Dinikahi Om Duda

Dinikahi Om Duda
Bab 56


__ADS_3

Setelah aksi berkembang biak yang menguras tenaga dan banyak keringat. Keduanya terlihat berbaring bersama, Lizi berbaring membelakangi Farez, sedangkan Farez terlihat memeluk tubuh sang istri dari belakang.


"Jadi, kita berdamai nih?" tanya Farez tiba-tiba.


"Emang sejak kapan kita bertengkar?"


Jawaban Lizi lagi-lagi berhasil membuat tingkat stres dan sabar Farez sampai di ubun-ubun. Setelah drama panas yang berhasil menghebohkan para pembaca lantaran aksi Lizi untuk menjadikan Farez duda kedua kalinya, dia seolah amnesia dalam waktu singkat.


"Oh, jadi kamu lupa, Sayang? Si Juno masih tahan untuk ronde kedua loh," goda Farez lalu menggigit cuping telinga Lizi hingga ia mengaduh.


"Ya udah iya, kita damai!"


Padahal minta cerai karna udah terlanjur malu. Dia baik banget, lah gue? Sudah lah, jalanin aja.


Farez mengeratkan pelukannya, mendekap Lizi seakan takut jika sang istri kabur. Sangking dekatnya, si Juno yang sedang tidur sampai menyentuh bagian belakang Lizi dan tegak kembali.


Dua mata Lizi langsung membulat penuh saat ia merasakan kedutan dari Belut Super milik sang suami yang diberi bernama Juno. Kedutan yang semakin lama semakin menegang, dibarengi dengan dekapan Farez yang semakin liar.


"Sayang, aku nambah lagi ya," ucapnya santai lalu membalik tubuh Lizi dan menindihnya dalam sekali gerakan.


"Na-nambah? Pak, ini bukan prasmanan!"


Namun protes Lizi tak didengar. Farez kembali bersiap ingin melanjutkan aksi pacuan kuda, yang ronde pertamanya baru selesai satu jam yang lalu.


Ia mengangkat satu kaki Lizi ke atas, lalu mempersiapkan Belut Super andalannya yang sudah siap bertempur. Dengan pelan memasukannya ke dalam gua tempatnya bersarang tanpa mengukur suhu dan kelembaban.

__ADS_1


Mendapat serangan yang sebenarnya tidak tiba-tiba, membuat Lizi menggelinjang hebat. Meski sudah berulang kali belut itu bertegur sapa, tapi sensasi yang ditimbulkan selalu bisa membuat desahnya kembali lepas.


Ranjang kembali berguncang, dessah dan racauan kembali terdengar memenuhi seisi kamar. Keringat mereka kembali menetes, bersamaan dengan magma putih yang berhasil tersembur dengan sempurna, menghangatkan tuba falopi.


"Oh, yeah!" Racau Farez saat Belut Supernya mentok dan berhasil mengeluarkan benih-benih calon anaknya kelak.


Hari belum terlalu sore saat itu, ditambah rintik hujan yang tiba-tiba datang tak diundang, dan mereka sudah beraksi dua kali hari ini.


Lizi meraih beberapa lembar tisu, membersihkan sisa sisa calon anak dari Farez yang meluber melewati batas. Lalu dia bangkit dari tidurnya dan berdiri.


"Mau kemana, Sayang?" tanya Farez melihat Lizi meraih sarung Farez dan memakainya.


"Haus, dari tadi digenjot mulu gak ditawarin minum!" jawab Lizi langsung berlalu pergi.


Pada akhirnya Lizi yang berbalut sarung itu turun ke bawah mengambil minum untuk melegakan tenggorokannya. Namun meski dia sempat kesal lantaran ketidak pekaan sang suami, ia tetap kembali sambil membawa segelas air.


"Nih, Pak!" Lizi menyodorkan segelas air pada Farez yang sedang bersandar sambil melihat ponselnya.


Farez terlihat menghela napas panjang saat Lizi memanggilnya 'Pak' seperti barusan. Rasa-rasanya, dia tidak terlalu tua untuk mendapat julukan seperti tadi.


Dengan lembut ia mengambil segelas air dari tangan Lizi, lalu menarik tangan sang istri hingga membuatnya duduk di tepi ranjang.


"Kenapa kamu terus panggil aku pak? Apa menurutmu aku tua?" tanya Farez yang kemudian meneguk air yang tadi diberikan oleh Lizi.


Setelah Lizi pikir, ditimbang, dan dianalisa. Farez memang tidak terlalu tua untuk mendapat julukan itu. Hanya saja, panggilan itu sudah melekat begitu saja, terlalu susah untuk dirubah.

__ADS_1


"Susah loh, Pak. Udah kebiasaan," elak Lizi.


"Ya udah, panggil apa aja selain itu!"


"Om … Mau?" jawab Lizi santai.


"Dikira sugar daddy?"


Lizi menghela napas kasar, mencoba memutar otaknya agar bisa berpikir lebih jernih untuk memanggil sang suami.


"Kenapa gak boleh itu sih, Pak? Padahal kemaren ada yang usul Pak Su dan Bu Is," terang Lizi menatap Farez sambil melipat tangannya ke dada.


"Apaan tuh Bu Is?"


"Bu Is-tri." Lizi langsung tertawa terbahak-bahak.


"Jadi, kamu mau dipanggil Bu Is?"


Lizi seketika terdiam, matanya datar menatap ke arah Farez. Dan kini, giliran Farez yang tertawa puas saat melihat ekspresi wajah Lizi.



Nungguin sajen dulu lah 🤭🤭


Kalau udah ngumpul baru lanjut 🤭

__ADS_1


__ADS_2