
Awan putih keabu-abuan seakan mendukung aksi dua sejoli yang sudah sah ini membajak sawah. Tidak malam, tidak pagi, keduanya masih terlena di mabuk nikmat. Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi sejak mereka bangun setengah jam yang lalu, dan Farez sudah kembali mencangkul sawah yang semalam ia bajak. Lagi-lagi, benih siap untuk disebar, dengan harapan akan tumbuh dengan subur.
Wah, si Om Duda satu ini getol juga. Malem udah gas pol, pagi pun masih punya tenaga buat genjot lagi!
"Om, Om! Udahan dong, encok nih!" Teriak Lizi dengan gaya setengah salto.
"Ssttt! Nanggung, bentar lagi juga selesai!" Farez masih getol memasukkan belut kualitas suoernya itu dengan gerakan itens.
"Ahh … Ikeh … Kimmochi." Dessah Lizi sedikit kencang, hingga Farez terpaksa memukul pantatnya cukup keras.
"Bisa lebih merdu gak sih?" Protes Farez.
"Loh, Om kok request! Kan aku yang di esek-esek! Terserah dong mau berkicau kayak apa!"
Ingin rasanya Farez menyumpal mulut sang istri yang baru kemarin siang ia nikahi. Namun, nikmat sudah mencapai ubun-ubun dan ia hanya bisa memukuli pantat Lizi sebagai gantinya.
"Ugh, Yes, Baby!" Teriak Lizi makin maracu tak tahu arahnya kemana.
Tak lama, Farez meraih mulut Lizi, membekapnya kuat-kuat dan … benih benih itu berhasil tersebar di dalam dengan sangat indah.
Puas dengan bajak membajak. Farez merebahkan dirinya begitu saja. Sedangkan Lizi masih menarik napasnya dalam-dalam akibat hentakan mendadak dari Farez.
Untung enak. Kalau engak, udah gue tendang lagi tuh belut sama telur-telurnya!
Lizi sempat menoleh, menatap Farez yang sudah menarik selimut menutupi belut andalannya itu sambil menutup mata. Kemudian ia berdecak, melepaskan segala kekesalannya akibat tipuan Farez.
Namun apa dikata, ibarat nasi sudah jadi bubur, ya sudah tinggal ditambah toping lalu dimakan. Begitu pula nasib pernikahan dadakan Lizi yang juga harus dia nikmati.
"Pak, Om. Saya mau tanya!" kata Lizi yang justru diabaikan oleh Farez. Kesal karena diabaikan, ia pun mengulang panggilannya sambil mentoel belut yang tertutup selimut. "Mas!"
Farez akhirnya membuka mata dan menatap Lizi. Namun bukannya menjawab, ia justru menarik tangan sang istri hingga ia jatuh dalam pelukannya.
__ADS_1
"Nanti aja tanyanya! Ayo tidur, ini masih pagi!" Farez dengan santai memeluk sang istri, lalu menutup matanya kembali.
Dilihat-lihat juga ganteng. Ya untung ganteng, jadi gak malu juga di bawa ke kondangan!
Lizi kembali menarik selimut, menutupi tubuhnya yang tak memakai apapun sejak semalam, lalu perlahan menutup matanya, mendekap Om duda yang terlanjur membuatnya enak.
Rasa-rasanya baru sebentar Lizi menutup mata, namun cahaya mentari yang menembus celah tirai terlihat begitu terang. Dia perlahan mengerjap, melihat sisi sampingnya yang kosong.
Gemericik air terdengar dari dalam, tidak terlalu jelas, tapi cukup memberinya tanda jika sang suami berada di dalam. Setelah melihat arah kamar mandi, Lizi menoleh ke samping untuk mengambil ponsel yang ada di atas nakas.
Baru sebentar ia memegang ponsel dengan logo nanas sobek, ketika samar-samar pintu kamarnya di ketuk.
"Permisi, Service Room." Suara samar seorang pria terdengar.
Lizi hendak menyingkap selimut, tetapi Farez yang baru keluar dari kamar mandi menghentikannya. "Sedang apa kamu?" tanya Farez.
"Mau buka pintu," jawab Lizi dengan mata yang masih terasa cukup berat.
Aahh!! Abis enak-enak lupa pake baju.
Lizi langsung duduk dan menarik selimutnya lagi, sedangkan Farez menggeleng heran lalu pergi membuka pintu.
"Terima kasih, Mas! Biar kubawa masuk sendiri saja," ucap Farez mengambil nampan berisi makanan.
"Baik, Pak. Selamat menikmati."
Farez segera menutup pintu kamarnya kembali, lalu meletakkan nampan penuh makanan itu di atas meja.
"Cepat mandi, terus makan!" seru Farez yang sudah duduk di sofa menikmati makanan.
__ADS_1
Bukan Lizi namanya jika tidak bebal. Gadis yang baru merelakan kegadisannya itu meraih bathrobes dan memakainya. Lalu, tanpa membasuh muka ia berlari dengan sedikit mengangkang dan duduk di samping Farez.
Farez sendiri rasa-rasanya juga sudah mulai terbiasa dengan sikap istrinya yang memang rada-rada, beda dengan wanita yang lain. Absurd, konyol dan agak … somplak. Mungkin saat pembagian sikap feminim, dia melipir ke bagian yang lain.
"Pak, habis ini langsung pulang?" tanya Lizi menatap Farez.
"Kenapa? Betah disini?"
Lizi mengedikkan bahu, "Betah gak betah sih, tapi … encok, Pak. Bapak mainnya gas poll, kan dedek masih amatir!"
Farez yang sedang minum tersedak mendengarnya. Dia menoleh, menatap Lizi yang justru santai setelah mengatakan hal demikian. Bahkan, wanita itu sempat-sempatnya menggoda Farez dengan mengedipkan satu matanya.
Pria yang masih memakai bathrobes itu berdiri, berjalan ke sisi nakas dan mengangkat gagang telepon.
"Iya, Hallo … perpanjang satu malam lagi, ya. Baik, terima kasih," kata Farez berbicara dengan resepsionis.
Setelah menyelesaikan panggilannya, Farez meletakkan kembali gagang telepon itu. Lalu, ia berbaring miring dengan berpangku satu tangannya.
"Sudah perpanjang satu malam!" Farez mengulurkan tangan, membuka jari telunjuknya lalu menggerakkannya. "Ayo, istriku! Kita gas poll lagi!"
UHUK!!
Lizi seketika menyemburkan nasi goreng yang baru masuk ke dalam mulutnya saat mendengar ucapan Farezz.
Gass poll ye, Om 🤣🤣
Encok encok deh 🤭🤭
Jempol jangan lupa di goyang dulu. Sajennya apa lagi, semakin banyak di tabur, semakin banyak UP-nya.
__ADS_1
Bo'ong ding 🤣🤣