Dinikahi Om Duda

Dinikahi Om Duda
Bab 22


__ADS_3


Melihat Pak Bakti mengayun-ayunkan keris pusakanya sambil keluar rumah, Farez yang pada saat itu menunggu di mobil pun langsung turun. Sedangkan Lizi dan Bu Eja berteriak menyusul di belakang.


"Selamat siang, Pak," sapa Farez ramah mengulurkan tangan.


Kemilau wajah tampan, dengan gigi putih yang tersusun rapi, alis tebal dan rambut hitam pekat. Membuat Pak Bakti menelan salivanya dengan paksa dan menjabat tangan Farez.


"Siapa kamu?" tanya Pak Bakti dengan nada tinggi.


"Farez, Farez Febian, Pak."


Kedua manik mata Pak Bakti menatap tajam, melihat Farez dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tak beberapa lama, dia berteriak memanggil Bu Eja yang tiba-tiba berhenti di depan pintu rumah.


"Gowo sek kerisku!" (Bawa dulu kerisku) Pak Bakti menyodorkan keris dan langsung diterima Bu Eja. Lalu, ia membetulkan sarungnya sambil terus menatap Farez.


Setelah sarung keramat dengan logo Kuda Duduk itu sudah rapi, ia meraih tengkuk leher Farez yang tingginya tidak jauh beda.


"Berapa umurmu? Suka kopi? Ngerokok?" Pak Bakti mengajak Farez berjalan ke kursi yang berada di halaman, dekat dengan kolam ikan.


Bu Eja tentunya bisa menarik napas lega. Namun Lizi, justru terperaga karena terlalu takjub dengan apa yang ia lihat. Bagaimana tidak, seorang ayah yang dia kenal sebagai sosok yang garang, bahkan selalu melarangnya untuk menjalin kisah asmara, justru dengan mudahnya luluh begitu saja.


"Jadi gimana, Buk?" tanya Lizi menatap Bu Eja.


"Terserah ayahmu saja lah, dia juga kelihatannya kalem, ngak neko-neko." Bu Eja yang duduk di kursi sesekali menatap suami dan calon menantunya yang berbincang di luar.


Ngak neko-neko gimana? Gak tau aja kalau anaknya ini selalu dibuat kalah telak.

__ADS_1


Baru sebentar Bu Eja dan Lizi bercengkrama membahas tentang pertemuan Lizi dengan Farez, dua buah mobil berbondong-bondong masuk secara bergantian ke pekarangan rumah mereka.


Mampus! Mereka udah datang lagi!


Setidaknya ada sekitar enam orang keluar dari kedua mobil secara bergantian, yang langsung disambut hangat oleh Pak Bakti di depan rumah bersama Farez. Pak Bakti bahkan langsung menyuruh mereka masuk tanpa banyak percakapan.


"Jadi ya begini, karena mendadak, tidak ada persiapan apapun," ucap Bu Eja yang ikut bergabung setelah membuat teh dan camilan.


"Tidak apa-apa, Bu. Saya juga baru di hubungi Farez dua hari lalu, katanya mau minta tolong buat temenin lamar Neng Lizi," sahut pria paruh baya yang umurnya tidak berbeda jauh dengan Bu Eja.


"Bapak ini, orang tua dari Farez?"


"Oh bukan, Bu. Saya Setyo, pamanya Farez dafi pihak ayah, dan ini istri saya, Siti." Pak Setyo memperkenalkan diri. "Lalu ini Serin, bibinya Farez dan juga suaminya."


Bu Eja sempat menoleh menatap anaknya. Dalam benak kedua wanita itu, pasti mempunyai pertanyaan yang sama tentang orang tua Farez.


"Maaf, Pak, Bu. Kedua orang tua saya sudah meninggal, jadi hanya keluarga dari Ayah saja yang bisa datang, sedangkan keluarga ibu semua tinggal di luar negri.


"Gak masalah, yang penting ada pihak yang menemani kamu." Pak Bakti mencoba mencairkan suasana yang sedikit tegang.


"Jadi, Bapak dan Ibu berkenan menerima lamaran ini?" tanya Farez langsung menjurus pada maksud kedatangannya.


"Pernikahan itu kehidupan dua orang. Selagi mereka nyaman, saling sayang dan cocok, sebagai orang tua juga harus mendoakan yang baik," Pak Bakti turut menimpali.


Jawaban Pak Bakti dianggap sebagai awal yang baik bagi hubungan mereka. Namun bagi Lizi itu adalah awal dari nestapanya. Nestapa enak yang ditolak, tepi akhirnya juga nikmat.


Setelah berdiskusi, sedikit lebih lama mengenai acara pernikahan yang akan diadakan di Jakarta. Pak Bakti seakan enggan, dia bahkan langsung memotong pembicaraan dan menyuruh istrinya untuk memanggil seseorang.

__ADS_1


Tidak sampai setengah jam, seorang pria berpakaian serba putih dengan peci datang bersama Bu Eja. Lalu, di susul seorang perempuan muda yang tidak lain adalah teman sepermainan Lizi, Lela.


"Tuh, ajak dia ke kamar ya!" Bu Eja berbisik pada Lela.


Setelah Lizi dibawa pergi oleh teman masa kecilnya itu ke dalam. Pak Bakti dengan sedikit tegas menjelaskan.


"Karena saya mau nikahnya disini, sedangkan kalian sudah mengurus disana. Kalau begitu hari ini nikah saja dulu, minggu depan baru urus berkas dan resepsinya. Kebetulan, pak penghulu sudah datang. Bagaimana, Nak Farez?" tanya Pak Bakti langsung ke intinya.


"Saya siap saja, Pak. Tapi bagaimana Lizi?"


"Sudah tidak usah di pikirkan itu. Biar Bu Eja yang urus." Pak Bakti mencoba menenangkan Farez.


Tidak butuh lama bagi mereka untuk menyulap ruang tamu menjadi tempat ijab kabul. Meski hanya kursi yang tersusun rapi dan terlihat sederhana, tetapi cukup layak dipandang.


Lizi yang belum tahu kabar membahagiakan ini pun juga selesai berdandan. Lizi tidak bertanya apapun, ia pikir, ini hanya acara lamaran biasa yang tiba-tiba berubah sedikit serius.


Dengan dres brokat putih yang kemarin dibelikan Farez, juga riasan sederhana yang terkesan natural, dia berjalan keluar bersama sang ibu.


Bu Eja lantas membawa Lizi duduk di kursi bersebelahan dengan Farez.


Tidak pikiran aneh dalam benaknya, sampai Farez dengan sikap sempurna dan berwibawa itu menjabat tangan Pak Bakti, kemudian mengucap qobul dalam sekali tarikan napas.


"SAH!!"



Niat cuma ngelamar doang nih, bisa-bisanya dipanggilin penghulu buat jadi saksi nikah 🤣🤣

__ADS_1


Pro banget si Pak Bakti.


Dahlah lanjut besok lagi 🤭🤭


__ADS_2