumnya tanpa ampun. Kini, tali bathrobes itu sudah terlepas begitu saja dalam satu kali tarik.


Soal lepas melepas, Farez memang tidak diragukan lagi. Keahlian ini, tidak bisa diturunkan ke siapa pun termasuk sang istri sendiri.


Sudah dibilang, jangan ganggu macan kalau lagi mandi. Bebal! Begini kan hasilnya?


"Pa-Pak Su, kita gak bisa ganti setting tempat gitu?" tanya Lizi polos saat Farez melepas panggutan bibirnya.


"Engak! Kita perlu praktek gaya baru, Sayang!"



Tenang tenang, masih terus di Gas 😌

__ADS_1


Kopi mana Kopi? butuh banget buat ilangin aus nii 🤣


__ADS_2