
Ting
Bunyi lift seketika membuyarkan ketakutan Lizi, dia pun langsung buru-buru masuk ke dalam lift dan beberapa kali menekan tombol agar pintu segera tertutup. Dia terus memencet tombol tanpa putus asa, meski di depan matanya, sang suami berdiri sambil menaikkan satu sudut bibirnya.
Sudah tahu itu usaha yang sia sia, tapi tetap saja dia lakukan untuk menghindari amukan Farez. Namun raut wajah Farez yang tadi sempat meradang, entah kenapa tiba-tiba menjadi tenang. Dengan santai ia masuk ke dalam, selangkah demi selangkah, berhasil membuat Lizi berjalan mundur ke belakang.
Mata tajamnya masih memandang Lizi, saat tangan kanannya menekan tombol dan pintu seketika tertutup. Setelah memastikan pintunya tertutup dengan sempurna, Fares kembali berjalan maju dan membuat sang istri terpojok di dinding.
"Ba-bapak mau ngapain?" Lizi terlihat gugup, dengan keringat yang keluar sebulir bulir jagung. Percayalah, amukan Farez bukanlah hal yang dia takutkan, melainkan kekuatan Belut Super bernama Juno.
"I-ini, kita sedang ada di lift, Pak!" lanjutnya diam diam melirik ekspresi Farez yang tersenyum menyeringai. "A-ada CCTV!" gertaknya.
"Oh, kamu peduli dengan CCTV setelah mencolek pantat seorang wanita?"
Perkataan Farez seketika membuat Lizi kalah telak, bahkan sebelum ia berhasil menodongkan senjata. Namun rupanya, hari ini bukan hari sial baginya. Disaat seperti ini, pintu lift menjadi penolong baginya.
Saat melihat pintu lift terbuka, Lizi seperti mendapat kesempatan dalam kesempitan, dengan cepat ia mendorong tubuh Farez dan lari tunggang langgang. Namun sialnya, dia tidak membawa Key Card. Pantas saja, Farez membiarkan Lizi berlari meninggalkan dirinya begitu saja. Rupa-rupanya, kartu AS berada dalam tangannya.
Menyadari jika tidak membawa Key Card, dia pun lantas menoleh. Saat itu Farez terlihat berjalan dengan santai, satu tangannya bahkan ia masukkan ke dalam saku.
Lizi, Lizi! Absurd banget idup lo!
"Kenapa? Gak bisa masuk?" tanya Farez dengan nada mengejek.
__ADS_1
Lizi hanya mendengus, antara kesal, malu dan jengkel. Semua seperti tercampur aduk, tapi bagaimanapun, beras sudah menjadi nasi dan bubur. Jadi, nikmati saja.
"Ya sudah tunggu apa? Buka pintunya!"
Saat pintu sudah dibuka, Farez berjalan lebih dulu. Setelah masuk, ia berbalik, menjulurkan jari telunjuk dan menggerakkannya naik turun. Seakan mengejek sang istri untuk masuk ke dalam dan segera memulai rapat untuk mencapai mufakat.
Nih duda … salah, mantan duda. Gak bakal langsung sikat gue kan? Baru selesai spa nih, kan mubazir kalau langsung di sikat!
Glek!
Sambil melangkah masuk, Lizi menelan salivanya. Berharap dia tidak menjadi kelinci kecil lugu dan polos yang terjebak masuk ke kandang buaya jantan. Harap harap, buaya itu sedang tidak birahi pada saat ini.
Melihat Lizi yang berjalan, namun seperti merayap, membuat kesabaran Farez lagi-lagi di uji oleh sang istri. Bagaimana tidak, sudah beberapa detik, dan Lizi baru sampai di ambang pintu.
Farez yang jengkel pun langsung menghampiri Lizi, menarik tangannya, lalu membopong tubuh tubuh kecil sang istri.
Namun Farez tak menggubris, dia segera menutup pintu dengan kakinya, lalu membawa Lizi ke atas ranjang dan melemparkan tubuh kecilnya.
"Ah!" Jerit Lizi. "Bapak gak bisa lebih lembut sedikit? Frontal sekali, kan aku masih kecil, Pak!" Lizi menarik selimut langsung menutupi dadanya, takut jika buaya jantan di hadapannya ini tiba-tiba menyerang.
"Hentikan memanggilku bapak!" Hela napas Farez terdengar sangat jelas setelah mengatakan demikian. Entah kenapa, Farez tiba-tiba jadi keberatan saat Lizi memanggilnya demikian.
"Dan satu lagi, kamu …." Farez menunjuk Lizi dengan sorot mata tegas, tapi tiba-tiba menghentikan kalimatnya.
__ADS_1
"Aku sudah pesan makan! Terima itu nanti!" ucapnya kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Lizi yang sejak tadi sudah bersiap dengan pertempuran ala negeri Konoha, tiba-tiba terkejut saat Farez melepaskan dirinya begitu saja.
"Udah gitu aja? Gue pikir bakal ada perang atau rapat," ucapnya lirih sambil mengendurkan selimut yang sejak tadi menutupi setengah dadanya.
Sebenernya, dia juga ada baiknya sih, dikit tapi.
Gak tau kenapa, UP babang Die agak susah daro sore. Review gak kelar-kelar 😪
Jempol jangan lupa digoyang, Guys
Judul : Gairah Cinta Sang Presdir
Author : Desy Puspita
Tampan, kaya, berkuasa dan sempurna. Tiada kurangnya seorang Mikhail Abercio, tak pernah ia duga kesempurnaan yang ia miliki ternyata belum cukup untuk mendapatkan kesetiaan dari seorang wanita.
Dikhianati sang kekasih dan melihat dengan mata kepalanya sendiri wanita yang dia cintai tengah bercinta bersama sahabatnya di apartemen membuat Mikhail Abercio merasa gagal menjadi laki-laki. Sakit, dendam dan kekacauan dalam batinnya membuat pribadi Mikhail berubah 180 derajat bahkan sang Mama angkat tangan dengan ulah putranya.
__ADS_1
Hingga, semua berubah ketika takdir mempertemukannya dengan gadis belia yang merupakan mahasiswi magang di kantornya. Valenzia Arthaneda, gadis cantik yang baru merasakan sakitnya menjadi dewasa tak punya pilihan lain ketika Mikhail menuntutnya ganti rugi hanya karena hal sepele.
"1 Miliar atau tidur denganku? Kau punya waktu dua hari untuk berpikir," bisik Mikhail Abercio sebelum kemudian kembali duduk ke kursi kekuasaannya. Dia tidak suka basa-basi, apalagi jika harus membuang waktu dengan gadis ingusan seperti Valenzia.