
"Lalu yang itu?"
"Itu punyaku, bukan hasil warisan!"
Lizi mengangguk beberapa kali, lalu mengambil paper bag dengan logo Mac, mengobok-obok bagian dalam dan mengambil dua burger dari sana. Setelah mendapat jawaban yang sebenarnya kurang memuaskan, tapi Lizi sendiri sudah tidak bisa berkata apapun lagi. Gadis dengan rambut tergerai bebas itu lebih memilih untuk sarapan dan menambah tenaga.
Ya, pada akhirnya, dua burger dengan satu mangkuk sup berhasil dilahapnya hanya dalam setengah jam. Lalu beberapa menit kemudian, berhasil membuatnya terlelap.
Melihat istrinya tidur, Farez justru lega. Dia sendiri juga tidak tahu kenapa, mungkin salah satunya karena tingkah absurd dan kekonyolan Lizi yang sudah mencapai ambang batas normal. Namun bagaimanapun, gadis yang sedang terlelap dengan bibir sedikit terbuka itu berhasil mencuri hatinya.
Tiga jam berkendara, akhirnya mereka keluar dari Tol Lingkar Luar, dan segera melipir ke arah Blok M. Salah satu kafe disana sempat di sebutkan oleh rekan Farez di telepon.
"Ya, aku baru keluar tol – tunggu di dalam saja – Ya, oke."
Suara Farez yang sedang berbicara di telepon tanpa sengaja membangunkan Lizi. Dia sempat mengerjap, lalu menoleh mengawasi jalanan yang pasti tidak asing baginya.
Itu adalah kawasan Blok M, tempat biasa dia sering mangkal, eh, bekerja maksudnya. Ya, tempat ia biasa menawarkan rokok di malam hari sebagai Sales Promotion Girls.
"Udah sampe di Blok M, nih? Padahal baru merem!"
"Kamu yang merem mana terasa?" ledek Farez santai, tapi berhasil membuat Lizi memanyunkan bibirnya.
Sudah sampai di kawasan Blok M, hanya tinggal belok kanan di bundaran, lalu lurus ke arah barat dan sampailah mereka di Indekost. Namun saat sampai di bundaran, Farez justru mengambil arah yang sebaliknya.
"Loh loh, Pak! Eh, salah, Mas!" ucap Lizi sedikit panik. "Kan belok kanan?"
__ADS_1
"Mau ke Gedebruk dulu, ketemu temen," jawab Farez santai sambil terus menyetir.
"Oh, gak anter pulang dulu?"
"Ngak perlu, sekalian kita makan siang di Solsola. Jadi di rumah gak perlu order SapiPod lagi."
Setelah mendengar penjelasan Farez, Lizi sendiri bukannya tidak mau menolak. Namun saat itu cacing pita di perutnya sudah melambai lambai. Jika dibiarkan, pasti mereka semua akan demo menuntut hak dan keadilan. Oleh karenanya, Lizi dengan senang hati ikut tanpa protes sedikitpun.
Percayalah, hanya makanan yang bisa membujuk gadis dengan kearifan lokal, tapi absurdnya sudah internasional.
Mobil mereka pun telah terparkir sempurna di area parkir sebuah coffee shop terkenal dan cukup fenomenal bernama Gedebug. Yah, coffee shop yang akhir-akhir ini selalu menjadi perbincangan lantaran logonya cukup Instagranebel.
Lizi baru turun, dan berjalan di samping Farez, saat tiba-tiba mata tajamnya melihat sosok wanita dengan rambut menjuntai panjang.
"Mar! Mar!" Panggilnya sambil melambai, membuat gadis berambut panjang itu menoleh.
Mau ditahan bagaimana lagi, tangan pun belum sempat dia cekal, tapi Lizi sudah berlari lebih gesit. Pada akhirnya, Farez masuk ke dalam Coffee Shop sendirian.
"Sama siapa, Mar?" tanya Lizi menyapa Marimar sambil bercuap-cuap manja, kiss pipi kiri dan kanan.
"Biasa, Trio EM," jawab Marimar santai. "Lu sama siapa tadi? Kayak gak asing?" Marimar yang tidak melihat wajah Farez, rupanya cukup penasaran.
"Oh, tadi itu … temen." Lizi sedikit gugup, tapi mencoba sedikit tenang agar Marimar tidak curiga. "Terus, mana Maryani sama Mersendes?"
"Itu di dalem. Masuk aja deh, mereka nyempil di pojok kek upil! Gue lagi nunggu si Pika nih, mau ngasih kunci."
__ADS_1
"Gue masuk dulu deh kalau gitu, mau numpang wifi. Biasa, berondong udah melambai-lambai."
Pada akhirnya, Lizi memutuskan masuk lebih dulu untuk bertemu sisa dari trio EM yang selama ini sudah menjadi teman baiknya.
Gass poll, lantaran dikejer kejer setoran 🤣
Mana jempolnya, goyang dulu biar makin ashoyy ...
Vote dan hadiah jangan sampai lupa.
Judul : PEKA
Author : Oktiyan
Di sebuah kampus mewah, tepat di ruang loby itu tiga anak muda terlihat sedang duduk beralaskan karpet di bawah pohon. Buku-buku pelajaran terbuka, sementara remah remah makanan ringan berceceran di atas meja.
Langkah Hanna dihentikan oleh sebuah tangan, Hanna terdiam pasi, kala sebuah akar yang tiba saja melilit kaki kanannya, jelas ia lihat benda kenyal seperti tangan menempel ke kakinya baru saja.
Saat itu remang remang. Sehingga tidak terlalu jelas apa yang ada di sekitar. Pandangan Hanna dipalingkan ke kiri dan ke kanan, tapi tak terlihat seorang pun. Hingga ia menatap atas atap pohon besar, tepat diatas kepalanya.
Sosok itu jelas mengeluarkan suara lidah, Hanna tiba saja menatap atas kepalanya. Begitu terdengar kaget, ketika dari ujung pohon sebuah lidah panjang menjulur menghampiri wajah Hanna.
__ADS_1
Aaaaarrrrgh!! teriak Hanna saat itu, tanpa sadar suaranya mengecil dan wanita berwajah lidah melilit lehernya dengan darah yang menetes bau amis, membuat Hanna mual dan ingin muntah. Tapi saat berteriak Hanna tiba sudah berada di berbeda tempat.
Yuks! intip kisah Hanna indigo tersesat dihutan acara camping. Judul 👉 "PEKA."